"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Ryo Coret2: Bekali Peserta Teknik Desain dan Ragam Hias Motif Batik Diwo

Rio Ariyanto Bekali Peserta Teknik Desain dan Ragam Hias Motif Batik Diwo

KEPAHIANG, 15 Maret 2026 – Setelah dibekali dengan kekayaan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) oleh Bapak Emong Soewandi, para peserta “Lokakarya Inovasi Motif Batik Diwo Berbasis Budaya Rejang” di hari kedua ini diajak melangkah ke tahap selanjutnya yang tak kalah krusial: eksekusi visual. Sesi praktik dan perancangan desain ini dipandu langsung oleh Rio Ariyanto, S.Pd., atau yang lebih akrab disapa Ryo Coret2.

Ryo bukanlah nama asing di dunia seni rupa Bengkulu. Berprofesi sebagai Guru Seni Budaya sekaligus ilustrator kawakan, ia telah menelurkan berbagai karya membanggakan, seperti Komik Fatmawati dan Komik Perjuangan Samsidar Yahya yang diterbitkan oleh BPNB. Dengan rekam jejaknya yang kuat di bidang ilustrasi, Ryo hadir membawakan materi bertajuk “Desain & Ragam Hias: Pengembangan ke Seni Batik”.

Dalam paparannya, Ryo menekankan bahwa penciptaan motif batik pada dasarnya adalah bagian dari ilmu Komunikasi Visual. “Desain grafis atau desain motif adalah bentuk komunikasi visual yang menggunakan gambar untuk menyampaikan informasi atau pesan seefektif mungkin,” jelasnya di hadapan para peserta. Artinya, motif Batik Diwo tidak hanya harus terlihat indah, tetapi juga harus mampu “berbicara” dan menyampaikan pesan kebudayaan Rejang secara tepat.

Untuk menjembatani ide-ide kebudayaan (seperti flora, fauna, tarian, dan ritus) menjadi sebuah pola batik yang estetis, Ryo membekali peserta dengan Empat Prinsip Dasar Desain Grafis, yaitu:

  1. Seimbang (Balance): Bagaimana menyusun letak ragam hias pada bidang kain agar tidak terasa berat sebelah, melainkan proporsional dan sedap dipandang.
  2. Fokus (Focus/Emphasis): Menentukan titik pusat perhatian (center of interest) pada kain batik, sehingga ada motif utama yang langsung menangkap mata audiens.
  3. Kontras (Contrast): Permainan perbedaan ukuran, bentuk, maupun ketebalan garis (canting) untuk membedakan mana motif utama, motif pengisi (isian), dan motif pelengkap.
  4. Kesatuan (Unity): Bagaimana merangkai berbagai elemen ragam hias yang berbeda (misalnya flora dan elemen geometris) menjadi satu kesatuan yang harmonis dan tidak saling bertabrakan.

Selain keempat prinsip tersebut, Ryo juga memandu peserta dalam memahami unsur-unsur tata letak (layout) dan ilustrasi, agar sketsa ragam hias yang dibuat di atas kertas nantinya benar-benar aplikatif saat dipindahkan ke atas kain dan dicanting dengan malam panas.

Jembatan Menuju Karya Nyata:

Kehadiran Rio Ariyanto melengkapi kepingan teka-teki ( puzzle ) dalam lokakarya ini. Jika pemateri sebelumnya bertugas mengisi “ruh” dan filosofi budaya ke dalam pikiran peserta, maka Ryo bertugas membimbing tangan para peserta untuk menuangkan ruh tersebut menjadi sketsa nyata.

Melalui sesi pendampingan desain ini, Yayasan Az Zahra Kepahiang berharap akan lahir purwarupa (prototype) motif-motif Batik Diwo baru yang tidak hanya kental akan budaya Rejang, tetapi juga matang secara estetika visual, sehingga kelak siap diproduksi dan diterima oleh pasar industri kreatif nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eighteen − sixteen =

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang