Batik Diwo Kepahiang
Lebih dari Sekadar Warisan, Sekda Kepahiang Tegaskan Komitmen Pemda Jadikan Batik Diwo Penggerak Ekonomi Kreatif
Lebih dari Sekadar Warisan, Sekda Kepahiang Tegaskan Komitmen Pemda Jadikan Batik Diwo Penggerak Ekonomi Kreatif
KEPAHIANG (14/3/2026) – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kepahiang, Dr. Hartono, S.Pd., S.H., M.Pd., M.H., menegaskan komitmen dan dukungan penuh Pemerintah Daerah (Pemda) terhadap pelestarian sekaligus komersialisasi Batik Diwo. Pernyataan menggugah ini disampaikannya saat menjadi narasumber dalam agenda “Lokakarya Inovasi Motif Batik Diwo Berbasis Budaya Rejang” yang diselenggarakan Yayasan Az zahra Kepahiang kerja sama dengan Kementerian Kebudayaan RI dan Dana Indonesiana LPDP di hotel Umro Kepahiang.
Dalam paparannya, Dr. Hartono menekankan bahwa Batik Diwo jauh lebih besar maknanya daripada sekadar lembaran kain bermotif. Batik Diwo adalah identitas, kebanggaan, dan warisan leluhur masyarakat Kepahiang yang sarat akan nilai filosofis. Eksistensi karya budaya ini bahkan telah dilindungi secara resmi melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 11 Tahun 2016 tentang Hukum Adat Rejang.
“Ini adalah warisan luhur yang harus kita jaga bersama. Inovasi motif yang dilahirkan oleh para seniman hari ini sangat luar biasa, namun saya berpesan, pastikan karya tersebut tetap bersumber dari nilai-nilai adat agar tidak kehilangan jiwa-nya,” ujar Dr. Hartono di hadapan para peserta lokakarya.
Lebih lanjut, birokrat yang juga tokoh pendidikan ini menyadari bahwa pelestarian budaya tidak akan berjalan optimal tanpa adanya dukungan perputaran ekonomi bagi para pengrajin. Menjawab tantangan tersebut, ia menegaskan bahwa ‘Negara telah hadir’ untuk menciptakan pasar yang pasti (demand).
Melalui Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 1 Tahun 2017 dan regulasi teranyar Peraturan Gubernur (Pergub) Bengkulu Nomor 11 Tahun 2025, pemerintah mewajibkan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemkab Kepahiang dan Pemprov Bengkulu untuk mengenakan seragam Batik Diwo pada hari yang telah ditentukan. “Ini adalah aksi nyata. Dengan mewajibkan ASN memakai Batik Diwo, kita menciptakan pasar yang pasti bagi para pengrajin lokal sekaligus menumbuhkan rasa bangga saat mengenakan identitas daerah sendiri,” tegasnya.
Tidak berhenti pada penciptaan pasar, Pemkab Kepahiang juga terus mendorong hilirisasi karya budaya ini ke sektor industri kreatif melalui mandat Perda Nomor 4 Tahun 2018. Harapannya, ide dan sketsa motif baru hasil lokakarya dapat segera dikonversi menjadi produk bernilai jual tinggi—baik berupa batik cap maupun tulis—yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kemandirian ekonomi Kepahiang.
Menutup arahannya, Dr. Hartono mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak menyia-nyiakan dukungan pemerintah ini. “Regulasi kita dari Perda Adat hingga Pergub Pakaian Dinas sudah sangat kuat. Kini, tugas kitalah yang harus mengisi regulasi tersebut dengan karya dan aksi nyata. Mari kita pastikan warisan ini terus hidup dan menjadi sejarah yang membanggakan bagi generasi mendatang,” pungkasnya dengan penuh semangat.

BPK Wilayah VII: Batik Diwo dan Pemajuan Kebudayaan
“Batik Diwo dan Pemajuan Kebudayaan”
Hari ini, 14 Maret 2026 telah dilaksanakan kegiatan lokakarya Inovasi Motif Batik Diwo Berbasis Budaya Rejang kerja sama Yayasan Az zahra Kepahiang yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI dan Dana Indonesiana LPDP
Bapak Rois Leonard Arios,S.Sos., M.Si. (Pamong Budaya dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII Provinsi Bengkulu – Lampung, Kementerian Kebudayaan) sebagai narasumber pertama. Dalam kesempatan tersebut, beliau memaparkan materi komprehensif bertajuk “Warisan Budaya Takbenda Indonesia: Batik Diwo dan Pemajuan Kebudayaan”.
