"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Pemberdayaan Perempuan

Belajarlah dari Siti Hajar, Jangan Minta Cerai

Belajarlah dari Siti Hajar, Jangan Minta Cerai

“Umi…aku mau gugat cerai!” seorang perempuan cantik berusia 40 tahun duduk dihadapanku dan langsung mengutarakan isi hatinya.

“Hmm….yakin?” jawabku segera. Ini bukan pertamakalinya dia datang dan curhat seperti ini. Setiap kali suaminya pergi dia akan datang padaku dan mewek begini, namun jika suaminya pulang maka niat tersebut hilang begitu saja. Berganti dengan sanjungan dan harapan. Nisa, sebut saja namanya begitu.

“Ini lebaran yang kesepuluh Umi, dia tidak pulang. Seharusnya dia bisa berbagi, giliran. Jika lebaran idul fitri di sana, nah..lebaran idul adha seharusnya di sini, bersamaku.”

Nisa isteri kedua Pak Ahmad, seorang saudagar kopi yang cukup terpandang. Mereka sudah dikarunia dua orang putra dalam sepuluh tahun pernikahannya. Isteri pertama Pak Ahmad bernama Rara, tinggal di Kabupaten sebelah. Dia baru dikarunia anak perempuan setelah Ahmad menikahi Nisa lima tahun yang lalu. Rara seorang ibu rumah tangga biasa yang hanya tamat Sekolah Dasar. Rara mengizinkan suaminya menikah lagi, karena saat itu mereka belum memiliki momongan.

Aku memandangi wajah kuyu Nisa yang tetap cantik meski tanpa kosmetik. Ini hari kedua setelah lebaran Idul adha 1441 H. Nisa bertandang padaku hanya ingin menangis. Menumpahkan kesedihannya.

“Sudahlah….sabar…kau tahu mengapa ada lebaran idul adha? Ada cinta dan pengorbanan di sana” ujarku sembari mengelus bahu kanannya, memberi empati.

Tulisan ini aku persembahkan untuk perempuan Kepahiang yang sedang gamang dan gelisah dengan hidupnya. Perempuan yang menyandang status sebagai isteri kedua, sebagai kepala keluarga atau sebagai tulang punggung keluarga. Mari kita belajar kepada Ibunda Siti Hajar. Kisah nyata yang dapat menguatkan kita semua.

 

Siti Hajar, perempuan mulia yang dikenang sepanjang masa. Dia viral di langit dan di bumi. Bukan karena elok rupa ataupun bentuk fisiknya, melainkan karena perjuangan, kesabaran dan kekuatan yang ia miliki. Kisahnya abadi dan diikuti oleh masyarakat muslim dalam melaksanakan ibadah haji dan umroh. Pada saat memasuki Makkah untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah, kita akan melakukan Sa’i yaitu berjalan dan berlari sebanyak tujuh kali antara Shafa dan Marwah. Di bukit antara Shafa dan Marwah sepanjang 450 meter inilah terkandung kisah keimanan yang pertama dari seorang isteri yang ditinggalkan suaminya di tempat yang tidak ada sarana untuk hidup. Perempuan itu adalah Siti Hajar, isteri kedua Nabi Ibrahim as dan ibu dari Ismail.

Awalnya pernikahan Siti Hajar berjalan sebagaimana keluarga lainnya. Bahkan pernikahan itu mendapat restu dari Siti Sarah, isteri pertama Ibrahim. Siti Sarah pula yang memilih Siti Hajar menjadi madunya karena di usia senja dia belum mendapatkan keturunan. Dia berharap, Hajar dapat memberikan seorang putra untuk suami yang sangat dicinta.

Namun, Sarah tetaplah seorang perempuan yang memendam cemburu. Dan, ketika Siti Hajar, madunya, melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ismail, Sarah pun diliputi rasa cemburu itu. Ia pun berjanji tidak akan mau tinggal dengan Hajar dan anaknya dalam satu atap.

“Iya…itu terjadi padaku Umi. Kami menikah resmi, tercatat di KUA karena isteri pertamanya merestui. Tapi pernikahan ini tidak seperti yang aku impikan Mi. Mas Ahmad hanya sesekali pulang. Dia juga jarang memberiku nafkah. Sekolah anak-anak aku semua yang biayai. Aku mau pisah aja Umi…” Nisa bertambah mellow dengan kisah Siti Hajar yang kuceritakan.

