"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Mampukah Dia Mencintai Tanpa Syarat?

Mampukah Dia Mencintai Tanpa Syarat?

Senin sore, saya dkk berkunjung ke Rumah Sakit Umum Daerah Kepahiang, menjenguk teman yang di kabarkan kena serangan jantung. Dia adalah salah satu perempuan yang tergabung dalam komunitas yang aku pimpin. Belum kenal lama karena kami baru dilantik tanggal 25 November 2019 lalu. Beliau cukup aktif mengikuti setiap event atau kegiatan yang kami laksanakan. Dia ceria dan gesit, itu sekilas pendapatku mengenai perempuan ini. Panggil saja dia Mawar.

Ketika mendapat kabar dia sakit, sempat kurang yakin karena setahuku dia baik-baik saja, namun kami segera datang menjenguk. Aku ditemani tiga orang sahabat lainnya. Sesampainya di sana, kami melihat Mawar yang terlihat lemah dan sulit bernapas. Slang oksigen menempel dihidung dan inpus di tangan kirinya. Peralatan medis itu terlihat kontras dengan tubuhnya yang mungil dan wajah yang pucat. Dia berusaha tersenyum melihat kedatangan kami.

Kami mendekat, mengucap salam dan mulailah kami bertanya tentang penyakitnya. Pelan dia menjawab, diagnosa dokter sakit pembengkakan pembuluh jantung. Dan dua malam ini dia sulit tidur karena sakit kepala. Kami terdiam, empati dengan kondisinya.

Karena tak tahan dengan suara lirihnya aku mendekat dan berbisik, “Maukah Umi bantu terapi?” Dia mengangguk. Aku seorang terafis, terapi doa dan energi yang kupelajari di kelas  PPA For Healing bersama dokter Ramadhanus melalui komunitas PPA Bengkulu. Terapi ini perlu komunikasi dua arah antara terafis dan kliennya. Maka aku meminta dia jujur bercerita awal penyakit hingga kondisinya saat ini. Dia memberi isyarat ingin bicara berdua saja. Aku meminta teman yang lain menunggu diluar ruangan. Mereka maklum dan keluar ruang sambil membawa kacang rebus yang kami beli di perjalanan menuju rumah sakit tadi.

Kupegang tangannya, dia menangis. “Ada apa?” tanyaku pelan. Memberinya perhatian lebih, menatap mata dan mengusap lembut tangan kanannya. Dia diam, memejamkan mata. Air matanya dibiarkan mengalir tanpa jeda.  Aku berusaha dengan berbagai pertanyaan agar dia mau cerita. Namun nampaknya sulit sekali untuk bicara. Dia hanya menangis. Aku usap air matanya dengan tisue. Ku biarkan dia dengan pikirannya sendiri hingga tanggisnya reda.

Aku beri minum air putih hangat dan mendoakan air tersebut menjadi perantara agar dia bisa menceritakan apa permasalahan yang dia hadapi. Namun dia tetap diam. Lidahnya kelu, sulit menjawab pertanyaanku.

“Mawar, apa masalahnya? Apakah karena biaya?” Dia mengeleng.

“Apakah karena hutang?” Dia mengeleng.

“Apakah ribut dengan seseorang? masalah anak-anak?” Dia mengeleng.

“Apakah ada masalah dengan suami?” tanyaku hati-hati khawatir dia tersinggung. Dia diam sejenak lalu kembali menangis. Aku paham.

“Ada apa dengan suamimu?” tanyaku lagi. Dia tidak mau bicara. Dan aku tidak ingin memaksa rasa keingintahuanku terhadapnya. Meskipun diawal terapi, kejujuran adalah langkah awal menuju kesembuhan. Banyak testimoni pasien yang sembuh dari sakitnya hanya lantaran jujur dan mau mengakui permasalahan yang dia hadapi. Semua penyakit bersumber dari perasaan.

Aku tak mau menyerah dengan sikap diamnya. Aku tanya lagi apa sakit yang dirasakan dan perlu penanganan saat ini? Jawabnya sakit kepala dengan skala 10. Baiklah kalau begitu aku bantu terapi sakit kepalanya aja dulu.  Aku minta dia fokus dengan rasa sakit di kepala dan mulai aku lakukan tapping. Dua kali tapping skala sakit sudah 0. Alhamdulillah.

Namun, dia masih terlihat menahan sesuatu. Aku coba mengali lagi akar masalahnya. Nampaknya dia sama sekali tidak mau bercerita. Aku pasrah…aku panggil kawan diluar untuk masuk dan aku keluar ruangan.

Kuhirup udara di luar ruangan, menata hatiku sendiri. Kuatkan aku ya allah. Aku belum lama menjadi terafis, namun aku sudah puluhan tahun menangani kasus rumah tangga melalui lembaga yang kupimpin. Lembaga konsultasi kesejahteraan keluarga (LK3) Az Zahra Kepahiang. Aku tahu ada masalah bathin yang sedang dihadapi Mawar, sahabatku itu.

