"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Perempuan Kepahiang Lestarikan Batik Daerah

Batik Diwo sudah ada sejak tahun 1985-1990. Namun nyaris punah. Tidak ada yang membuat dan melestarikannya. Padahal batik ini ciri khas daerah yang bernilai ekonomis tinggi. Pakaian para Raja-Raja Rejang dahulu kala”

Menurut Ibu Nurhayati Founder IKM Sumber Hayati, Diwo berasal dari kata Dewa, nama Diwo dipakai karena baju adat para Raja Suku Rejang. Batik Diwo merupakan varian dari Batik Kaganga (aksara rejang) yang artinya Kepahiang.

Ciri khas Batik Diwo adalah pada motifnya yaitu Selempang emas, Pucuk rebung, Stabik, Bunga bangkai (amorphophallus)/ bunga raflessia, Huruf lingkung/kha ga nga dan motif hasil perkebunan seperti kopi dan lada.

Sangat disayangkan jika batik tradisional ini hilang dari Bumi Sehasen Kabupaten Kepahiang ini. Untuk itu PKBM Az zahra Kepahiang bersama IKM Sumber Hayati berkolaborasi untuk melestarikan batik diwo sehingga kembali berjaya dan dapat menjadi icon di Kabupaten Kepahiang.

“Perempuan Kepahiang akan ikut andil dalam melestarikan batik diwo sebagai warisan sejarah. Kita patut menjaga pakaian khas Raja-Raja Suku Rejang tersebut agar tidak punah” Ujar Umi Yesi Ketua PKBM sekaligus Ketua Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Kabupaten Kepahiang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

14 − four =