Regi Patrio, dinyatakan menderita sakit Thalasemia sejak berumur 1,5 tahun.
Thalasemia merupakan kelainan genetik yang berkepanjangan, sehingga perawatannya perlu dilakukan seumur hidup. Penderita thalasemia akan melalui transfusi darah berulang untuk menambah sel darah yang kurang. Penyakit thalasemia dapat menyebabkan komplikasi berupa gangguan tumbuh kembang, kerusakan tulang, hingga penyakit jantung.
Sayangnya, Regi putus berobat, sejak Oktober 2017 Regi tidak lagi berobat medis dan tranfusi darah. Orangtua Regi lebih memilih berobat kampung dengan cara dimandikan dan diberi ramu-ramuan.
Kondisi Regi saat ini seperti anak usia 7 tahun dengan postur tubuh layu, perut buncit dan kedua kaki yang mengecil dan tidak bisa berdiri dan berjalan sebagaimana mestinya.
“Regi tidak mau tranfusi darah lagi karena pernah mengalami kejang saat tranfusi darah tiga tahun yang lalu.” ujar Pak Suanto, ayah Regi yang berprofesi sebagai tukang becak.
Umi Yesi, Ketua Yayasan Az zahra Kepahiang sekaligus Ketua Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Kab Kepahiang langsung berkunjung untuk menengok kondisi Regi.
Saat ini usia Regi sudah 14 tahun, seharusnya sudah SMP. Namun Regi hanya dua minggu mengecap bangku Sekolah Dasar dan putus sekolah akibat penyakitnya.
Mendengar informasi tersebut Umi Yesi langsung menawarkan program paket A setara SD untuk Regi.
“Regi bisa sekolah di Az zahra, gratis. Sekolahnya setiap hari Jumat dan Sabtu.”
Regi mengangguk tanda mengiyakan. Insyaallah minggu depan Regi dapat mulai sekolah lagi. Meski kondisinya tidak bisa berdiri, dia bisa duduk dengan bimbingan khusus.
Sementara itu untuk membantu transfusi darah kembali, Umi Yesi menghubungi Ibu Reka, anggota IKAD yang getol memperjuangkan nasib anak thalasemia di Kepahiang.
Golongan darah Regi adalah O. Maka dibutuhkan pendonor dengan golongan darah tersebut. Biasanya sekali transfusi, Regi membutuhkan 4 sampai 5 kantong darah.
Bagi kawan-kawan yang ingin menjenguk dan membantu Regi dapat menemui di alamatnya, belakang SD 09 gang flmboyan RT.03 RW.05 no.44 Kelurahan Pasar Ujung Kecamatan Kepahiang.
Dan bagi para dermawan semoga bisa membantu Regi untuk berobat dan transfusi darah lagi. Yang ingin berdonasi bisa melalui Nomor Rekening Donasi Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Kepahiang : 562201017469531 a/n Fromes Media Bagite.
“Alhamdulillah…saya bangga PKBM Az zahra berhasil mendidik anak-anak ini hingga menang di tingkat nasional. Selaku Kepala Daerah saya mengucapkan terimakasih telah mengharumkan nama Kabupaten Kepahiang di kancah Nasional. Ini bukti bahwa pendidikan kesetaraan layak mendapat perhatian dan bisa eksis di tengah masyarakat kita. Bahkan siswa paket abc yang bersekolah di PKBM lebih banyak mendapatkan skills atau vokasi guna menunjang pendidikan sepanjang hayat. Dan menang lomba-lomba seperti ini merupakan keahlian yang tidak semua orang miliki.” (Bupati Kepahiang Dr.Ir Hidayatullah Syahid, M.M.IPU)
Kamis, 30 Juli 2020, pukul 09.00 wib – Umi Yesi, Ketua PKBM Az zahra Kepahiang mengajak 4 orang siswa beserta orangtuanya menghadiri undangan Bupati Kepahiang Dr.Ir Hidayatullah Syahid, M.M.IPU di kantornya.
Sesampai di sana, setelah melakukan pengecekan protokol kesehatan, mereka langsung diterima Bupati Kepahiang dengan senyum ramahnya. Hadir juga Pak Dr.Hartono, M.Pd. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab Kepahiang dan Pak Ardiansyah Kepala BKD Kepahiang.
Umi Yesi melaporkan bahwa siswa-siswi ini adalah peserta didik program kesetaraan paket abc yang berhasil menang lomba tingkat nasional dalam rangka hari lahir pancasila yang dilaksanakan pada tanggal 1-21 Juni 2020 oleh Pusat Penguatan Karakter Kemdikbud RI.
“Ada Sembilan siswa program kesetaraan paket abc yang diikutsertakan dalam lomba tersebut, dan Alhamdulillah empat orang ini berhasil menjadi pemenang dengan kategori Lomba Baca Puisi, Menulis Puisi dan Cipta Video Tiktok Pancasila” ujar beliau.
