"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Kelas menulis

Belajarlah dari Siti Hajar, Jangan Minta Cerai

Belajarlah dari Siti Hajar, Jangan Minta Cerai

“Umi…aku mau gugat cerai!” seorang perempuan cantik berusia 40 tahun duduk dihadapanku dan langsung mengutarakan isi hatinya.

“Hmm….yakin?” jawabku segera. Ini bukan pertamakalinya dia datang dan curhat seperti ini. Setiap kali suaminya pergi dia akan datang padaku dan mewek begini, namun jika suaminya pulang maka niat tersebut hilang begitu saja. Berganti dengan sanjungan dan harapan. Nisa, sebut saja namanya begitu.

“Ini lebaran yang kesepuluh Umi, dia tidak pulang. Seharusnya dia bisa berbagi, giliran. Jika lebaran idul fitri di sana, nah..lebaran idul adha seharusnya di sini, bersamaku.”

Nisa isteri kedua Pak Ahmad, seorang saudagar kopi yang cukup terpandang. Mereka sudah dikarunia dua orang putra dalam sepuluh tahun pernikahannya. Isteri pertama Pak Ahmad bernama Rara, tinggal di Kabupaten sebelah. Dia baru dikarunia anak perempuan setelah Ahmad menikahi Nisa lima tahun yang lalu. Rara seorang ibu rumah tangga biasa yang hanya tamat Sekolah Dasar. Rara mengizinkan suaminya menikah lagi, karena saat itu mereka belum memiliki momongan.

Aku memandangi wajah kuyu Nisa yang tetap cantik meski tanpa kosmetik. Ini hari kedua setelah lebaran Idul adha 1441 H. Nisa bertandang padaku hanya ingin menangis. Menumpahkan kesedihannya.

“Sudahlah….sabar…kau tahu mengapa ada lebaran idul adha? Ada cinta dan pengorbanan di sana” ujarku sembari mengelus bahu kanannya, memberi empati.

Tulisan ini aku persembahkan untuk perempuan Kepahiang yang sedang gamang dan gelisah dengan hidupnya. Perempuan yang menyandang status sebagai isteri kedua, sebagai kepala keluarga atau sebagai tulang punggung keluarga. Mari kita belajar kepada Ibunda Siti Hajar. Kisah nyata yang dapat menguatkan kita semua.

 

Siti Hajar, perempuan mulia yang dikenang sepanjang masa. Dia viral di langit dan di bumi. Bukan karena elok rupa ataupun bentuk fisiknya, melainkan karena perjuangan, kesabaran dan kekuatan yang ia miliki. Kisahnya abadi dan diikuti oleh masyarakat muslim dalam melaksanakan ibadah haji dan umroh. Pada saat memasuki Makkah untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah, kita akan melakukan Sa’i yaitu berjalan dan berlari sebanyak tujuh kali antara Shafa dan Marwah. Di bukit antara Shafa dan Marwah sepanjang 450 meter inilah terkandung kisah keimanan yang pertama dari seorang isteri yang ditinggalkan suaminya di tempat yang tidak ada sarana untuk hidup. Perempuan itu adalah Siti Hajar, isteri kedua Nabi Ibrahim as dan ibu dari Ismail.

Awalnya pernikahan Siti Hajar berjalan sebagaimana keluarga lainnya. Bahkan pernikahan itu mendapat restu dari Siti Sarah, isteri pertama Ibrahim. Siti Sarah pula yang memilih Siti Hajar menjadi madunya karena di usia senja dia belum mendapatkan keturunan. Dia berharap, Hajar dapat memberikan seorang putra untuk suami yang sangat dicinta.

Namun, Sarah tetaplah seorang perempuan yang memendam cemburu. Dan, ketika Siti Hajar, madunya, melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ismail, Sarah pun diliputi rasa cemburu itu. Ia pun berjanji tidak akan mau tinggal dengan Hajar dan anaknya dalam satu atap.

“Iya…itu terjadi padaku Umi. Kami menikah resmi, tercatat di KUA karena isteri pertamanya merestui. Tapi pernikahan ini tidak seperti yang aku impikan Mi. Mas Ahmad hanya sesekali pulang. Dia juga jarang memberiku nafkah. Sekolah anak-anak aku semua yang biayai. Aku mau pisah aja Umi…” Nisa bertambah mellow dengan kisah Siti Hajar yang kuceritakan.

Nisa, perempuan kuat. Sebelum menjadi isteri kedua Pak Ahmad, dia sudah pernah menikah. Namun suaminya meninggal akibat kecelakaan tunggal. Lima tahun dia menjanda dengan satu orang anak. Nisa memiliki keterampilan menjahit. Hingga saat ini ada puluhan mesin jahit dengan empat orang karyawan yang membantunya. Secara ekonomi penghasilan Nisa cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Mungkin itu juga yang membuat Nisa jarang menerima uang nafkah dari suaminya. Dan diapun merasa sungkan untuk meminta, meski itu adalah haknya.

“Jangan putus asa dulu…mari belajar lagi dengan Ibunda Siti Hajar” jawabku lagi sembari melanjutkan kisah penuh makna dari kehidupan perempuan mulia, Siti Hajar.

Saat kecemburuan isteri pertama Ibrahim semakin membuncah, datanglah perintah dari Allah SWT kepada Nabi Ibrahim agar membawa istri keduanya, Siti Hajar, dan bayinya, Ismail, ke tanah Makkah. Maka, mereka pun berangkat untuk menempuh perjalanan jauh. Ibrahim dan istrinya bergantian menggendong bayi yang baru lahir hingga tiba di tanah Makkah. Pada waktu itu Makkah sangat tandus. Tak ada pohon, tidak ada air, dan sepi dari manusia. Saat itu mereka melihat ada bukit berwarna merah, di atasnya terdapat bekas rumah tua dari dahan-dahan kayu yang sudah mengering.

Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan bayinya Ismail. Siti Hajar pun merengek sambil menangis agar suaminya tidak meninggalkan dia dan bayinya di tempat sepi dan menyeramkan itu. Namun, Nabi Ibrahim tak peduli. ‘’Kemana engkau akan pergi dan meninggalkan kami di padang pasir yang tidak ada manusia dan bahkan kehidupan ini? Apakah Allah yang memerintahkan kamu wahai suamiku?’’Siti Hajar bertanya kepada suaminya.

Tanpa menengok lagi kepada istrinya, Nabi Ibrahim pun menjawab singkat, ‘’Iya!’’

 

Tak ada lain yang bisa diperbuat Siti Hajar. Akhirnya ia pun berkata lirih penuh penyerahan diri kepada Allah SWT, ‘’Kalau begitu, Tuhan pasti tidak akan membiarkan kami.’’ Siti Hajar tampaknya yakin betul dengan janji Allah SWT. Dan, dalam diam, tanpa melihat lagi suaminya, ia pun menengadahkan wajahnya ke langit dan berdoa.

Sementara itu, dari kejauhan Nabi Ibrahim pun melakukan hal yang sama, menatap langit dengan mengangkat kedua tangannya dan berdoa, ‘’Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.’’ (Ibrahim: 37).

Menurut Muhammad Ali Sabouni dalam bukunya an Nubuwah wal Ambiya, sepeninggal Nabi Ibrahim, Siti Hajar hanya bisa pasrah. Ia merasa terhibur manakala melihat wajah bayinya yang manis dan memancarkan kasih sayang.

Pada awalnya ia tidak merasakan kesepian. Ia tidak menyadari kerasnya kehidupan di tengah lembah sunyi dan bukit bebatuan, hingga akhirnya ia kehabisan perbekalan hidup. Apalagi si kecil pun mulai kehausan dan kelaparan.Si ibu mulai panik. Air susunya pun sudah kering. Sedangkan si bayi terus menangis kelaparan dan kehausan.

Siti Hajar tampak bingung bagaimana mencari air. Dalam kebingungannya ia lari ke atas bukit dan melihat ke bawah. Ia melihat sebuah bukit lain, yang kemudian dikenal dengan Shafa, tampak dekat. Ia pun menuju bukit itu, barangkali melihat seseorang atau menemukan makanan dan minuman. Namun, ia tidak mendapatkan apa-apa.

Dari bukit Shafa, ia melihat bukit lain tampak dekat. Bukit itu kemudian dikenal Marwa. Ia pun berjalan menuju ke sana dan tidak mendapatkan bekas-bekas kehidupan. Ia berusaha bolak-balik di antara dua bukit itu hingga tujuh kali. Berusaha dalam bahasa Arab disebut sa’a. Dari kata inilah istilah sa’i diambil.

