Ritmha Candra Kupas Tuntas “Gaya Selingkung” dan Rahasia Esai Tembus Penerbit
Puncak Bimtek Literasi Kepahiang: Ritmha Candra Kupas Tuntas “Gaya Selingkung” dan Rahasia Esai Tembus Penerbit
KEPAHIANG – Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Konten Budaya Lokal yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Kepahiang resmi memasuki hari ketiga sekaligus hari terakhir pada Rabu (1/4/2026). Setelah dibekali pemahaman pelestarian budaya dan teknik dasar penulisan esai di dua hari sebelumnya, pada sesi pemungkas ini, para peserta diajak untuk melangkah lebih jauh: bagaimana agar karya yang telah ditulis bisa diterima oleh penerbit dan dibaca secara luas.
Sesi pamungkas ini diisi oleh narasumber yang sangat inspiratif, yakni Ritmha Candra Ariesha, M.Pd.. Ritmha bukanlah sosok sembarangan di dunia literasi; ia merupakan peraih Juara 2 Festival Menulis Buku Nonfiksi pada ajang bergengsi Festival Writingthon yang diadakan oleh Perpustakaan Nasional RI pada tahun 2023. Salah satu karya fenomenalnya yang lahir dari ajang tersebut berjudul Menggali Folklor Sastra Lisan “Beringit” Suku Rejang yang Terpendam.
Mengangkat topik utama mengenai “Gaya Selingkung Esai”, Ritmha membuka wawasan peserta tentang dunia penerbitan.
Apa Itu Gaya Selingkung dan Mengapa Penting?
Di awal materinya, Ritmha menjelaskan bahwa “Gaya Selingkung” adalah aturan tata tulis yang disepakati oleh sebuah penerbit, media, atau institusi, yang kemudian menjadi ciri khas atau identitas dari institusi tersebut.
Banyak penulis pemula yang naskahnya ditolak bukan karena idenya buruk, melainkan karena tidak memahami gaya selingkung ini. Ritmha menekankan bahwa mematuhi gaya selingkung sangat penting untuk menjaga konsistensi dan profesionalisme, memudahkan pembaca dalam memahami isi tulisan, serta menjadi syarat mutlak penerimaan naskah agar terhindar dari penolakan (rejected) oleh pihak editor.
Unsur-unsur utama dalam gaya selingkung yang harus diperhatikan penulis meliputi:
- Tata Bahasa: Mematuhi aturan ejaan, tanda baca, dan tata kalimat yang benar.
- Tipografi: Memperhatikan ketentuan seperti pemilihan jenis huruf, ukuran font, dan spasi teks.
- Gaya Visual dan Penulisan: Menyesuaikan nada penulisan dan konsistensi isi dengan karakter penerbit.
Strategi Naskah “Lolos Kurasi” dan Kewajiban Swasunting
Untuk membantu 100 peserta Bimtek menghasilkan karya yang layak terbit, Ritmha membagikan strategi menulis esai agar lolos kurasi. Pertama, esai harus memiliki tema yang kuat dan relevan. Kedua, penulis harus menyusun struktur yang kokoh, mulai dari Lead (pembuka) yang memikat, Body (isi) yang memuat argumen logis berbasis data, hingga Ending (penutup) yang reflektif. Ketiga, Ritmha memberi peringatan tegas mengenai orisinalitas dan pentingnya menghindari plagiarisme.
Para peserta juga diberikan standar format penulisan umum, seperti menggunakan font Calibri ukuran 12 pt, spasi 1,5, pada kertas ukuran A4, dengan panjang tulisan antara 500 hingga 1000 kata.
Poin krusial lain yang dibahas adalah pentingnya Swasunting (mengedit naskah sendiri). “Banyak penulis pemula sering salah dalam penulisan kata depan, misalnya ‘di rumah’ yang seharusnya dipisah malah digabung. Selain itu, penggunaan huruf kapital seringkali tidak konsisten seperti pada nama bulan Januari atau nama tempat seperti Bogor,” papar Ritmha. Ia mengingatkan bahwa editor akan sangat melihat ketelitian. Jika naskah penuh kesalahan ketik (typo), naskah pasti akan ditolak.
Berakhirnya materi dari Ritmha Candra sekaligus menutup rangkaian panjang Bimtek Kepenulisan Konten Budaya Lokal yang bersejarah di Kabupaten Kepahiang ini. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah optimis, bekal teori, praktik, hingga trik menembus penerbit yang telah diberikan selama tiga hari ini akan melahirkan gelombang karya literasi baru yang mengangkat harkat kebudayaan lokal Kepahiang ke kancah nasional.

Tinggalkan Balasan