Siswa-siswi yang berprestasi ini adalah:
Wahyudi kategori baca puisi
Junita Wati kategori baca puisi
Rio Aroba kategori menulis puisi
Fitri Jaya Melinda kategori Video Tiktok Pancasila
Dalam sabutannya, Bupati menyampaikan rasa bangga dan terimakasih kepada empat siswa berprestasi tingkat nasional yang telah mengharumkan nama daerah Kabupaten Kepahiang di kanca nasional.
“Praktik baik seperti ini patut kita apresiasi, atas nama Kepala Daerah saya ucapkan terimakasih. Saya bangga ada anak yang sekolah di PKBM dan berprestasi. Kalian sama dan setara,…jangan minder sekolah di paket. Asah terus keterampilan dan vokasi yang kalian miliki. Ikuti perlombaan yang ada dan jangan menyerah. Belajar dengan semangat. Nanti kalian bisa sukses… “ pesan Bupati Kepahiang.
Sebagai bentuk penghargaan dari Pemerintah Daerah Kepahiang siswa berprestasi mendapat plakat ucapan dan uang tunai sebesar 3 juta rupiah yang diberikan langsung oleh Pak Bupati kepada siswa dan orangtuanya.
Sebelumnya mereka juga telah mendapat reward uang sebesar 2 juta rupiah dari Bapak Dr. Hartono, M.Pd. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepahiang.
“Anak-anakku harus semangat, jangan minder sekolah Paket atau swasta. Bapak dulu cuma SD yang sekolah negeri, selebihnya sekolah swasta. Alhamdulillah bisa jadi guru dan jadi Kepala Dinas sekarang!”
Dr. Hartono, M.Pd – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepahiang
Dr. Hartono, M.Pd. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepahiang berkunjung ke PKBM Az Zahra Kepahiang untuk bertemu “Anak Istimewa” yang menjadi pemenang lomba tingkat nasional pada peringatan hari lahir pancasila. Keempat anak yang berhasil mengharumkan Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu itu adalah Wahyudi, Junita Wati, Rio Aroba dan Fitri Jaya Melinda.
Keempat anak istimewa tersebut adalah pemenang lomba dalam rangka memperingati Hari lahir Pancasila untuk jenjang SD/SMP/SMA/Sederajat yang dilaksanakan pada tanggal 1-20 Juni 2020. Pemenang lomba diumumkan tanggal 30 Juni 2020. Dengan tema Aku Kamu Dia Pancasila keempat siswa paket tersebut berhasil masuk kategori 5 besar tingkat nasional dengan jenis lomba membaca puisi, menulis puisi dan cipta video tiktok pancasila.
Wahyudi putus sekolah di kelas 1 SMP karena sering pingsan di sekolah akibat penyakit fisik yang di deritanya. Junita Wati putus sekolah di kelas 5 SD karena permasalahan ekonomi dan keluarga. Rio Aroba putus sekolah kelas 5 SD karena broken home dan punya cita-cita ingin jadi pemain sepakbola professional. Fitri Jaya Melinda lulusan MTs, tidak melanjutkan sekolah karena kondisi matanya yang semakin parah. Beliau menderita kebutaan karena faktor gen.
Menurut Umi Yesi, Ketua PKBM Az zahra Kepahiang, informasi lomba diketahui dari postingan Pak Samto Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus di grup Whatsapps PKBM (Kreatif). Beliau menghimbau agar PKBM sebagai Satuan Pendidikan Nonformal ikut serta dan berkontribusi pada lomba tersebut. Dan Umi meminta para tutor untuk melatih peserta didiknya untuk ikut serta mendaftar dan berkompetisi dengan siswa siswi SD/SMP/SMA/Sederajat.
Untuk kategori satuan pendidikan nonformal, PKBM Az Zahra Kepahiang menjadi satu-satunya pemenang di tingkat nasional.
Hal ini menjadi perhatian khusus Kadis Dikbud Kabupaten Kepahiang. Beliau memberikan reward berupa dana sebesar 2 Juta yang masing-masing mendapatkan Rp.500.000,- (Lima ratus ribu rupiah) kepada peserta lomba.
Pak Hartono juga memberikan Piagam Penghargaan mewakili Kemdikbud yang dikirim lewat JNE beberapa hari yang lalu.
“Kepada ananda Wahyudi, Junita Wati, Rio Aroba dan Fitri…Bapak ucapkan Selamat sebagai Pemenang Lomba. Ini ada sedikit uang bentuk apresiasi dan kebanggaan saya kepada kalian. Tingkatkan lagi prestasinya dan terimakasih sudah mengharumkan nama Kepahiang di tingkat Nasional.”