Aku menuju ke arah suaminya yang duduk di bangku luar. Aku mohon izin bicara. Dia bersedia dan mengikuti langkahku ke halaman depan rumah sakit. Aku gali awal mula sakit isterinya. Info suami, beliau sesak napas pertamakali lebaran tahun lalu, saat pulang kampung suami. Saat itu istrinya memaksa hendak pulang ke Kepahiang, namun karena tiket habis, kepulangan di tunda. Tiba-tiba isteri mengeluh sesak napas dan sempat dirawat di puskesmas sana. Saat bercerita sesekali suaminya meneteskan air mata. Aku paham, pasti ada suatu kejadian yang sulit beliau ungkapkan.

Lalu, aku ceritakan tentang kondisi isterinya saat terapi tadi. Aku tidak tahu apa masalah mereka berdua. Namun aku minta beliau bicara langsung dengan isteri, meminta maaf dan memeluknya. Dia menurut. Kami masuk ruangan, aku memberi isyarat agar teman-teman yang lain keluar lagi.

Aku meminta suami melakukan hal yang kami sepakati tadi. Berbicara, meminta maaf dan memeluk isterinya. Namun diluar dugaanku, Mawar menolak pelukan suaminya. Ada apa?

“Sudah aku maafkan dia Mii,” ujarnya pelan. Namun aku tahu dia bohong. Ekspresi wajahnya kelam menahan beban. Sementara suaminya nampak sedih duduk di sisinya.

Aku beri penguatan tentang hakikat ganjalan tisue. Boleh jadi sakit pembengkakan jantung ini adalah ganjalan tisue yang terpendam setahun lalu. Sakit yang belum termaafkan. Aku minta, suami mengulangi kata maaf, cinta, cium kening dan memeluknya. Dia diam tak bergeming.

“Sudah ku maafkan Mii, sudah cukup” ucapnya lirih. Aku tak tahan melihat sorot kebencian dimatanya. “Kamu bohong” jawabku sembari menahan tanggis. Dan air mataku tak bisa terbendung melihat suami isteri yang saling membelakangi ini. Ya rabb…apa yang terjadi.  Begitu sulitkah untuk ikhlas dan memaafkan?

Dia menutup matanya sebagai isyarat tidak mau diganggu lagi. Suaminya diam termanggu di sisi tempat tidur, lalu menatapku seolah memohon maaf. Aku pamit, dengan hati gundah. Di tengah perjalanan teman-temanku bercerita bahwa kejadian tahun lalu dikarenakan pertengkaran dengan ibu mertua. Dan suami tidak membelanya, memilih berpihak pada ibunya. Luka itu terbawa hingga hari ini. Ganjalan tisue yang belum luruh dengan kata maaf dan pelukan.

Ganjelan tissue adalah perumpamaan untuk menjelaskan beberapa sifat buruk manusia yang menutup/mengganjal fitrah kebaikan dalam dirinya.

Semua orang adalah baik, tidak ada manusia lahir langsung membawa sifat keburukan dalam dirinya. Perbuatan buruk atau jahat timbul karena pengaruh lingkungan, pengaruh teman/pergaulan, pengaruh orang tua/keluarga dan pengaruh media terutama dunia maya seperti facebook, Whatshap dll.

Perbuatan buruk akan menjadi Ganjelan dalam kehidupan kita jika tidak segera di selesaikan. Perbuatan buruk ibarat minyak. Jika minyak kita tuangkan ke dalam gelas yang berisi air maka minyak akan menutupi sifat air, karena minyak dan air tidak bisa bersatu. Begitupun dengan kebaikan, akan tertutup dengan keburukan. Semakin banyak keburukan maka semakin tebal Ganjelan tissue yang menutupi kebaikan. Akibatnya hidup terasa gersang, serba salah, serba susah. Dampaknya pikiran tidak konsentrasi, mudah emosi dan marah, suka menggeluh dan menyalahkan takdir atas kemalangan yang di hadapi. Dan yang paling parah adalah timbulnya penyakit fisik dalam diri kita.

Dosa kepada manusia menjadi Ganjelan yang tidak mudah untuk di hilangkan. Sebab satu satunya cara untuk menarik Ganjelan tissue nya adalah dengan kata “Maaf”. Meminta maaf dan memaafkan adalah hal yang mudah namun sulit di lakukan.

Mohon doanya kawan, semoga Allah SWT membukakan pintu hati mereka agar kembali timbul rasa kasih dan sayang. Membangun rumah tangga yang sakinah mawadah warohmah. Bisa mencintai tanpa syarat. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eighteen − one =