"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Menjemput Kematian Dengan Bahagia

Menjemput Kematian Dengan Bahagia

Assallamu ‘alaikum kawan-kawan.

Saya mau sedikit berbagi kebahagian saya ketika menemani sakaratul maut Bude, istri dari kakak ibu saya yang tertua. Wak Yatul saya memanggilnya. Usianya sudah senja, berkisar 70 tahun. Diagnosa dokter sakitnya sudah komplikasi antara maag, jantung dan saluran cerna. Khas penyakit lanjut usia pada umumnya. Dia sudah dirawat dua malam di RSUD Kepahiang, keluhannya sakit perut dan tidak selera makan. Saat aku berkunjung, dia sedang tertidur pulas setelah mendapat suntikan anti nyeri melalui selang infusnya.

Malamnya, seingatku pukul 23.15 wib, Kak Darwes telpon mengabarkan bahwa kondisi ibunya kritis. Beliau anak Bude nomor dua. Mereka tujuh bersaudara. Aku menghubungi ibu, meminta pendapat tentang kondisi tersebut. Ibuku menyarankan untuk menunggu esok hari saja. Sudah larut malam, dan putra bungsuku yang baru berumur 5 tahun tidak ada yang jaga. Berdoa dan kirim al fatihah, pesan ibu. Aku menurut pesan ibu, mengambil tasbih dan berdzikir mohon kemudahan bagi Bude menghadapi situasi kritisnya.

Pukul 07.30 wib ibu telpon mengabarkan kondisi Bude yang kembali ngedrop. Masa kritisnya belum usai. Aku diminta segera menjenguk ke rumah sakit. Aku segera berkemas, bersih diri dan menitipkan putraku ke sekolah PAUD At thoriq yang bersebelahan dengan tempatku tinggal.

Pukul 08.09 wib saya sampai di rumah sakit. Di sana sudah berkumpul sanak famili dan semua anak Bude. Aku salami mereka satu persatu. Lalu aku melihat Bude sedang di kompres dengan tisue basah oleh anak nomor dua. Kepalanya terasa hangat saat disentuh. Anak pertamanya mengelus kaki Bude dan keluarga yang lain duduk-duduk beralaskan karpet dan sibuk dengan obrolan masing-masing. Bude diam seolah tertidur pulas. Kondisi ini sejak tengah malam. Bude kritis, namun selang oksigen sudah dilepas anak-anaknya. Mereka sudah ikhlas dan pasrah dengan segala kemungkinan yang bakal menimpa ibu mereka.

Saya mohon izin berbisik ke telinga Bude. Sebab setahu saya meski kritis dia tetap bisa mendengar. “Assallamualaikum Wak, ini Hel anak Sa’i. Apa kabar Wak?” pelan-pelan jari tengah dan telunjukku mengetuk kepalanya. Ini adalah gerakan tapping yang kupelajari di kelas PPA for healing beberapa bulan lalu.

Ada banyak hal yang terjadi saat tubuh seseorang akan mengalami kematian. Mereka tidak mau makan atau minum, mereka lelah, mereka tidak bisa bicara, mereka tidak bisa melihat, dan gejala lainnya. Tapi ada satu indra yang cenderung bertahan lebih lama daripada indra lainnya, yaitu indra pendengaran. Maka aku perlakukan seakan-akan Bude sedang dalam keadaan sadar. Aku mengajaknya bicara sambil berdoa. “Ya Allah walaupun aku sedang sakit, aku terima, aku ikhlas, aku pasrah.” Aku ulang-ulangi kalimat tersebut. Tiba-tiba Bude bergerak seolah tersentak dari tidurnya, namun dia diam lagi. Semua anaknya mendekat. Ada perintah membaca surat Yasin dari anak tertua. Mereka berebut mengambil buku Yasin di dekat kepala Bude. Lalu aku minta secara bergantian anak-anaknya mentalqin di telingga kanan Bude sambil berucap bahwa mereka ikhlas jika ibunya akan pergi. Bude kembali terdiam tanpa respon. Isak tanggis mulai terdengar.

Aku mendekat kembali. Mengetuk pelipisnya dengan lembut, gerakan tapping kedua. Kudekatkan wajah ke arahnya, “Allah…allah…,walaupun aku sakit, aku ikhlas, aku pasrah” kalimat inilah yang diulang-ulang. Aku tahu dia mendengarkan. Bude kembali merespon seperti tadi. Semua anaknya menangis.

“Jangan menangis…tolong bantu doa saja” ujarku kepada mereka yang meraung berlebihan. Aku teringat ada hadist yang berbunyi, “Sesungguhnya mayat akan disiksa karena tangisan keluarganya padanya.” (HR Bukhari dan Muslim). Menurut ulama, yang dimaksud hadis ini bahwa mayat merasa sedih dan tersiksa karena tangisan keluarganya, karena ia akan mendengar tangis dan melihat apa-apa yang mereka lakukan.

Proses sekarat mulai terjadi ketika tubuh tidak bisa mendapatkan asupan oksigen yang diperlukan untuk bisa bertahan hidup. Sel yang berbeda akan memiliki kecepatan kematian yang berbeda pula, sehingga panjangnya proses seseorang sekarat tergantung pada sel-sel yang kekurangan oksigen ini.

Sedangkan otak memerlukan oksigen dalam jumlah yang besar dan hanya memiliki sedikit oksigen cadangan. Sehingga jika asupan oksigen berkurang maka akan mengakibatkan kematian sel dalam waktu 3-7 menit saja.

Beberapa tanda yang ditunjukkan oleh orang yang sekarat adalah lebih banyak tidur, hal ini untuk menghemat energi yang tinggal tersisa sedikit di tubuh. Ketika energi tersebut hilang, maka seseorang akan kehilangan nafsu untuk makan ataupun minum. Proses menelan pun menjadi sulit dan mulut akan sangat kering, sehingga memaksa orang yang sekarat untuk minum akan membuatnya tersedak. Selain itu orang yang sekarat akan kehilangan kontrol pada kandung kemih dan ususnya, sehingga seringkali terlihat mengompol.

Kematian akan semakin mendekat jika kaki dan tangan terasa dingin dan mulai sedikit membiru akibat terhentinya aliran darah ke daerah tersebut. Tapi lama-kelamaan akan semakin menyebar ke bagian tubuh atas seperti lengan, bibir dan kuku. Selain itu orang menjadi tidak responsif, meskipun matanya terbuka tapi memiliki tatapan mata kosong atau tidak melihat sekelilingnya.

Setelah itu pernapasan akan terhenti sama sekali dan diikuti oleh berhentinya kerja jantung, maka secara klinis orang tersebut sudah mati karena tidak ada sirkulasi dan cadangan oksigen untuk bisa mencapai sel-sel di tubuh. Akibat tidak adanya asupan oksigen dan darah ke otak, maka dalam hitungan beberapa detik otak juga akan mati dan disitulah akhir dari perjalanan hidup seorang manusia.

Ditengah kesibukan menenangkan suara tanggis dan lantunan ayat kursi yang dibacakan, ibuku datang. Dia masuk ruangan dan memeriksa kaki Bude yang mulai dingin, dan beliau memberiku isyarat bahwa sakaratul maut sudah datang. Aku mengangguk paham, artinya aku harus membimbing Bude sebaik-baiknya menghadapi kematian ini. Kematian yang indah…bismillahirrahmannirrahim.

Aku kembali ketuk pelipisnya, dengan keyakinan dan penuh kasih sayang. Aku tuntun Bude, “Ya Allah ringankan…ringankan…bantu… bantu yaa Allah…bimbing ya Allah…” kuulang-ulang kalimat tersebut ditelingganya. Aku lihat ekspresi wajahnya menegang. Ada pergulatan disana. Napasnya naik turun.  Aku raih tangannya dan pelan-pelan aku bimbing Bude mengucapkan kalimat syahadat. “Asyhadu al la ilaha illallah. Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Saya bersaksi dengan sebenar-benarnya bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah rasulNya.”

Budeku merespon…matanya terbuka, lalu seolah ada hentakan kuat menariknya dari atas kepala. Aku merasakan dengan jelas hentakan tersebut menarik hingga bahu Bude terangkat. Dan berlahan napasnya melemah lalu hilang. Innalillahi wa innalilahi rajiun. Aku mundur dari kerumunan, memberi tempat kepada anak-anak untuk memeluk ibunya terakhir kalinya. Tepat pukul 08.42 wib Bude dinyatakan wafat oleh dokter jaga.

Aku tersenyum, ibuku juga tersenyum bahagia melihat akhir kisah ini. Terus terang ini pertamakalinya aku melihat dan menemani orang sakaratul maut. Tidak seseram yang diceritakan orang. Bude pergi dengan syahadat sempurna dan senyum tersungging dibibirnya. Ketika aku ceritakan kisah ini kepada Ayah, beliau bersaksi bahwa Bude memang wanita baik dan shalehah. Bude pandai membaca alqur’an dan menghindari perkataan buruk kepada sesama. Bude memilih diam di rumah disbanding kumpul dengan tentangga yang sibuk bergosib tentang hidup orang lain.

Aku terharu, antara percaya dan tidak sudah melampaui semua ini. Bahkan aku tidak bisa menanggisi kepergiannya. Aku bahagia…bahagia karena yakin dia husnul khotimah, akhir yang baik.  Darinya aku belajar mempersiapkan diri untuk menjemput kematian yang indah. Menjemput kematian dengan bahagia. Salah satunya dengan ikhtiar sedekah energi ini. Terimakasih PPA…karena kalian aku berani sampai sejauh ini. Wassallamu ‘alaikum wr wb.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three × 5 =