Nisa, perempuan kuat. Sebelum menjadi isteri kedua Pak Ahmad, dia sudah pernah menikah. Namun suaminya meninggal akibat kecelakaan tunggal. Lima tahun dia menjanda dengan satu orang anak. Nisa memiliki keterampilan menjahit. Hingga saat ini ada puluhan mesin jahit dengan empat orang karyawan yang membantunya. Secara ekonomi penghasilan Nisa cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Mungkin itu juga yang membuat Nisa jarang menerima uang nafkah dari suaminya. Dan diapun merasa sungkan untuk meminta, meski itu adalah haknya.

“Jangan putus asa dulu…mari belajar lagi dengan Ibunda Siti Hajar” jawabku lagi sembari melanjutkan kisah penuh makna dari kehidupan perempuan mulia, Siti Hajar.

Saat kecemburuan isteri pertama Ibrahim semakin membuncah, datanglah perintah dari Allah SWT kepada Nabi Ibrahim agar membawa istri keduanya, Siti Hajar, dan bayinya, Ismail, ke tanah Makkah. Maka, mereka pun berangkat untuk menempuh perjalanan jauh. Ibrahim dan istrinya bergantian menggendong bayi yang baru lahir hingga tiba di tanah Makkah. Pada waktu itu Makkah sangat tandus. Tak ada pohon, tidak ada air, dan sepi dari manusia. Saat itu mereka melihat ada bukit berwarna merah, di atasnya terdapat bekas rumah tua dari dahan-dahan kayu yang sudah mengering.

Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan bayinya Ismail. Siti Hajar pun merengek sambil menangis agar suaminya tidak meninggalkan dia dan bayinya di tempat sepi dan menyeramkan itu. Namun, Nabi Ibrahim tak peduli. ‘’Kemana engkau akan pergi dan meninggalkan kami di padang pasir yang tidak ada manusia dan bahkan kehidupan ini? Apakah Allah yang memerintahkan kamu wahai suamiku?’’Siti Hajar bertanya kepada suaminya.

Tanpa menengok lagi kepada istrinya, Nabi Ibrahim pun menjawab singkat, ‘’Iya!’’

 

Tak ada lain yang bisa diperbuat Siti Hajar. Akhirnya ia pun berkata lirih penuh penyerahan diri kepada Allah SWT, ‘’Kalau begitu, Tuhan pasti tidak akan membiarkan kami.’’ Siti Hajar tampaknya yakin betul dengan janji Allah SWT. Dan, dalam diam, tanpa melihat lagi suaminya, ia pun menengadahkan wajahnya ke langit dan berdoa.

Sementara itu, dari kejauhan Nabi Ibrahim pun melakukan hal yang sama, menatap langit dengan mengangkat kedua tangannya dan berdoa, ‘’Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.’’ (Ibrahim: 37).

Menurut Muhammad Ali Sabouni dalam bukunya an Nubuwah wal Ambiya, sepeninggal Nabi Ibrahim, Siti Hajar hanya bisa pasrah. Ia merasa terhibur manakala melihat wajah bayinya yang manis dan memancarkan kasih sayang.

Pada awalnya ia tidak merasakan kesepian. Ia tidak menyadari kerasnya kehidupan di tengah lembah sunyi dan bukit bebatuan, hingga akhirnya ia kehabisan perbekalan hidup. Apalagi si kecil pun mulai kehausan dan kelaparan.Si ibu mulai panik. Air susunya pun sudah kering. Sedangkan si bayi terus menangis kelaparan dan kehausan.

Siti Hajar tampak bingung bagaimana mencari air. Dalam kebingungannya ia lari ke atas bukit dan melihat ke bawah. Ia melihat sebuah bukit lain, yang kemudian dikenal dengan Shafa, tampak dekat. Ia pun menuju bukit itu, barangkali melihat seseorang atau menemukan makanan dan minuman. Namun, ia tidak mendapatkan apa-apa.

Dari bukit Shafa, ia melihat bukit lain tampak dekat. Bukit itu kemudian dikenal Marwa. Ia pun berjalan menuju ke sana dan tidak mendapatkan bekas-bekas kehidupan. Ia berusaha bolak-balik di antara dua bukit itu hingga tujuh kali. Berusaha dalam bahasa Arab disebut sa’a. Dari kata inilah istilah sa’i diambil.