Setelah tujuh kali bolak-balik Shafa-Marwa, Siti Hajar pun kelelahan dan putus asa. Ia akhirnya ambruk di samping bayinya.Hatinya tercabik-cabik menunggu nasib. Ia berserah diri secara total.

Beberapa waktu kemudian ia bangun. Ia kumpulkan sisa tenaganya untuk melihat bayinya yang mungkin sudah meninggal dunia. Namun, tidak. ‘’Aku tidak melihat isyarat kematian anakku,’’ katanya lirih.

Demikianlah, Allah SWT telah mengutus Malaikat Jibril, dan dengan kedua sayapnya menyentuh tanah, sehingga muncul mata air yang mengalirkan kehidupan. Siti Hajar pun bangkit dengan sepenuh tenaga dan lupa apa yang baru ia alami. Ia segera mengambil air itu dan meminumkannya kepada bayinya, Ismail.

Kepada mata air itu, ia mengatakan, ‘’Zumi, zumi!’’ Air dan mata air itu kemudian dikenal sebagai Zam Zam, yang memberi kehidupan di tengah padang pasir tandus dan bukit bebatuan. Makkah yang berkemajuan kini pun sebenarnya berawal dari kisah perempuan ini.

 

“Tapi Umi…suamiku tidak sesoleh nabi Ibrahim. Dan aku juga tidak sempurna seperti Siti Hajar. Aku hanya perempuan biasa. Umurku sudah kepala empat, sudah tua. Aku ingin tenang memiliki suamiku sendiri. Paling tidak aku punya hak atas dia. Apalagi lebaran tahun ini ditengah pandemi. Suasana sangat sepi. Aku merasa kesepian Umi”…tanggis Nisa tak terbendung lagi.

“Aku ingin cerai!” suara Nisa meninggi.

“Jangan…jangan minta cerai Nis. Pikirkan lagi…meski suamimu tidak sesoleh Ibrahim, tidak bisa berlaku adil, tidak membuatmu bahagia. Bertahanlah. Minta keridhoannya. Karena ridhonya suami adalah ridhonya Allah. Jadikan suami sebagai tameng atas dosa-dosa kita di dunia.” Ujarku sedikit menasehati.

“Maksud Umi?” Nisa memandangku serius. Aku tersenyum, saatnya memberitahu Nisa sebuah rahasia. Rahasia perempuan yang sudah menikah dan tak merasa bahagia dalam pernikahannya. Untuk semua perempuan yang berstatus isteri. Menjadi isteri pertama, kedua, ketiga atau ke empat bukanlah aib. Karena islam mengizinkan dan mengatur hal tersebut dalam Alquran surat An Nisaa ayat 3. Apa rahasia besar itu? Jadikan suami sebagai tameng!

“Fungsi primer suami itu adalah untuk jadi tameng bagi dosa-dosa kita di neraka. Saat kita dapat ridho dari suami, maka semua dosa-dosa kita langsung dimaafkan sama Allah atas keridhoan suami tersebut. Jadi, suami duduk diem aja, itu sangat manfaat, tinggal kita aja gunakan fungsinya dengan maksimal. Lakukan apapun yang terbaik yang bisa dilakukan untuk dapatkan ridho suami. Dalam sebuah hadits shohih disebutkan ’Ayyumam roatin maatat wa zaujuha ‘anha roodhin dakholatil jannah’  Yang artinya ’Seorang istri meninggal dunia dan suaminya ridho sepenuhnya kepadanya, maka langsung masuk syurga’. Selebihnya, itu cuma fungsi-fungsi sekunder dari suami. Kejar dulu yang utama ini. Suami ngga kasih nafkah ya ngga apa-apa, yang penting sudah jadi suami Nisa. Jangan lepaskan, jangan dicerai. Biarkan dia jadi tameng saja bagi neraka. Kalau cerai, nanti Nisa langsung berhadapan dengan api neraka. Dosa-dosa  ngga ada yang menghapusnya, kecuali amalan Nisa sangat spesial dan udah ngga ada dosa sama sekali. Nisa tinggal cari ridhonya Pak Ahmad. Kalau memang Nisa selama ini yang cari nafkah ya ngga apa-apa. Semua harta yang Nisa berikan ke anak dan rumah tangga itu semuanya terhitung sedekah yang sangat mulia. Jauh lebih mulia daripada sedekah ke anak yatim.”

”Koq bisa lebih mulia dari anak yatim?”

”Ya karena anak yatim ini bukan bagian dari hidup kita. Memberikannya adalah sedekah yang hukumnya sunnah. Sementara suami, sudah terikat dengan akad nikah, sudah menjadi bagian dari Nisa. Silahkan dibagi sedekah untuk orang lain dengan sedekah untuk keluarga, tapi yang untuk keluarga, itu yang lebih utama.”

”Tapi, kalau suami zalim bagaimana? Dia bukannya miskin Mii…tapi duitnya untuk isteri pertama semua. Dia anggab aku ini sudah mandiri, bisa cari uang sendiri. Tapi aku kan punya hak untuk dinafkahi Mii”

”Ya ngga apa-apa juga. Tetap dipertahankan. Karena semua perbuatan zalim akan kembali kepada yang melakukannya. Suami akan menanggung akibat yang dilakukannya. Siksaan Allah sangat pedih bagi suami yang tega menyakiti keluarganya. Sementara Nisa fokus aja terus cari ridhonya suami.”

 

“Jadi…sampai kapan aku harus bertahan seperti ini?”

“Sampai Allah mengizinkan suamimu kembali dan membuatmu tersenyum ceria. Belajarlah dari Siti Hajar!” jawabku mengakhiri diskusi terapi hari ini.

Selamat Idul Adha 1441 H. Perempuan tangguh. Perempuan bahagia.

 

 

 

Ajakan Kebaikan, Menerbitkan dan Membeli Buku

Kabar gembira ni guys,!

Buat kamu yang hobi nulis, hobi corat coret kertas or buku diari, hobi ketik karya puisi, cerita pendek, novel atau artikel ilmiah. Nah…ayo kirim ke kami naskah anda supaya diterbitkan. Daripada hilang….daripada terbuang…daripada hanya tersimpan. Sayang kan? sudah capek nulis, capek ngetik, capek berkarya tapi tidak ada wujudnya. Yuk…buruan dah…..kirim naskahnya…terbitkan bersama kami. Ini alurnya…..baca baik-baik ya..

Jika berminat langsung aja ikuti tahapannya.

Ini ada beberapa contoh karya yang sudah kami terbitkan. Bisa di order juga ya guys. Pemesanan/pembelian via online di wa 0852-6788-7453.

Judul: Memori Onde-onde (Antologi Cerpen)

Penulis: Egi Seliyanti, dkk. (Pelajar di SMP N 1 Kota Tegal, Jateng)

ISBN: dalam proses

Jumlah halaman: 268 Hal, ukuran buku 13 x 19 cm

Cetakan Pertama: Oktober 2019

Sinopsis:

Angin pagi berhembus mencium pipiku. Kicauan burung menjadi lagu pertama yang ku dengar. Aku adalah Zeno Pratama. Seorang pengusaha muda kuliner khas Indonesia yang baru menamatkan kuliah S1 bidang akutansi

Hidupku berubah drastis setelah bertemu kembali dengan dia. Aku jadi ingat kenangan itu saat masih SMA. Ku hirup udara taman dekat gedung perusahaan dalam-dalam dan mulai bernostalgia dengan kenangan lama.

 

Judul: Fenomena Dua JEJAK (Antologi Puisi)

Penulis: Budi Susanto Diporedjo (Guru SMPN 2 Girisubo, Gunungkidul, Yogyakarta)

ISBN: 978-623-90806-2-4

Jumlah Halaman: 125 Halaman, ukuran buku 13 x 19 cm

Cetakan pertama: September 2019

Harga jual Rp.47.000,- Via Wa 0852-6788-7453 (Hasil penjualan disumbangkan untuk biaya operasional pendidikan Pekerja Anak yang sekolah Paket A/B/C di PKBM Az zahra Kepahiang)

Kata Penulis: Menulis puisi bagi saya adalah kebiasaan. Spontanitas. Bentuk respons ketika jiwa bersentuhan dengan aura tertentu dalam keseharian. Tanpa basa-basi terkemas dalam kata indah. Apa adanya. Vulgar.

Sebagaimana lainnya. Ada kalanya merasa heran, kaget, takut, marah, benci, rindu, bimbang, bahkan hampir putus asa menjalani kehidupan yang kian kompleks ini. Tapi karena saya terlahir sebagai orang yang tidak tertarik pada kekerasan verbal, aksi massa, maupun ingar bingar lainnya, semua tertumpah dalam kata yang lazim disebut antologi ini.

 

Judul: Epilog Dua Hati (Antologi Cerpen)

Penulis: Dwi D Pratiwi, dkk. (Alumni kelas menulis Sabusabu Az zahra angkatan ke-3)

ISBN: 978-623-90806-1-7

Jumlah halaman: 202 Hal, ukuran buku 13 x 19 cm

Cetakan Pertama: Juli 2019

Harga jual Rp.55.000,- Via Wa 0852-6788-7453 (Hasil penjualan disumbangkan untuk biaya operasional pendidikan Pekerja Anak yang sekolah Paket A/B/C di PKBM Az zahra Kepahiang)

Sinopsis:

Semua persiapan pernikahan berjalan sempurna, tinggal menunggu hari. Aku nelangsa. Pagi tadi aku mendapat kabar yang membuatku shock, dia kembali. Edwar, yang semula mengirim permintaan pertemanan di facebook dengan nama samaran “angin laut”, mengirimkan pesan.

“Assalamualaikum Via. Aku Edwar. Apa kabar?” mesengger darinya yang mampu mengobrak-abrik perasaanku.

Kubuka profilnya di facebook.  Tidak banyak informasi yang bisa kudapat tentangnya. Foto profilnya pun hanya berupa petikan foto pemandangan lautan yang luas. Mengapa harus memakai nama lain saat dia mengirimkan permintaan pertemanan itu? Seandainya aku tahu dari awal bahwa angin laut itu adalah dia, mungkin aku tidak perlu tersiksa lama dalam kerinduanku. Gerakan jari-jariku menari dan berlomba mengetik huruf perhuruf di layar handphone tak mampu kukendalikan. Aku seakan lupa semuanya, bahkan tentang Ilham.

“Alhamdulillah baik. Bagaimana kabarmu?” inginku bertanya lebih. Banyak hal yang ingin kuketahui tentangnya sekarang. Sosok Edwar kembali memenuhi benakku. Sosoknya yang tinggi jangkung, matanya yang sipit dan senyumannya yang menawan kembali berkelebat. Aku merindukannya.

 

Judul: MELAWAN RASA (Antologi Cerpen)

Penulis: Fromes Media Bagite, dkk. (Karya alumni kelas menulis Sabusabu Az zahra angkatan ke-2)

ISBN: 978-602-53476-8-9

Jumlah 233 halaman, ukuran 13 x 19 cm

Cetakan pertama: April 2019

Harga jual Rp.62.000,- Via Wa 0852-6788-7453 (Hasil penjualan disumbangkan untuk biaya operasional pendidikan Pekerja Anak yang sekolah Paket A/B/C di PKBM Az zahra Kepahiang)

Sinopsis:

Semuanya berubah ketika suamiku pulang larut malam bahkan subuh menjelang, aroma alkohol tercium dari mulutnya. Ia menjadi pecandu Narkoba, memakai shabu-shabu yang menyebabkan ia bertahan tidak tidur selama dua hari dua malam dan tidak ada nafsu makan.

Rasa menghargai itu tak ada lagi, rasa cinta pun beralih entah kemana. Mata dengan tatapan kasih itu tak pernah kutemui lagi. Aku berjuang untuk pernikahan ini, untuk tetap dirumah ini demi buah hatiku. Aku berjuang secara ekonomi dan finansial.

Gruubakkk….! terdengar suara pintu rumah terbuka, disusul deru motor. Jam dinding menunjukkan pukul 2 pagi, aku tergopoh gopoh keluar dari balik kelambu tempat tidur. Menuju ruang tengah dan menghidupkan lampu ruang tamu. Rambutku acak-acakan, dasterku berbau ompol dan air susu.

“Uaakkk…uakkk…. ” terdengar rintihan suara, muntah berserakan di lantai, suamiku berbaring diambal depan televisi.

 

Judul: Dandelion (Antologi Cerpen)

Penulis: Leci Zohar, dkk. (Alumni kelas menulis Sabusabu Az zahra angkatan ke-1)

ISBN: 978-602-53476-6-5

Jumlah 274 halaman, ukuran 13 x 19 cm

Cetakan Pertama: Maret 2019

Harga Jual: Rp.69.000,-  Via Wa 0852-6788-7453 (Hasil penjualan disumbangkan untuk biaya operasional pendidikan Pekerja Anak yang sekolah Paket A/B/C di PKBM Az zahra Kepahiang)

Sinopsis:

“Dasar Pelakor! Plak! Plak!” tak terkendali tanganku sudah mendarat tanpa hambatan di pipi mulus Dina.

Sebuah tangan besar berusaha mencegahku, “Jangan kurang ajar Irwan!! Dia ibu mu sekarang!” Nanar kutatap wajah ayahku. Aku tersakiti kembali, aku mau mati, duniaku terbalik duniaku hancur. Terbayang wajah ibuku, wajah sendu ibuku, wajah tanpa dosa dan tak berdaya, wajah ibu yang menantikan kehadiran ayah di saat- saat terakhir hembusan nafasnya.

Kucengram kerah baju ayah, tubuh ayahku yang gempal terasa mengambang di udara. Kuhempaskan tubuh gempal itu ke arah sofa, tak kuasa kutahan tangis amarahku, aku berlutut di kaki ayah, aku bersimpuh dan aku meratap.

“Apa kesalahan ibu ayah? Dosa apa yang telah ibu perbuat pada ayah? Adakah kata-kata ibu menyakiti perasaan ayah? Adakah pelayanan ibu tak baik pada ayah sehingga ayah tega berlaku seperti ini pada ibu?” Kupeluk erat kaki ayahku, seperti anak kecil memohon ampun. Hatiku hancur berkeping-keping,  mengingat sosok ibu yang begitu mengabdi pada ayah, memenuhi semua kebutuhan hidup ayah.

Namun tangisku tak juga mampu membuka jendela hati ayah. Rayuan dan ratapanku yang mengharu biru tak jua meluluhkan perasaannya. Dia tak bergeming, dan pergi meninggalkan rumah dengan Dina. Pacar yang kini menjadi ibu tiriku.

Aku meratapi dukaku dan duka ibuku. Duka ini tak jua kunjung berakhir. Duhai Ibu, dukamu telah kau bawa hingga liang lahat, sedangkan dukaku baru di mulai hari ini.

 

Judul: Perjalanan Pembuktian Cinta (Novel)

Penulis: Susilaeviyanti (Alumni Kelas menulis Sabusabu Az zahra)

ISBN : 978-623-90806-0-0

Harga Jual Rp.63.000,-

Sinopsis:

“Begini, Silla sebenarnya aku menyukai kamu” ucapnya sambil menunduk.

“Apa….!? Fian kamu becanda kan?, Hahahaha…kamu lucu juga ya becanda nya” nampak Silla tertawa lepas mendengar ucapan tersebut.

“Tidak Silla, tidak bercanda, aku serius sejak pertama kita bertemu aku jatuh cinta sama kamu”, kembali Fian menyampaikan perasaannya terhadap Silla. Namun semua ucapan Fian membuat Silla tertawa semakin lucu.

“Fian umur  kamu  berapa sekarang?”,Silla mencoba bertanya kepada Fian.

“Umurku sekarang baru 16 tahun. Kenapa kamu mempertanyakan tentang umur? ” Fian balik bertanya.

“Hahaha…aduh…Fian kamu ini lucu banget ya” kembali Silla  tertawa  dengan sikap Fian. Fian pun menunduk mendengar kata-kata Silla barusan.

“Fian, kamu itu lebih pantas jadi adik ku!” masih dengan menahan tawanya Silla memandang ke arah Fian.

“Dan kamu harus tahu kalau aku ini punya anak atau singel parent” Silla mencoba menyatakan statusnya.

“Maksud kamu?” tanya Fian dengan wajah tercengang.

 

Judul: Mikrofthalmia, Dua Mata Tapi Tak Sama

Penulis: Siti Asma (Alumni Kelas Menulis Sabusabu Az zahra)

ISBN: 978-602-53476-9-6

Cetakan pertama :  Mei 2019, Cetakan kedua: Agustus 2019

Harga Jual: Rp.55.000,-

Sinopsis:

“Dokter, kenapa mata anak saya satunya belum buka dok?”

Dokter memeriksa mata bayiku dan ia juga terkejut. Saat ia menyambut bayiku ia tidak melihat ada tanda-tanda yang kurang pada pasiennya. Namun ia berusaha tenang, agar aku tidak panik.

Nanti saya akan meminta dokter spesialis anak untuk memeriksanya. Keesokan harinya dokter spesialis anak pun datang dan langsung melihatnya.

Ia berkata “Sus, tolong hubungi spesialis mata ya, segera!” perintahnya.

Suster berlari keruang tunggu dan menghubungi dokter spesialis anak.

Aku dan suamiku semakin khawatir terhadap anak kami. Dokter belum mau memberitahu diagnosanya. Tak lama kemudian dokter spesialis mata tiba. Ia mendiagnosa Mikrofthalmia yang berarti mata anak kami tidak berkembang sempurna sejak dalam kandungan. Faktor penyebabnya adalah genetik dan keturunan. Tindakan yang harus kita lakukan adalah Operasi.

 

Judul: Edelweis, Catatan Seorang Bidan

Penulis: Leci Meipronika (Alumni Kelas Menulis Sabusabu Az zahra)

ISBN : 9-786025-347672

Cetakan Pertama: April 2019

Harga Jual: Rp. 68.000,-

Sinopsis:

“Bu, jangan seperti ini! Ayo…, bagus-bagus seperti yang saya ajarkan tadi” kuraih kembali tangannya ke arah lipat paha.

“Ah…Ah…Naaah…naaaan” dia kembali melepaskan tanganku.

Aku beberapa kali memberikan intruksi tak pernah di perhatikan dan terus saja di abaikan, membuatku merasa di tolak. Apakah ibu ini tidak berkenan di tolong olehku? Segera ku mundur dalam kebingungan dan tersinggung.

“Ayuk aku koh tuli dan bisu Buk” terang  Eni tanggab karena melihat kebingungan ku.

“Astagfirullah, aku telah berpikiran buruk” bisikku dalam hati. Dan aku bertambah bingung dengan keterangan yang baru saja aku dapatkan. Pasien ini bisu dan tuli? Pantas saja dia tidak menuruti perintahku. Ini pertama kalinya aku menangani pasien disabilitas. Bagaimana ini? Ketakutanku berkali lipat dari sebelumnya.

Judul: Hamari Adhuri Kahani Kisah Kita Yang Belum Tuntas

Penulis: Umi Yesi

Harga jual Rp.66.000,- Via Wa 0852-6788-7453 (Hasil penjualan disumbangkan untuk biaya operasional pendidikan Pekerja Anak yang sekolah Paket A/B/C di PKBM Az zahra Kepahiang)

Sinopsis

Aku terpana, terkejut luar biasa. Mas Andre!!, lelaki itu hadir tepat didepanku. Hatiku berdegub kencang, keseimbanganku goyah. Namun kaki tak mampu bergerak melangkah. Diam seribu bahasa di depan pintu kantor kakakku.

Lelaki berbaju batik biru tersebut berdiri dan mendekat kearah pintu. Matanya tajam seolah membiusku. Sekilas tampak siluet tajam golok perantara berkelebat dianganku. Mengores luka persis menuju jantungku. Aku hendak lari, namun mata kakakku memandang ekspresiku penuh tanda tanya. Mengurungkan langkah kaki yang hendak menghindar pergi.

Langkahnya semakin dekat, hingga persis berdiri sejajar didepanku. Buru-buru aku tundukkan pandangan. Tak mampu menatap matanya yang tajam dan garang. Dia menutup kedua tangannya di dada dan sedikit membungkukkan badan. Sayup-sayup aku mendengar dia berkata, “Kisah kita belum tuntas Hanum!” Hamari Adhuri Kahani.

Judul: Tak Cukup dengan Mimpi

Penulis: Umi Yesi

ISBN : 978-602-53476-0-3

Harga jual Rp.60.000,- Via Wa 0852-6788-7453 (Hasil penjualan disumbangkan untuk biaya operasional pendidikan Pekerja Anak yang sekolah Paket A/B/C di PKBM Az zahra Kepahiang)

Sinopsis:

Tak Cukup dengan Mimpi adalah kumpulan kisah inspiratif peserta didik yang mengikuti Program Pendidikan Kesetaraan (Paket A, Paket B, Paket C) dan perjuangan para tutor dalam pengabdiannya di PKBM Az Zahra Kepahiang, Bengkulu.

Buku ini akan menjadi kenangan dan karya nyata pelaksanaan program peningkatan minat baca, seni dan budaya. Upaya kami dalam menyampaikan pesan lewat buku dan tulisan serta mendukung gerakan literasi di Indonesia.

 

 

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang