"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Batik Diwo Kepahiang

Pelatihan Desain Batik Diwo Kepahiang

Serius menekuni kreasi Batik Diwo Kepahiang, IKM Sumber Hayati bekerjasama dengan Rumah BUMN Kepahiang mengadakan Pelatihan Pola Menjahit dan Desain Batik Diwo.

Kegiatan dibuka oleh Hendra Harumanegara, Manajer ULP PLN Kepahiang, Agung Yudha Prawira, Direktur Pengelola Rumah BUMN PLN Jambi dan Kepahiang. H Husni Thamrin, SE, Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Kepahiang, Agussaman dari Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja serta Padila Sandi Kepala Desa Tebat Monok.

Menurut Nurhayati, Ketua IKM Sumber Hayati, kegiatan ini merupakan pendampingan dan lanjutan proses membatik di Kepahiang. Pendampingan dibantu oleh Rumah BUMN Kepahiang.

Rumah BUMN bertujuan sebagai rumah bersama untuk mendukung Pemberdayaan ekonomi kerakyatan, khususnya bagi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk menjadi tempat berkumpul, belajar dan mendapat binaan agar menjadi UMKM Indonesia yang berkualitas. Serta mendorong para pelaku UMKM dalam menjawab tantangan Peningkatan kompetensi, seperti Riset dan Target Pasar, Proses Produksi dan Pemasaran serta Quality Management hingga Kemudahkan akses Permodalan.

Untuk lebih memperdalam desain batik maka mereka mengundang Pengusaha Batik bernama Hartini. Beliau adalah pemilik perusahaan batik terkenal di Bengkulu dan di Kota Solo dengan brand atik batik. Hadir juga Bu Ade Tarigan, Ketua Kamar dagang dan industri provinsi Bengkulu beserta Pak Baksir sekjen KADIN.

“Pengrajin batik di Kota Solo sangat maju karena ada dukungan pemerintah daerah. Walikota membuat peraturan setiap dinas/instansi wajib memakai batik setiap hari Kamis dan membeli batik dari UMKM yang ada. Tidak boleh membeli di toko atau perusahaan perorangan. Dampaknya pengrajin batik dan UMKM di sana berkembang pesat dan banyak peminatnya. Semoga Kepahiang dapat mencontoh Kota Solo untuk membantu UMKM berkembang” urap Bu Hartini sebelum mempraktekkan cara mendesain Batik.

Peserta pelatihan yang rata-rata perempuan usia produktif berjumlah 20 orang ini sangat antusias mendengarkan materi dan praktek mendesain batik sesuai arahan narasumber. Kegiatan akan berlangsung dua hari yaitu, 29-30 September 2020.

Perempuan Kepahiang Lestarikan Batik Daerah

Batik Diwo sudah ada sejak tahun 1985-1990. Namun nyaris punah. Tidak ada yang membuat dan melestarikannya. Padahal batik ini ciri khas daerah yang bernilai ekonomis tinggi. Pakaian para Raja-Raja Rejang dahulu kala”

Menurut Ibu Nurhayati Founder IKM Sumber Hayati, Diwo berasal dari kata Dewa, nama Diwo dipakai karena baju adat para Raja Suku Rejang. Batik Diwo merupakan varian dari Batik Kaganga (aksara rejang) yang artinya Kepahiang.

Ciri khas Batik Diwo adalah pada motifnya yaitu Selempang emas, Pucuk rebung, Stabik, Bunga bangkai (amorphophallus)/ bunga raflessia, Huruf lingkung/kha ga nga dan motif hasil perkebunan seperti kopi dan lada.

Sangat disayangkan jika batik tradisional ini hilang dari Bumi Sehasen Kabupaten Kepahiang ini. Untuk itu PKBM Az zahra Kepahiang bersama IKM Sumber Hayati berkolaborasi untuk melestarikan batik diwo sehingga kembali berjaya dan dapat menjadi icon di Kabupaten Kepahiang.

“Perempuan Kepahiang akan ikut andil dalam melestarikan batik diwo sebagai warisan sejarah. Kita patut menjaga pakaian khas Raja-Raja Suku Rejang tersebut agar tidak punah” Ujar Umi Yesi Ketua PKBM sekaligus Ketua Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Kabupaten Kepahiang.

MENCIPTAKAN WIRAUSAHA BARU BERSAMA IKM SUMBER HAYATI

Industri Kecil Menengah (IKM) Sumber Hayati adalah mitra PKBM Az zahra Kepahiang dalam program PKW dengan jenis keterampilan Batik Diwo. IKM yang dipimpin Ibu Nurhayati ini eksis mempopulerkan Batik Diwo sebagai batik khas Kabupaten Kepahiang.

Batik Diwo adalah batik khas Kabupaten Kepahiang. Ciri batik ini adalah motif Selempang emas, Stabik, Bunga bangkai (amorphophallus)/ bunga raflessia, Huruf lingkung/kha ga nga dan hasil perkebunan seperti kopi dan lada.

Melalui PKW Batik Diwo ini diharapkan dapat menunjang ekonomi keluarga dan meminimalisir kasus kekerasan terhadap perempuan.

Salah satu penyebab kekerasan adalah faktor ekonomi. Rumah tangga miskin lebih rentan terhadap tindak kekerasan. Maka untuk meningkatkan ekonomi perempuan sekaligus melestarikan warisan leluhur yang hampir punah, Keterampilan Batik Tulis Diwo menjadi menu andalan program PKW.

Program PKW adalah layanan pendidikan melalui kursus dan pelatihan untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan menumbuhkan sikap mental wirausaha dalam mengelola potensi diri dan lingkungan yang dapat dijadikan bekal untuk berwirausaha.

Ibu Nur dan Ernawati akan mengajar keterampilan membatik ini setiap hari Sabtu dan Minggu di Rumah Kreatif Batik Diwo Desa Sidorejo Kabawetan. Masyarakat dapat ikut menyaksikan karya batik tulis tersebut mulai pukul 09.00 s.d 16.00 wib.

Bagi yang berminat order kain batik diwo berupa sapu tangan, syal, taplak meja, dasar baju seragam dan baju batik diwo dapat menghubungi Umi Sriwanti di 0813-6950-9986.

Atau dapat mengunjungi IKM Sumber Hayati Desa Tebat Monok dan menghubungi Ibu Nurhayati di 0813-6746-8605.

BATIK DIWO…AMBO NIAN

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang