"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Literasi Spiritual Ponpes EHQ Embong Ijuk

Zahra Publishing. Literasi Spiritual Ponpes EHQ Embong Ijuk

Literasi pertama dalam Islam adalah turunnya surat Al alaq ayat 1-5 yang berisi perintah MEMBACA. Bacaan pertama masyarakat muslim adalah Al-Qur’an.

Hal inilah yang membuat Ustadz Juli Akhirin pimpinan Pondok Pesantren Enterpreneur Hafiz Qur’an mengundang Umi Yesi dan tim TBM Cahaya untuk melatih ustadz dan ustadzah agar bisa menulis buku. Ada 9 peserta yang mengikuti kegiatan tersebut, dan semua adalah para Asatidz di ponpes EHQ.

Dari TBM Cahaya hadir Kms Fahrudin beserta anggotanya yaitu Ariansi dan Eni Lastari.

Dengan tema Literasi Spiritual, Umi Yesi menyampaikan tips menulis itu MUDAH karena menulis adalah BERCERITA. Kegiatan ini adalah program unggulan TBM Cahaya dalam rangka membumikan gerakan literasi Indonesia melalui Kelas Menulis Sabusabu (satu bulan satu buku)

Kita tunggu hasil karya mereka ya.

Bismillah

 

 

ANBK Paket A di Az zahra Kepahiang

Zahra Publishing. ANBK Paket A

Pelaksanaan ANBK PAKET A setara SD dilaksanakan oleh PKBM Az Zahra Kepahiang, PKBM Excellencia dan PKBM Sulthon

Anbk dilaksanakan pada hari Senin dan Selasa, 15-16 November 2022. Di ikuti oleh 8 orang peserta didik.

Anbk berlangsung lancar dan tanpa kendala berarti, monev dilakukan oleh Dinas Dikbud Kabupaten Kepahiang dan LPMP Provinsi Bengkulu

 

Bediwo dalam Workshop Menulis Cerita Rakyat

Zahra Publishing. Bediwo dalam Workshop Menulis Cerita Rakyat

Sabtu, 23/10/2021.

Bediwo atau kain batik Diwo Kepahiang hadir meramaikan kegiatan workshop menulis cerita rakyat di aula Perpusda Kabupaten Kepahiang.

Diwo berarti Dewa, berasal dari nama Kepa hyang. Kepa adalah Kapal dan Hyang adalah Dewa. Kepahiang berarti Kapal Dewa. Karena pengucapan Dewa agak sulit dilafalkan oleh suku rejang maka nama Dewa berganti menjadi Diwo.

Pei Diwo atau kain Diwo memiliki 5 motif utama yang merupakan doa dan puja puji bagi Kabupaten Kepahiang yang sedang bertumbuh.

Motif pertama adalah Selempang Emas yang berarti keagungan. Motif ini biasanya digunakan oleh para Raja Redjang zaman dahulu. Sehingga kain bermotif selempang emas menjadi sakral dan agung. Sebab pakaian bagi raja raja Rejang.

Motif kedua adalah Stabik yang berarti salam perdamaian. Ini adalah nilai-nilai luhur suku rejang dalam bermasyarakat. Sikap saling mengasihi, menghargai dan gotong royong sangat kental di masyarakat Kepahiang dari dulu hingga sekarang.

Motif ketiga adalah kembang lima yang berarti empat penjuru satu tujuan. Penduduk Kepahiang bukan semata-mata suku rejang, ada beberapa suku lain yang hidup saling berdampingan terutama penduduk pendatang dan transmigran. Karena perbedaan suku, bahasa dan adat istiadat ini membuat Kepahiang lebih berwarna. Dengan filosofi kembang lima, semua suku hidup damai dan berdampingan dengan satu tujuan yakni Kepahiang maju dan berkembang.

Motif keempat adalah huruf ka ga nga, aksara lokal yang usianya sudah berabad lamanya. Huruf ini menjadi ciri khas suku rejang dalam berkomunikasi dan berbudaya.

Motif kelima adalah pucuk rebung artinya tumbuh. Motif ini adalah doa bagi kabupaten Kepahiang yang baru mekar. Harapannya Kepahiang akan tumbuh dan berkembang di kemudian hari.