"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Dana Indonesia

Prof. Sarwit: Kebudayaan Sebagai Jantung Penciptaan Motif Batik Sejati

Menghidupkan Kembali Ruh Leluhur: Kebudayaan Sebagai Jantung Penciptaan Motif Batik Sejati

Pemateri ketiga dalam kegiatan Lokakarya (Workshop) Inovasi Batik Diwo Berbasis Budaya Rejang adalah Prof. Sarwit Sarwono.

Dalam pandangan Prof. Sarwit—seorang akademisi dan pakar budaya—batik memiliki kedudukan yang jauh lebih agung daripada sekadar lembaran kain bermotif untuk penutup tubuh. Dalam paparannya, beliau menegaskan satu prinsip mendasar: Batik sejati adalah karya yang dilahirkan dari kehangatan malam (lilin) dan goresan canting, bukan kain tekstil bermotif yang dicetak secara massal oleh mesin (printing).

Proses menorehkan malam melalui ujung canting adalah sebuah laku spiritual dan kesabaran. Di situlah letak “ruh” dari batik. Kain printing mungkin bisa meniru gambarnya, namun tidak akan pernah bisa merekam jejak perasaan, doa, dan nilai budaya dari sang pembuatnya. Oleh karena itu, Prof. Sarwit berpesan bahwa kebudayaan lokal harus menjadi mata air atau sumber inspirasi utama dalam penciptaan dan pengembangan inovasi motif batik, khususnya di Bengkulu.

Bagi beliau, kekayaan budaya—mulai dari sistem kekerabatan, tatanan sosial, hingga pandangan hidup masyarakat adat—dapat ditransformasikan menjadi “manuskrip visual” yang bernilai tinggi. Beliau menjabarkan bagaimana elemen-elemen kebudayaan dan relasi antarmanusia dapat diterjemahkan secara puitis ke dalam simbol-simbol grafis melalui tetesan canting:

  1. Filosofi Titik dan Lingkaran: Dalam desain motif, bentuk lingkaran atau titik yang digoreskan sering kali disimbolkan sebagai representasi dari eksistensi perempuan, yang menjadi poros atau pusat dari kehidupan dan kasih sayang di dalam keluarga.
  2. Garis Keturunan dan Kekerabatan: Hubungan antarmanusia, baik secara genealogis (pertalian darah) maupun sosial, diekspresikan melalui ketegasan garis vertikal dan horizontal. Garis-garis ini melambangkan alur keturunan, hierarki penghormatan, serta jalinan ikatan kekeluargaan yang saling menyokong satu sama lain.
  3. Simbol Harmoni dan Kesatuan: Figur manusia serta elemen-elemen grafis tambahan lainnya dirancang sedemikian rupa untuk menciptakan keseimbangan visual. Penggabungan berbagai bentuk ini bukanlah tanpa alasan; ia merupakan simbol kuat dari persatuan, keutuhan, dan keharmonisan hidup bermasyarakat yang saling berdampingan.

Inti Pesan yang Menggugah:

Melalui paparannya, Prof. Sarwit sesungguhnya sedang mengajak para seniman, pembatik, dan penggiat budaya untuk melakukan perenungan kembali. Mengembangkan motif batik baru sangat diperbolehkan dan didorong, asalkan penciptaannya “digali” dari rahim kebudayaan sendiri dan diproses sebagaimana khitah batik itu sendiri—yakni dicanting atau dicap dengan malam.

Dengan demikian, saat selembar kain Batik Diwo dikenakan oleh generasi masa kini, mereka tidak hanya sedang memakai sebuah karya fashion, melainkan sedang “mengenakan” doa, tata krama, dan keagungan peradaban leluhurnya yang diukir dengan kesabaran tingkat tinggi. Inilah cara paling indah untuk memastikan kebudayaan tidak tergerus oleh era mekanisasi (printing), melainkan terus berdenyut seiring hela napas peradaban manusia.

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang