TBM Cahaya
Literasi Wong Palembang

ZAHRA PPUBLISHING. Literasi khusus wong Palembang.
Sabtu, 20 Januari 2021 Taman Bacaan Masyarakat Cahaya mengadakan kelas menulis sabusabu VI khusus wong Palembang.
Bertempat di PAUD IT Tarbawi Kota Palembang 8 orang calon penulis yang semuanya perempuan. Mereka adalah Indah Putri, Endang Lestari, Dwi Apriyanti, Risa Sukma Tania, Liska Piani, Yeni Eliza, Merry Gustoni dan Ema Naseha. Latar belakang profesi adalah guru PAUD, Mahasiswa, Pengurus Yayasan dan dari BP PAUD Dikmas Palembang.
Umi Yesi, narasumber dan pengelola kelas sabusabu menyampaikan beberapa trik dalam menulis.
“Menulis itu MUDAH karena menulis adalah BERCERITA”
Ada empat point’ yang perlu diperhatikan ketika hendak menulis yaitu Bahan tulisan atau cerita yang hendak disampaikan, Tokoh cerita yang disertai dialog, Masalah yang dihadapi dalam cerita dan penyelesaian masalah yang berisi nasehat atau inspirasi positif bagi pembaca.
Terakhir, seluruh calon penulis mendapat PR untuk menulis minimal 5 halaman yang diketik dengan format kertas A4, font Times new roman dan spasi 1.5. Tulisan ini wajib dikumpulkan selambat-lambatnya 5 hari kedepan.
Kita tunggu karya perempuan Palembang ini ya.
Kadis Dikbud Apresiasi Buku Karya Penulis Cilik Kepahiang
ZAHRA PUBLISHING. Kadis Dikbud Apresiasi Buku Karya Penulis Cilik Kepahiang.
Dr. Hartono, S.Pd.,M.Pd, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepahiang bertemu Penulis Cilik Kepahiang di TBM Cahaya PKBM Az zahra Kepahiang, Selasa, 9/2/2021. Mereka adalah para pelajar yang telah menghasilkan buku bersama dengan judul Curhatku, Sekolah Dimasa Pandemi Covid-19.
Pak Hartono menyampaikan apresiasi dan rasa bangga beliau terhadap prestasi yang telah ditorehkan para penulis cilik ini. “Kalian adalah aset daerah Kabupaten Kepahiang. Melalui buku ini kalian bisa menceritakan tentang Kepahiang kepada masyarakat luar. Menuangkan ide, gagasan dan perasaan melalui tulisan. Saya mengucapkan terimakasih dan berharap agar upaya-upaya kreatif seperti ini terus berkembang. Saya yakin melalui TBM dan Umi Yesi para penulis cilik ini akan eksis dalam berkarya.”
Kms Fahrudin, Ketua TBM Cahaya melaporkan bahwa kegiatan literasi kelas menulis Sabusau (Satu bulan satu buku) ini rutin mereka lakukan. Penulis cilik lahir diangkatan sabusabu ke-5 yang dilaksanakan bulan Desember lalu. “Alhamdulillah…dalam waktu dua minggu, para penulis mampu menghasilkan karya dan dibukukan. Awalnya, kami khawatir apakah mereka mampu menulis, mengingat usia yang masih belia dan masih duduk di Sekolah Dasar. Tapi…luar biasa, ternyata mereka bisa. Buktinya…buku mereka sudah terbit dan dibukukan.”

Siapa sajakah penulis cilik kepahiang itu? Kenalin ya..
- Alifah Eshal Sausan, 8 tahun
- Rifda Maharani, 9 tahun
- Muhammad Patrialis Akbar, 11 tahun
- Naura Zalfa Rina, 11 tahun
- Shafira Ayu Chesa, 12 tahun
- Berlin Dirgantara, 14 tahun
- Maulida Khairani, 16 tahun
- Selvi Novitasari, 16 tahun
- Dinta Melinda, 17 tahun
- Nabila Septiyani, 17 tahun
- Iis Saropa, 18 tahun
Hamari Adhuri Kahani 2
Kau mendekat
Namun jarak di antara kita tak jua berkurang
Bumi tak harus berjumpa dengan langit
Cinta sejati adalah yang tak mencapai tujuannya
Di atas pasir waktu
Kau tulis sesuatu seperti namaku lalu pergi
Di manakah dirimu
Kisah kita belum tuntas
Cinta pada yang tak mencintai
Berharap pada yang tak pasti
Peduli pada yang tak peduli
Bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta
Hamari Adhuri Kahani
Kisah kita belum tuntas
Sudah tiga tahun berlalu. Susah payah kuhapus ingatan tentangmu. Wajah tampan berbatik biru, berkumis tipis dan berkacamata itu masih sering hadir di kala sendiri. Menghadirkan getar rindu. Rindu yang tak seharusnya hadir untukku. Sesekali…ya sesekali saja siluet tentangmu hadir menambah resahku.