Setelah tujuh kali bolak-balik Shafa-Marwa, Siti Hajar pun kelelahan dan putus asa. Ia akhirnya ambruk di samping bayinya.Hatinya tercabik-cabik menunggu nasib. Ia berserah diri secara total.

Beberapa waktu kemudian ia bangun. Ia kumpulkan sisa tenaganya untuk melihat bayinya yang mungkin sudah meninggal dunia. Namun, tidak. ‘’Aku tidak melihat isyarat kematian anakku,’’ katanya lirih.

Demikianlah, Allah SWT telah mengutus Malaikat Jibril, dan dengan kedua sayapnya menyentuh tanah, sehingga muncul mata air yang mengalirkan kehidupan. Siti Hajar pun bangkit dengan sepenuh tenaga dan lupa apa yang baru ia alami. Ia segera mengambil air itu dan meminumkannya kepada bayinya, Ismail.

Kepada mata air itu, ia mengatakan, ‘’Zumi, zumi!’’ Air dan mata air itu kemudian dikenal sebagai Zam Zam, yang memberi kehidupan di tengah padang pasir tandus dan bukit bebatuan. Makkah yang berkemajuan kini pun sebenarnya berawal dari kisah perempuan ini.

 

“Tapi Umi…suamiku tidak sesoleh nabi Ibrahim. Dan aku juga tidak sempurna seperti Siti Hajar. Aku hanya perempuan biasa. Umurku sudah kepala empat, sudah tua. Aku ingin tenang memiliki suamiku sendiri. Paling tidak aku punya hak atas dia. Apalagi lebaran tahun ini ditengah pandemi. Suasana sangat sepi. Aku merasa kesepian Umi”…tanggis Nisa tak terbendung lagi.

“Aku ingin cerai!” suara Nisa meninggi.

“Jangan…jangan minta cerai Nis. Pikirkan lagi…meski suamimu tidak sesoleh Ibrahim, tidak bisa berlaku adil, tidak membuatmu bahagia. Bertahanlah. Minta keridhoannya. Karena ridhonya suami adalah ridhonya Allah. Jadikan suami sebagai tameng atas dosa-dosa kita di dunia.” Ujarku sedikit menasehati.

“Maksud Umi?” Nisa memandangku serius. Aku tersenyum, saatnya memberitahu Nisa sebuah rahasia. Rahasia perempuan yang sudah menikah dan tak merasa bahagia dalam pernikahannya. Untuk semua perempuan yang berstatus isteri. Menjadi isteri pertama, kedua, ketiga atau ke empat bukanlah aib. Karena islam mengizinkan dan mengatur hal tersebut dalam Alquran surat An Nisaa ayat 3. Apa rahasia besar itu? Jadikan suami sebagai tameng!

“Fungsi primer suami itu adalah untuk jadi tameng bagi dosa-dosa kita di neraka. Saat kita dapat ridho dari suami, maka semua dosa-dosa kita langsung dimaafkan sama Allah atas keridhoan suami tersebut. Jadi, suami duduk diem aja, itu sangat manfaat, tinggal kita aja gunakan fungsinya dengan maksimal. Lakukan apapun yang terbaik yang bisa dilakukan untuk dapatkan ridho suami. Dalam sebuah hadits shohih disebutkan ’Ayyumam roatin maatat wa zaujuha ‘anha roodhin dakholatil jannah’  Yang artinya ’Seorang istri meninggal dunia dan suaminya ridho sepenuhnya kepadanya, maka langsung masuk syurga’. Selebihnya, itu cuma fungsi-fungsi sekunder dari suami. Kejar dulu yang utama ini. Suami ngga kasih nafkah ya ngga apa-apa, yang penting sudah jadi suami Nisa. Jangan lepaskan, jangan dicerai. Biarkan dia jadi tameng saja bagi neraka. Kalau cerai, nanti Nisa langsung berhadapan dengan api neraka. Dosa-dosa  ngga ada yang menghapusnya, kecuali amalan Nisa sangat spesial dan udah ngga ada dosa sama sekali. Nisa tinggal cari ridhonya Pak Ahmad. Kalau memang Nisa selama ini yang cari nafkah ya ngga apa-apa. Semua harta yang Nisa berikan ke anak dan rumah tangga itu semuanya terhitung sedekah yang sangat mulia. Jauh lebih mulia daripada sedekah ke anak yatim.”