Selama kegiatan berlangsung, pemaparan materi difokuskan pada langkah-langkah strategis pelindungan dan pelestarian Batik Diwo sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Adapun poin-poin utama yang telah dibahas dan didiskusikan bersama para peserta meliputi:
- Konsep Pelindungan Budaya: Pemahaman mendasar mengenai perbedaan pelindungan cagar budaya (Benda) dan Warisan Budaya Takbenda (Takbenda), serta pentingnya ekosistem pemajuan kebudayaan di masyarakat.
- Identifikasi dan Sejarah Warisan Budaya: Para peserta diajak untuk membedah unsur sejarah Batik Diwo, mulai dari asal-usul penamaan, persebaran geografis, hingga evaluasi kondisi warisan budaya tersebut di masa kini (apakah masih bertahan, berkurang, atau terancam punah).
- Nilai, Makna, dan Fungsi: Pembahasan mendalam mengenai nilai luhur, makna filosofis, serta fungsi sosial dan ekonomi yang terkandung dalam setiap motif Batik Diwo bagi masyarakat pendukungnya.
- Karakteristik Khusus Batik Diwo: Mengupas teknis dan narasi Batik Diwo, seperti proses penciptaan awal, penggunaan alat (canting dan lilin panas), hal yang membedakannya dengan batik dari daerah lain, hingga bagaimana upaya pewarisan (transmisi) pengetahuan dari para maestro kepada generasi penerus.
Kegiatan ini berjalan dengan lancar dan interaktif. Melalui pemaparan ini, diharapkan upaya pencatatan, pendokumentasian, dan inovasi Batik Diwo ke depannya memiliki landasan sejarah dan filosofis yang kuat, sehingga siap diusulkan maupun dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Takbenda kebanggaan daerah dan nasional.

Menjelajahi Seni Batik Diwo: Dari Ruang Belajar Hingga Produk Unggulan
Menjelajahi Seni Batik Diwo: Dari Ruang Belajar Hingga Produk Unggulan
Setiap hari Senin, suasana di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Az Zahra Kepahiang, terasa berbeda. Aroma lilin panas dan percakapan ringan menyelimuti ruangan, bukan dari materi pelajaran umum, melainkan dari kegiatan membatik.
Di bawah bimbingan telaten Tutor, Erna Wati, para peserta didik Paket C dengan antusias belajar membatik Diwo, sebuah warisan seni khas masyarakat Suku Rejang. Proses belajar ini tidak hanya sekadar praktik, tetapi juga sebuah perjalanan untuk melestarikan budaya lokal.
Suasana belajar yang asyik dan menyenangkan menjadi kunci keberhasilan program ini. Dengan sabar, Umi Erna Wati membimbing setiap tangan, mengajarkan teknik dasar hingga rumit.
Para peserta didik pun bebas berkreasi, menuangkan ide mereka ke atas kain. Tawa, canda, dan diskusi ringan sering terdengar, membuat proses belajar terasa lebih hidup dan santai. Mereka tidak hanya belajar teknik, tetapi juga memahami makna di balik setiap motif yang mereka ciptakan.
Batik Diwo yang dihasilkan di PKBM Az Zahra bukan hanya sekadar karya seni. Ia telah bertransformasi menjadi produk unggulan yang bernilai ekonomi tinggi.
Keunikan motif dan kualitas pengerjaan membuat batik ini diminati oleh banyak orang.
Dengan demikian, PKBM Az Zahra berhasil menunjukkan bahwa pendidikan kesetaraan mampu menciptakan individu yang tidak hanya berwawasan luas, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat membuka peluang ekonomi.
Keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi banyak pihak, membuktikan bahwa pendidikan nonformal bisa menjadi jembatan antara pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi.
Melalui tangan-tangan terampil peserta didik Paket C PKBM Az Zahra, batik Diwo kini lebih dikenal luas dan menjadi kebanggaan masyarakat Kepahiang. Mereka telah membuktikan bahwa belajar itu tidak mengenal batas usia, apalagi harus kaku.
Dengan metode yang tepat, belajar bisa menjadi proses yang produktif dan menyenangkan, yang pada akhirnya membawa manfaat nyata bagi diri sendiri dan komunitas.
Yuk sekolah di Az z Zahra aja.
Pendaftaran peserta didik paket A B dan C masih terbuka.