Sejak pertemuan terakhir di kampus Biru Universitas Bengkulu tiga tahun yang lalu, kau tak lagi menyapaku. Awalnya karena nomormu aku blokir. Aku tidak mau ada ikatan hati denganmu. Menyimpan nomormu akan merusak kedamaian yang sedang aku bangun. Lebih tepatnya aku sedang marah dengan diri sendiri. Memblokir nomormu adalah salah satu cara melampiaskan rasa marah itu.
Mengapa harus marah? Karena asa yang tak berbalas selayaknya atau karena keegoisan semata? Entahlah…yang jelas aku terlalu naïf untuk mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta padamu. Cinta yang tak utuh, sebab kisah kita tak pernah sampai pada tahap itu.
“Numm…kok melamun?” tiba-tiba Mas Slamet sudah berada di depanku. Dia kakak kesayanganku, idolaku.
“Ehh Mas….kapan datang?” tanyaku gelagapan, malu kelihatan sedang melamun. Padahal saat itu novel Hamari Adhuri Kahani sedang berada dipangkuanku. Membaca kisah dalam novel itu jua yang mengingatkanku kembali tentangmu, lelaki berbatik biru, berkumis tipis dan berkacamata minus.
“Sejak sejam lalu, nengok Mama. Kamu lagi apa? Bukannya nemani Mama, malah melamun di sini. Kemarin kucing tetangga Mas mati tu gara-gara melamun. Hehhehe…” Kakakku itu tertawa dengan leluconnya sendiri. Akupun tersenyum meringis.
Apakah ingatanku tentangmu tidak bisa hilang? Hingga dengan membaca novel yang karakternya mirip denganmu saja aku harus terdiam? Dimanakah kamu? Aku ingin bertemu.
“Baca apa tu? Novel cengeng ya? Ehh…pantesan melamun, bacaannya nggak bermutu” Mas Slamet menjulurkan tangan kanannya dan meraih novel yang sedang kubaca. Dia mengamati dan membaca sinopsis pada halaman belakang buku.
“Hmm….Umi Yesi, kayaknya nama ini tidak asing. Hanum kenal dengan penulisnya?”
“Ya kenallah Mas…semua orang kenal dengan nama itu. Itu lo yang ngurusi anak putus sekolah di PKBM Az Zahra Kepahiang. Dia kan sering juga ngisi seminar di kampus Mas”
“Ohh…Umi yang itu. Iya Mas juga kagum dengan perjuangannya memberantas buta aksara dan mengerakkan anak putus sekolah agar kembali bersekolah. Kamu harus banyak belajar darinya. Pakai jurus ATM”
“ATM? Apa itu Mas?
“Amati Tiru dan Modifikasi. Gitu aja nggak ngerti. Huu…” Mas Slamet mendekatkan novel itu berusaha memukulku. Aku menghindar dan terkekeh dengan tingkahnya.
“Iya..ya…nanti aku ATM-an sama Umi Yesi. Mas sudah ketemu Mama?” aku mengalihkan topik pembicaraan. Berharap bayangmu juga segera sirna dari ingatanku.
“Sudah…katanya perut sebelah kanan terasa nyeri. Adek yang nemani Mama cek lab kemarin. Apa kata dokter?” Mas Slamet duduk di sofa tak jauh dari tempatku santai membaca novel sembari mengenangmu tadi. Dia mulai serius, kalau urusan Mama dia akan sangat serius. Sebab dia adalah Kakak laki-laki tertua di rumah ini.
“Nggak ada yang serius, hasil rontgen dan USG semua organ Mama dalam kondisi baik dan sehat. Tapi keluhan sakitnya belum berkurang. Hanum juga nggak tahu Mas”
“Kok bisa? Kalau semuanya baik-baik saja, mengapa Mama masih meringis kesakitan? Apa Mama kena usus buntu? Salah makan? Atau Mama pernah terjatuh sebelumnya?” Kakakku itu seperti detektif saja. Wawancaranya detail.
“Hanum nggak tahu Mas. Coba Mas ajak Mama ngobrol, barangkali ada ganjalan lain dihati Mama yang belum terungkap hingga sakitnya tidak mereda.” Aku merubah posisi duduk dengan melonjorkan kaki diatas sofa. Posisi santai sembari meraih kembali novel yang belum usai dibaca tadi. Kisahnya menarik, dan tentu saja karena tokoh dalam cerita itu mirip denganmu, lelaki berbaju biru berkumis tipis dan berkacamata.
Mas Slamet bangkit berdiri dan meninggalkanku, kembali menuju kamar Mama. Aku berusaha fokus kembali membaca kisah Hamari Adhuri Kahani, Kisah Kita Yang Belum Tuntas. Akankah kisah kita sama seperti judul buku ini? Aku hapus nomormu yang pernah terblokir. Dengan demikian kau bisa menghubungiku tanpa blokir-an. Ahh…andai saja.
Bersambung…