”Koq bisa lebih mulia dari anak yatim?”

”Ya karena anak yatim ini bukan bagian dari hidup kita. Memberikannya adalah sedekah yang hukumnya sunnah. Sementara suami, sudah terikat dengan akad nikah, sudah menjadi bagian dari Nisa. Silahkan dibagi sedekah untuk orang lain dengan sedekah untuk keluarga, tapi yang untuk keluarga, itu yang lebih utama.”

”Tapi, kalau suami zalim bagaimana? Dia bukannya miskin Mii…tapi duitnya untuk isteri pertama semua. Dia anggab aku ini sudah mandiri, bisa cari uang sendiri. Tapi aku kan punya hak untuk dinafkahi Mii”

”Ya ngga apa-apa juga. Tetap dipertahankan. Karena semua perbuatan zalim akan kembali kepada yang melakukannya. Suami akan menanggung akibat yang dilakukannya. Siksaan Allah sangat pedih bagi suami yang tega menyakiti keluarganya. Sementara Nisa fokus aja terus cari ridhonya suami.”

 

“Jadi…sampai kapan aku harus bertahan seperti ini?”

“Sampai Allah mengizinkan suamimu kembali dan membuatmu tersenyum ceria. Belajarlah dari Siti Hajar!” jawabku mengakhiri diskusi terapi hari ini.

Selamat Idul Adha 1441 H. Perempuan tangguh. Perempuan bahagia.

 

 

 

Suami Yang Telanjang

Suami yang telanjang

 

“Assallamu alaikum Mii…Umi buka terapi ya? Aku lihat artikel berdamai dengan diri sendiri yang Umi upload kemarin. Perasaan wanita di artikel itu sama seperti yang aku rasakan saat ini. Aku mau juga diterapi Mii” sebuah pesan masuk ke whatsApp pribadiku. Seorang sahabat yang sering mencetak buku karya ilmiah guru-guru Sekolah Dasar melalui Penerbit Yayasan Az Zahra Kepahiang.  Sebut saja namanya Melati.

“Wa alaikum salam wr.wb…Iya sudah setahun ini saya membuka layanan konseling, terapi energy” jawabku segera dengan tambahan emoji senyum, sebagai bentuk keramahtamahan.

“Aku mau mii…bisa nggak dibantu?” jawabnya lagi.

“Masih bisa ditahan perasaannya? Karena kita sedang puasa ini. Kalo konseling pasti kita bicara hal-hal yang menyakitkan dan tentang seseorang. Bisa mengurangi pahala puasa. Jika masih bisa dikendalikan perasaannya maka kita jadwalkan setelah lebaran,  atau minggu depan. Namun jika perasaan itu sangat menganggu,  bisa datang kapanpun Melati mau. Selagi umi tidak ada agenda di luar,  insyaallah siap membantumu”

“Ini benar sudah tak tahan lagi Mi,,kalau tidak diselesaikan cepat, akibatnya sangat buruk. Oh ya, aku mau tanya juga Mi, biaya terapi berapa Mi? Aku mau sampai selesai terapinya Mi.”

“Jangan pikirkan biayanya. Sehat yang utama. Bahagia bonusnya” jawabku kembali mengirim emoji penuh cinta dilayar chat itu.

“Aku takut nggak terbayar jasanya Umi yang insyaallah endingnya bahagia itu. Tapi aku pengen banget Mi diterapi”

“Sudahlah,…Umi ini bukan dokter,  hanya seorang terapis. Jangan sungkan” jawabku lagi. Nggak enak bicara tarif sama sahabat sendiri.

“Kapan ada waktu Mi?” desak Melati.

“Tengok kondisi besok ya” aku tidak berani membuat jadwal pasti karena masih ada agenda kerja yang mesti segera aku selesaikan sebelum lebaran nanti.

“Ya mi, pokoknya kalau Umi benar-benar bisa menyediakan waktu khusus untuk aku, Umi hubungi aku aja, kapanpun, insyaallah siap”

“Nggak khawatir batal puasanya?”

