LPDP
KABAR GEMBIRA! Pengumuman Kreator Motif Pendei Terpilih
KABAR GEMBIRA! Pengumuman Kreator Motif Pendei Terpilih
Salam Budaya! ✨
Seperti yang kita ketahui, Pendei adalah lambang kebesaran Kutei atau Petulai, sebuah pernyataan luhur tentang keselarasan dan kesatuan Suku Rejang dengan alam semesta. Mahakarya yang memadukan hasil ladang, peralatan kerja, perabotan, hingga senjata ini selalu menjadi primadona dalam momen sakral seperti pesta adat (bekejei), panen raya, hingga penyambutan tamu agung.
Melalui sinergi dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, LPDP, dan Yayasan Az-Zahra Kepahiang, apresiasi terhadap seni budaya ini telah melahirkan karya-karya visual yang memukau.
Dengan bangga dan penuh suka cita, kami mengumumkan nama-nama seniman berbakat yang karyanya berhasil menjadi Motif Pendei Terpilih:
🌟 Andreas Mardiandas
🌟 Nurhayati
🌟 Ayudi
🌟 Jeniar Ferary
🌟 Harpis
🌟 Junita Putri Utami
Selamat kepada para kreator yang terpilih! Karya indah Anda adalah wujud nyata dari upaya merawat napas leluhur dan melestarikan identitas budaya Rejang.
📢 Informasi Penting untuk Kreator Terpilih
Bagi keenam nama di atas, perjalanan berkarya Anda masih berlanjut! Kami sampaikan bahwa Anda dinyatakan LOLOS untuk mengikuti tahapan selanjutnya, yaitu Lokakarya ke-2 yang waktu dan tempat pelaksanaannya akan diinformasikan kemudian.
Mari terus berkarya, bersinergi, dan lestarikan budaya bangsa!

Prof. Sarwit: Kebudayaan Sebagai Jantung Penciptaan Motif Batik Sejati
Menghidupkan Kembali Ruh Leluhur: Kebudayaan Sebagai Jantung Penciptaan Motif Batik Sejati
Pemateri ketiga dalam kegiatan Lokakarya (Workshop) Inovasi Batik Diwo Berbasis Budaya Rejang adalah Prof. Sarwit Sarwono.
Dalam pandangan Prof. Sarwit—seorang akademisi dan pakar budaya—batik memiliki kedudukan yang jauh lebih agung daripada sekadar lembaran kain bermotif untuk penutup tubuh. Dalam paparannya, beliau menegaskan satu prinsip mendasar: Batik sejati adalah karya yang dilahirkan dari kehangatan malam (lilin) dan goresan canting, bukan kain tekstil bermotif yang dicetak secara massal oleh mesin (printing).
Proses menorehkan malam melalui ujung canting adalah sebuah laku spiritual dan kesabaran. Di situlah letak “ruh” dari batik. Kain printing mungkin bisa meniru gambarnya, namun tidak akan pernah bisa merekam jejak perasaan, doa, dan nilai budaya dari sang pembuatnya. Oleh karena itu, Prof. Sarwit berpesan bahwa kebudayaan lokal harus menjadi mata air atau sumber inspirasi utama dalam penciptaan dan pengembangan inovasi motif batik, khususnya di Bengkulu.
Bagi beliau, kekayaan budaya—mulai dari sistem kekerabatan, tatanan sosial, hingga pandangan hidup masyarakat adat—dapat ditransformasikan menjadi “manuskrip visual” yang bernilai tinggi. Beliau menjabarkan bagaimana elemen-elemen kebudayaan dan relasi antarmanusia dapat diterjemahkan secara puitis ke dalam simbol-simbol grafis melalui tetesan canting:
- Filosofi Titik dan Lingkaran: Dalam desain motif, bentuk lingkaran atau titik yang digoreskan sering kali disimbolkan sebagai representasi dari eksistensi perempuan, yang menjadi poros atau pusat dari kehidupan dan kasih sayang di dalam keluarga.
- Garis Keturunan dan Kekerabatan: Hubungan antarmanusia, baik secara genealogis (pertalian darah) maupun sosial, diekspresikan melalui ketegasan garis vertikal dan horizontal. Garis-garis ini melambangkan alur keturunan, hierarki penghormatan, serta jalinan ikatan kekeluargaan yang saling menyokong satu sama lain.
- Simbol Harmoni dan Kesatuan: Figur manusia serta elemen-elemen grafis tambahan lainnya dirancang sedemikian rupa untuk menciptakan keseimbangan visual. Penggabungan berbagai bentuk ini bukanlah tanpa alasan; ia merupakan simbol kuat dari persatuan, keutuhan, dan keharmonisan hidup bermasyarakat yang saling berdampingan.
Inti Pesan yang Menggugah:
Melalui paparannya, Prof. Sarwit sesungguhnya sedang mengajak para seniman, pembatik, dan penggiat budaya untuk melakukan perenungan kembali. Mengembangkan motif batik baru sangat diperbolehkan dan didorong, asalkan penciptaannya “digali” dari rahim kebudayaan sendiri dan diproses sebagaimana khitah batik itu sendiri—yakni dicanting atau dicap dengan malam.
Dengan demikian, saat selembar kain Batik Diwo dikenakan oleh generasi masa kini, mereka tidak hanya sedang memakai sebuah karya fashion, melainkan sedang “mengenakan” doa, tata krama, dan keagungan peradaban leluhurnya yang diukir dengan kesabaran tingkat tinggi. Inilah cara paling indah untuk memastikan kebudayaan tidak tergerus oleh era mekanisasi (printing), melainkan terus berdenyut seiring hela napas peradaban manusia.

BPK Wilayah VII: Batik Diwo dan Pemajuan Kebudayaan
“Batik Diwo dan Pemajuan Kebudayaan”
Hari ini, 14 Maret 2026 telah dilaksanakan kegiatan lokakarya Inovasi Motif Batik Diwo Berbasis Budaya Rejang kerja sama Yayasan Az zahra Kepahiang yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI dan Dana Indonesiana LPDP
Bapak Rois Leonard Arios,S.Sos., M.Si. (Pamong Budaya dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII Provinsi Bengkulu – Lampung, Kementerian Kebudayaan) sebagai narasumber pertama. Dalam kesempatan tersebut, beliau memaparkan materi komprehensif bertajuk “Warisan Budaya Takbenda Indonesia: Batik Diwo dan Pemajuan Kebudayaan”.
Selama kegiatan berlangsung, pemaparan materi difokuskan pada langkah-langkah strategis pelindungan dan pelestarian Batik Diwo sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Adapun poin-poin utama yang telah dibahas dan didiskusikan bersama para peserta meliputi:
- Konsep Pelindungan Budaya: Pemahaman mendasar mengenai perbedaan pelindungan cagar budaya (Benda) dan Warisan Budaya Takbenda (Takbenda), serta pentingnya ekosistem pemajuan kebudayaan di masyarakat.
- Identifikasi dan Sejarah Warisan Budaya: Para peserta diajak untuk membedah unsur sejarah Batik Diwo, mulai dari asal-usul penamaan, persebaran geografis, hingga evaluasi kondisi warisan budaya tersebut di masa kini (apakah masih bertahan, berkurang, atau terancam punah).
- Nilai, Makna, dan Fungsi: Pembahasan mendalam mengenai nilai luhur, makna filosofis, serta fungsi sosial dan ekonomi yang terkandung dalam setiap motif Batik Diwo bagi masyarakat pendukungnya.
- Karakteristik Khusus Batik Diwo: Mengupas teknis dan narasi Batik Diwo, seperti proses penciptaan awal, penggunaan alat (canting dan lilin panas), hal yang membedakannya dengan batik dari daerah lain, hingga bagaimana upaya pewarisan (transmisi) pengetahuan dari para maestro kepada generasi penerus.
Kegiatan ini berjalan dengan lancar dan interaktif. Melalui pemaparan ini, diharapkan upaya pencatatan, pendokumentasian, dan inovasi Batik Diwo ke depannya memiliki landasan sejarah dan filosofis yang kuat, sehingga siap diusulkan maupun dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Takbenda kebanggaan daerah dan nasional.