“Lah mi, kalau nangis batal ya??”

“Bukan karena nangisnya, karena efek terapi biasanya mual dan muntah, Jika tekanan jiwa hebat keluar…” jawabku sedikit menjelaskan efek terapi energy yang akan dilakukan nanti.

“Nggak pa-pa mi, insyaallah demi kebaikan, nanti bisa dibayar puasanya” jawabnya mantap.

Aku mengakhiri sesi tanya jawab ini karena waktu berbuka puasa hampir tiba. Aku juga harus mempersiapkan diri karena dijadwalkan ada klien yang akan datang konsultasi bakda Isya nanti. Aku berharap masalah Melati masih bisa dia tahan, dan tidak mengambil keputusan yang gegabah.

…………………………………….

 

Keesokkan harinya aku beraktifitas seperti biasa, duduk dikantor menyelesaikan administrasi di yayasan yang belum selesai dikerjakan. Bekerja di rumah ditengah pandemi ini cukup menyita waktu. Apalagi staf dan karyawan sudah mulai libur menjelang hari raya lebaran idul fitri yang sebentar lagi. Otomatis pekerjaan di yayasan aku handle sendirian.

Pukul 10.15 wib aku mulai jenuh dengan pekerjaan yang sedang dikerjakan. Tiba-tiba ingat dengan Melati. Mungkin ada baiknya dia datang sekarang. Untuk jedah waktu ditengah pekerjaan yang tak kunjung selesai.

“Assallamu alaikum Melati, Umi ada waktu hari ini…bisa datang?” chatku di WA pribadi.

“Waalaikumsalam, iya Mi,….aku ke PA sebentar ya. Ini sudah di Kepahiang. Bisa tunggu sebentar Mi?” jawabnya segera, jarak rumah Melati memang jauh dari kediamanku.

Tak berselang lama, datang sebuah motor memasuki halaman Yayasan, Melati turun dan langsung menghampiriku.

“Oh…sudah datang, darimana tadi?” tanyaku basa-basi sambil menutup semua file yang tadi terbuka dan segera mematikan layar computer agar bisa mendengarkan curhat Melati dengan maksimal. Tak lupa aku senyapkan nada dering hp agar tak menganggu saat konseling berjalan.

“Dari PA mii…urus perceraian” jawaban yang cukup membuatku terkejut.

“PA maksudnya Pengadilan Agama?” tanyaku untuk memastikan persangkaanku.

“Iya…aku ngadu kesana tadi”

“Ya allah sudah sampai segawat itu masalahnya?” Dia tidak menjawab tanyaku, diam sembari berusaha memberikan senyuman, senyum yang dipaksakan.

Aku mengajaknya ke ruang konseling, duduk di karpet supaya lebih nyaman, tak lupa membawa tissue. Karena pasti akan digunakan pada saatnya nanti.

Seperti biasa aku akan bertanya tentang perasaanya, “Gimana…apa yang terjadi?”

“Darimana harus cerita Mii?”

“Ceritakan saja bagaimana perasaanmu saat ini”

“Saakit” jawabnya bergetar, mengambil tissue dan mengusap air mata yang siap bercucuran.

“Apa yang membuatmu sakit?”

“Dia berhubungan dengan wanita lain. Saya nggak ikhlas Mii. Saya nggak sanggup membayangkannya Mii. Dia berbuat hal itu di rumah kami, kamar kami” tanggisnya pecah. Akupun tertegun mendengar cerita ini. Astaqfirullah al adzim ucapku dalam hati.

“Dia beli?” tanyaku hati-hati. Dia mengangguk.

“Kok tahu?” tanyaku lagi…penasaran.

“Saat itu kami sedang ribut besar, aku pulang ke rumah orangtuaku. Sebulan aku tidak menghubungi dia dan dia tidak menjemputku. Lalu kami dimediasi keluarga agar rujuk kembali. Akhirnya melalui musyawarah dengan keluarga dan perangkat desa kami bersatu lagi. Nah…saat aku kembali itulah aku lihat chat wa di hpnya. Perempuan itu mengaku baru sekali melakukan dengan suami, tapi teman-temannya ada juga yang sudah pernah tidur dengan suami. Aku hancur Mii…aku benci sekali…kami ribut lagi. Dan giliran suami yang pergi meninggalkanku. Makanya aku ngadu dan lapor sama pengadilan agama. Aku mau pisah aja Mii” dia meremas tissue sisa mengelap air mata tadi.

“Emang sudah siap benar ingin pisah?” tanyaku menguji kedalaman tekatnya.

“Enggak Mii….aku masih sayang, tapiiii…..” tanggisnya semakin menjadi. Aku pegang tangannya terasa dingin. Ini pertanda dia sedang tune ini, merasakan sakit yang luar biasa di hatinya.

Aku manfaatkan kondisi ini untuk memulai terapi. Mengetuk ngetuk titik meridian tubuh dengan dua jariku. Sembilan titik meredian selesai di tapping. Aku ulangi lagi…dia masih menangis sambil meratap, mengungkapkan kekesalan dan kekecewaannya terhadap suami. Aku tidak bicara, sibuk melapalkan doa untuk ketenangan sahabat yang sedang menderita ini. Mengalirkan energy positif melalui doa dan pengharapan hanya kepada Allah swt.

Berlahan tanggisnya reda, diapun sibuk mengatur napas dan mengelap hidung untuk melonggarkan aliran udara masuk ke paru-paru. Prosedur gamut pun aku lakukan, memintanya memejamkan mata lebih dalam, melotot dan mengerakkan otot mata. Aku minta dia bergumam tapi dia mengeleng, tidak mampu bergumam. Aku minta dia berhitung skala 1 sampai 5. Aku minta dia bergumam lagi, dia masih mengeleng pertanda tidak mampu. Ya sudah tidak apa. Aku menjeda sejenak…memberi waktu udara masuk lebih banyak untuk mengurai rasa sesak di dada. Lalu menuntunnya menarik napas dan mengeluarkan udara lewat mulut secara berlahan. Dia menurut dan tetap memejamkan mata. Kesedihan itu masih enggan pergi darinya.

Tiba-tiba dia menekan dada sebelah kiri, sedikit meringis.

“Ada apa, apa yang kau rasakan? Sakit?”

“Nyeri Mii”

“Apa lagi yang kau rasakan?”

“Kepala pusing dan bahu sakit juga, sebelah kanan”

“Bagus…itu pertanda terapinya berjalan dan bereaksi di tubuhmu. Nanti akan hilang sendiri, jangan khawatir”

“Aku ingin balas dendam Mii…supaya dia menyesal” dia membuka mata dan terlihat kesal dengan sorot marah.

“Dengan cara apa? Melakukan hal yang sama?” aku membalas tatapan tajam matanya. Dia melengos menghindari tatapanku yang menyelidik. Menunduk dan terus memainkan tissue bekas air mata tadi.

“Seharusnya dia datang dan menjemputku Mii…bukan main sama perempuan nakal. Aku juga banyak godaan selama sebulan itu. Ada beberapa laki-laki yang mendekat dan merayu. Tapi aku tahan karena aku sadar aku masih isteri orang. Nah dia….? Aku benar-benar benci Mii” ujar Melati sambil merobek tissue bekas air mata tadi.

Aku diam sejenak, menarik tapas, mengatur intonsi suaraku agar terdengar jelas dan merasuk di kalbunya. Hal penting yang perlu dia ketahui tentang hakikat kehidupan dan ketentuan Tuhan.

“Melati tahu nggak…meskipun dia melakukan perbuatan maksiat…perbuatannya itu atas izin Allah. Allah izinkan dia memilih di jalan yang salah. Dia yang memilih jalan maksiat. Bukan hanya hal baik yang terjadi dengan izin allah, namun juga hal buruk dan dosa. Dan Allah punya maksud dibalik semua itu” Melati memandangku tak berkedip, tak menyangka kalimat ini akan dia dengar. Bagaimana mungkin Allah yang izinkan? Begitu kira-kira arti tatapan matanya. Aku tersenyum dan melanjutkan kalimat tadi agar dia tidak salah pengertian.

“Apa yang terjadi dengan kita karena kesalahan kita sendiri. Allah sedang memberi kita pelajaran atas apa yang pernah kita perbuat di masa lalu. Coba diingat-ingat pernahkah Melati berpikiran buruk, menuduh, menghina atau mengolok-olok orang lain yang posisinya sama seperti yang kau rasakan saat ini. Entah itu orangtua, mertua, keluarga, sahabat atau masyarakat yang kita, mungkin tanpa disadari menyakiti hati mereka”

Melati menunduk seolah mengingat sesuatu. Dan dia menangis lagi. Dia menutup mulutnya dan mengangguk-angguk membenarkan perkiraanku.

“Ketemu jawabannya?” tanyaku pelan.

Dia terus menunduk dan menangis lagi, lebih keras dari sebelumnya. Aku diam….memberi kesempatan dia menumpahkan perasaannya lewat tangisan. Setelah reda, aku pegang tangannya…masih dingin.

“Jika jawabannya sudah ketemu, perasaanmu akan lebih baik. Umi bantu terapinya. Mau duduk seperti ini atau dikursi?” tawarku.

“Di kursi aja Mii…kakiku kesemutan”

“Baiklah…”

Aku menyiapkan dua buah kursi untuknya dan untukku sendiri. Terapi dimulai dengan kalimat set up, Ya allah…walaupun saat ini aku sedang membenci suamiku, karena dia telah berbuat maksiat. Aku merasa marah dan jijik dengan kelakuannya itu. Tapi aku terima ya allah…aku terima perasaan marah, benci dan jijik ini. Dan aku pasrahkan normalnya rasa itu padaMu. Aku ikhlas …aku pasrah. Kalimat set up ini diulangi tiga kali. Lalu dilanjutkan dengan Tune In.

Aku memintanya untuk berani membayangkan suasana suami dan perempuan itu saat berada di kamarnya. Tune in adalah merasakan emosi terdalam yang sedang terjadi pada dirinya. Tangisnya kembali pecah pertanda klimak emosinya. Aku segera melanjutkan tapping proses mengetuk titik meridian tubuh seperti gerakan totok dengan dua jari telunjuk dan jari tengah. Aku menuntunnya untuk curhat dan menerima kondisinya, namun suaranya tertahan. Dia tak sanggup berkata-kata. Akupun tak memaksa, tetap menuntunnya di sela isak tanggis yang kian menjadi. Berlahan dia terlihat rileks dan nyaman. Segera aku akhiri sesi tapping dengan tarikan napas syukur kepada Allah SWT. Adzan dhuhurpun berkumandang mengiringi sesi terapi ini.

“Umi…aku ingin pulang dan bertemu dengannya. Aku ingin memeluknya Mii” lirih dia berucap diantara tarikan napasku yang belum tuntas.

“Masyaallah….ya allah….terimakasih ya allah” ucapku penuh syukur. Agak terkejut dengan sikap yang berubah drastis ini. Ya allah….duhai engkau yang maha membolak balikkan hati.

“Sudah bisa berdamai dengan hatimu? Bisa menerima dia kembali?” tanyaku untuk menegaskan isi hatinya. Dia mengangguk dan menghapus sisa airmata dengan tissue kembali.

Seperti klien lainnya aku memeluk Melati dengan mentransfer energy positif yang kupunya. “Itulah isteri…itulah isteri…sangat mudah memaafkan suami yang terlanjur berbuat salah. Isteri adalah pakaian bagi suami. Jika pakaiannya lepas…isteri pergi, maka suamipun telanjang. Karena ketelanjangan itulah maka dia berbuat maksiat. Maka tutupilah tubuh suamimu dengan menjadi pakaian terbaik baginya. Pakaian yang pas dan nyaman untuk dipakai. Jangan lagi lari darinya” pesanku berbisik di telingga kanannya.

“Iya Umi…iya Mii…terimakasih ya Mii. Berapa aku harus membayar terapi ini Mii?”

Aku lepaskan pelukanku dan tersenyum manis padanya, “Ini hari baik, bulan baik dan tujuan yang baik. Umi tidak mau dibayar sekarang, sedekah energy. Bayarlah dengan kabar gembira darimu nanti. Bahwa kau bahagia. Itu saja”

Diapun pulang meninggalkanku dengan senyum dan pengharapan. Gengaman tangannya sudah terasa hangat.

 

 

Launching Buku Perempuan Membangun Kepahiang

Kepahiang, 20/12/2018. Launching buku Perempuan Membangun Menuju Kepahiang Maju Mandiri Sejahtera bertepatan dengan Peringatan Hari Ibu Ke-90 Tahun 2018 di Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu dilaksanakan hari Kamis, 20 Desember 2018. Kegiatan ini diadakan oleh Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kepahiang yang dipimpin Ibu Netti Herawati, S.Sos Wakil Bupati Kepahiang dan dihadiri oleh Sekda Kepahiang, Ketua FKPD Kab Kepahiang, Ketua DPRD Kab Kepahiang, Asisten I, II, III Setdakab Kepahiang, Polres Kepahiang, Kejaksaan Negeri, Dandim, Kepala Kemenag Kepahiang, Kepala Dinas/Badan/Kantor di lingkungan Kepahiang, Ketua Organisasi Wanita Se-Kabupaten Kepahiang dan masyarakat yang ikut merayakan hari Ibu dengan semangat dan kegembiraan.

Sempurna!! Satu kata yang bisa menggambarkan uraian panjang mengenai biografi Perempuan Membangun Menuju Kepahiang Maju Mandiri Sejahtera. Profil yang digambarkan bukanlah yang sempurna dalam segala hal (fisik, mental/emosi, spiritual) melainkan perpaduan yang indah dari perempuan-perempuan di Kepahiang dalam rangka mengembangkan potensi dirinya.

Perempuan yang menjadi publik figur dari unsur pemerintah daerah, tokoh politik, pemerintah desa, perempuan di bidang pendidikan dan olahraga, paramedis, tokoh agama,  pengusaha pengerak masyarakat, penggiat budaya dan ibu rumah tangga yang menjadi pribadi unggul dan berprestasi.

Buku biografi ini ditulis dalam rangka memperingati Hari Ibu ke-90 tahun 2018. Sebagai penghargaan dan hadiah untuk pribadi spesial di Kabupaten Kepahiang. Perempuan membangun yang layak ditampilkan agar dapat menginspirasi, memotivasi, mengugah pembaca untuk ikut membangun daerah sesuai keahliannya.

Mereka adalah:

1) Netti Herawati, S.Sos Wakil Bupati Gemar Membaca

2) Efie Muhafilah Hidayatullah Isteri Bupati Ramah dan Sederhana

3) Hairah Aryani, S.Sos. M.MPd. Birokrat Energik dan Berwawasan

4) Hj. Ice Rakizah Syafrie, S.Sos.M.Kes Wakil Rakyat Disiplin dan Tegas

5) Rica Denis, S.Si.,M.Si. Wakil Rakyat Yang Cerdas dan Cinta Daerah

6) Meri Hartati Wakil Rakyat Yang Ramah dan Cinta Keluarga

7) Indun Sarmadawati, BA Kades Yang Tegas dan Ceria

8) Supriyanti Kades Berani dan Berprestasi

9) Dra. Hj. Ulifah, M.Pd.I. Penceramah Pengerak Pemimpin Perempuan

10) Erni Budiarty, S.Pd.M.Pd. Guru Disiplin dan Berdedikasi

11) Dr. Febi Nur Sanda Dokter Muda Kaya Prestasi

12) Elly Yustuti, Amd.Keb.SKM. Bidan Yang Berani dan Tegas

13) Brigpol Titin Kartini Polwan Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat

14) Nyimas Ayu Yulianti Pengagas Aerobik Agar Sehat dan Percaya Diri

15) Watini, S.Pd Penggiat Budaya Kepahiang

16) Helmiyesi, M.Si Sang Penulis

Inspirasi dan motivasi merupakan hal yang sangat diperlukan oleh generasi penerus bangsa. Motivasi dapat memudahkan seseorang untuk menjernihkan pikiran serta menyuntik semangatnya dengan kekuatan. Mengubah kegagalan menjadi keberhasilan dan merubah kekalahan menjadi kemenangan.

Spirit dan perjuangan tak kenal lelah ini dicontohkan nyata dalam pribadi perempuan-perempuan Kepahiang dalam kehidupannya. Disertai dengan tips dan saran positif agar pencapaian mereka dalam karir tidak menganggu kapasitas sebagai isteri bagi suami dan sebagai ibu bagi anak-anaknya di rumah.

Selamat Hari Ibu untuk mu. Selamat berkarya membangun bangsa. Selamat berjuang untuk Kepahiang yang Maju Mandiri Dan Sejahtera!

 

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang