SABU SABU
Engkau Bidadari Kecil Yang Tak Pernah Sendirian
*Tulisan ini adalah kisah nyata sahabatku, Anita, yang Ia tulis untuk adik tercinta yang telah berpulang tahun 2004. Semoga menginspirasi!
Matanya bulat, cantik dan jernih seolah tak berdosa. Tawanya pun selalu lepas, sehingga menambah keceriaan di wajah. Usianya memang telah dewasa, namun ia berprilaku bagaikan balita yang polos dan tak banyak meminta. Kelembutan yang terpancar dari jiwa, juga telah menghapus kesempatannya untuk berbuat nakal dan dosa.
Ia adikku, Dian namanya. Limpahan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjadikan dirinya ditakdirkan terlahir dengan keterbelakangan mental. Chromosome 15 Trisomy Syndrome yang diderita membuatnya bagaikan seorang kanak-kanak. Namun, tak pernah sekalipun ia terlihat menyesali nasibnya.
Dian memang anak istimewa. Selain cacat mental, menjelang akhir hayatnya ia juga menderita sakit ginjal, diabetes, kelainan jantung, lalu lumpuh dan isu. Bahkan beberapa hari sebelum maut menjemput, kebutaan pun merampas penglihatannya. Tangis ketakutan yang kekanak-kanakan, akan membuat siapapun yang mendengar giris hatinya.
“Ma… ma… aku takut, gelap ma. Mama di sini sama aku ya ma,” terdengar rengekannya yang pernah membuat air mata Mamaku tumpah. Beliau lalu mengajak Dian berdzikir dan membaca do’a-do’a.
Apa yang diderita Dian pernah membuatku dan saudara-saudara yang lain berburuk sangka kepada-Nya, “Ya Allah, mengapa Engkau timpakan penderitaan sepedih ini kepada adik kami?” Pertanyaan itu sering kali menyeruak, dan bertubi-tubi menghujani hati ini.
Kami pun pernah sedih karena memikirkan Dian yang tak pernah hidup normal seperti layaknya saudara-saudaranya yang lain. Tumbuh dewasa, menikah,
lantas merasakan kebahagiaan berumah tangga. Namun, bukankah Allah Yang Maha Pencipta tentu lebih tahu segalanya. Mungkin IA hanya tersenyum bijaksana, menatap kesalahpahaman kami semua.
Dian memang cacat fisik dan mental, tapi tidak hatinya. Tubuh yang penuh tutulan obat merah dan perban karena koreng bernanah, bahkan sebagian hidupnya yang harus dijalani dengan kursi roda, tak mampu menutupi keistimewaan yang ada pada dirinya.
Suatu peristiwa saat ia berusia 5 tahun, menampilkan sosok jiwanya yang begitu lembut. Ia tak pernah tega walaupun terhadap semut-semut yang mengerubungi piring nasinya. Ia hanya menjerit-jerit, “Ma… nyamut,
nyamut ma!” karena saat itu ia tidak bisa membedakan antara nyamuk dan semut.
Lalu aku yang saat itu mendengar tergopoh-gopoh menghampirinya, “Jangan menangis Dian, ini kan cuma semut. Pukul saja, ntar juga semutnya pergi.” Lalu kuusir semut-semut itu, dengan tepukan tangan di lantai teras depan rumah kami.
Allah Yang Maha Pengasih memang sangat mencintai Dian. Betapa tidak?
Kelahirannya disambut dengan penuh kebahagiaan, dan kematiannya di usia 30 tahun adalah peristiwa terindah yang pernah kudengar.
Ketika itu, menjelang malaikat maut hendak menjemput, Mamaku meminta Dian untuk selalu mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala sambil membelai-belai lembut kepalanya, “Dian, nyebut ya sayang, ya Allah… gitu nak. Ya Allah… Allahu Akbar!”
Lalu Mama membaca surah Yaa siin di pinggir tempat tidur, sedangkan bapak melakukan sholat Ashar, tak jauh dari sisi tempat tidur Dian.
Lidah Dian mulai sulit bergerak. Namun orangtuaku dengan tabah berusaha membimbingnya mengucapkan “Allahu Akbar, ya Allah.” Hingga suatu saat, ketika Mama membisikkan kalimat itu, Dian menggenggam tangannya dengan kuat dan bergumam lirih, “Aaaaaahhhhhh…”
Air bening pun bergulir dari sudut mata Dian yang telah buta. Mungkin sebagai isyarat permintaan maaf, dan mohon kerelaan karena ia sebentar lagi akan berpulang kepada Sang Pencipta.
“Pulanglah Dian ke haribaan Allah…” kata mama dengan tabah di sela isakan tangisan. Lalu dengan tenang Dian meninggalkan kami semua dengan hembusan nafas terakhirnya.
Di saat penguburan, Mama mengecup telapak tangannya sendiri kemudian melambai ke pusara Dian. “Selamat jalan, bidadari kecilku. Tunggu mama di sana ya, nak,” katanya seraya menatap lubang peristirahatan terakhir Dian yang mulai ditutupi tanah merah oleh para sanak saudara dan sahabat.
Adikku Dian memang benar-benar anak istimewa, bahkan teristimewa di antara saudara-saudaranya. Karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mengirim bapak untuk pulang menyertai Dian, tak lama setelah kepergiannya. Mungkin sebagai jawaban kepada bapak yang memang selalu merindukan anak istimewanya.
Sekarang bidadari kecil kami tak perlu takut sendirian, karena bapak telah berada di sana untuk menemaninya.
Dian, adikku tersayang… Jangan takut untuk kembali kepada Allah ya sayang.
Engkau tahu, engkau tak sendirian. Mama pun selalu berkata, engkau tak akan pernah sendirian, karena do’a dan segenap cinta kami selalu bersama dirimu, adikku tercinta.
Kembali kepada Allah adalah sesuatu yang indah. Bahkan teramat indah dari apa yang mungkin pernah engkau bayangkan. Selamat jalan sayang, selamat tinggal adikku yang teristimewa. Engkau memang bidadari kecil yang tak pernah sendirian.
WaLlahua’lam bi shawab.
Rakor GOW Perdana: Menulis Itu Mudah Semudah Bercerita
Kepahiang, 17/10/2019. Rakor GOW Kepahiang
Gabungan Organisasi Wanita Kabupaten Kepahiang yang dipimpin Ibu Netti Herawati, S.Sos yang juga merupakan Wakil Bupati Kepahiang membuat agenda baru untuk mempersatukan beberapa organisasi perempuan yang ada di Kabupaten Kepahiang. Agenda tersebut bertajuk Rapat Koordinasi Bulanan dengan cara bergiliran mendatangi kegiatan antar dua organisasi sebagai penyelenggara. Tujuannya adalah untuk silaturahmi antar pengurus/anggota, serta wadah pembinaan organisasi dan ajang unjuk kebolehan potensi perempuan di Kepahiang.
Penyelenggara dalam rakor perdana ini adalah Organisasi Aisyiyah yang dipimpin oleh Ibu Mulyanti, S.Pd. Aud dan Yayasan Az Zahra Kepahiang. Mereka berkolaborasi dalam menyukseskan acara dengan tema “GOW Menulis” bertempat di gedung pertemuan Aisyiyah dengan narasumber Helmiyesi, M.Si yang akrab disapa Umi Yesi. Menulis itu mudah semudah orang bercerita, mampu menghipnotis 60 orang peserta yang hadir hari ini. Satu persatu trik dan tips menulis disampaikan, mudah, asyik, menarik dan menyenangkan. Harapannya semua organisasi mampu melahirkan karya yang akan membawa nama baik Kabupaten Kepahiang ke depan.

Rabiatul Adawiyah, sekretaris GOW Kepahiang menyampaikan bahwa kegiatan ini akan rutin dilakukan setiap bulannya. Semua organisasi dapat menyampaikan materi sesuai kebutuhan perempuan, misal tentang kecantikan, kesehatan, dan keterampilan ataupun lomba-lomba yang berfaedah. Beliau juga membacakan notulen rapat bulan lalu dan melaporkan kegiatan yang telah dilakukan yaitu ikut berperan serta dalam stand pameran teknologi tepat guna dalam rangka Wonderfull Bengkulu 2020 dan wisata Mountain Valley Festival.

Ketua GOW Netti Herawati, S.Sos mengucapkan terimakasih dan apresiasi kinerja Aisyiyah dan Az Zahra dalam menyukseskan rakor perdana ini. Menurut beliau, perempuan harus punya kemampuan. Untuk itu kita harus sering berkumpul, bersilahturahim dan menuntut ilmu. Beliau memberi contoh perjuangan Bu Hera Aryani, asisten III yang sedang menyelesaikan tugas PIM 3 dengan penelitiannya tentang tata kelola keuangan daerah. Menjadi penulis seperti Umi Yesipun adalah potensi perempuan yang patut kita contoh dan banggakan.Dan masih banyak perempuan Kepahiang yang bertalenta dalam membangun daerah.

Lalu beliau juga berpesan kepada Bu Erni Budiarti, M.Pd ketua bidang Ekonomi untuk mengelola Kios GOW dengan bekerjasama dengan Bulog Provinsi Bengkulu. “Organisasi harus punya usaha ekonomi yang produktif supaya bisa mandiri, tidak semata bergantung dengan dana bantuan pemerintah yang terbatas. Sehingga kita dapat eksis dan dapat juga membantu masyarakat melalui sembako murah nantinya”
Dalam kesempatan itu, hadir pula Ketua Ikatan Adyaksa Dharma Karini, Ikatan isteri anggota DPRD, Persit Kartika Candra Kirana dan 14 ketua organisasi besar lainnya. Mereka semua menyambut baik kegiatan rakor ini dan saling memperkenalkan diri. Untuk pertemuan rakor bulan depan disepakati sebagai tuan rumah adalah Ikatan Adyaksa Dharma Karini bersama Organisasi Wanita Islam. Sampai bertemu bulan depan yaa…




Menulis itu Mudah Semudah Orang Bercerita…(Order Yuk)
Kami (mungkin) belum menjadi penulis yang hebat. Kami juga (belum) menjadi penulis yang terkenal. Bukupun baru beberapa yang diterbitkan. Belum banyak yang membaca dan berminat membelinya. Namun, kami mempunyai mimpi. Mimpi yang besar, yaitu mengajak orang lain untuk ikut menulis.
Kami berpikir bahwa mengajak orang lain untuk gemar membaca harus dimulai dengan menulis. Sebab jika sudah pandai menulis, otomatis mereka akan mahir membaca. Minimal mereka akan membaca hasil tulisannya sendiri.
Maka, bismillah tim Az Zahra berembuk dan membuat ide brilian dengan membuka kelas menulis fiksi Sabusabu. Apa Sabusabu? Itu adalah istilah dan doa kami yang merupakan singkatan dari Satu Bulan Satu Buku. Harapannya semua alumni kelas menulis mampu membuat karya setiap bulannya. Baik karya bersama maupun karya pribadi, buku sendiri. Sabusabu adalah candu. Ketika mereka berhasil membuat satu naskah maka akan lahirlah naskah-naskah lainnya.

Di kelas menulis fiksi Sabusabu mainset peserta dirubah. Menulis itu mudah semudah orang bercerita! Kami memberikan beberapa tips agar dapat menulis semudah bercerita.
Tips pertama, ketika hendak bercerita apakah kita kesulitan diawal pembicaraan? Tentu saja tidak karena orang bercerita sudah memiliki bahan atau informasi yang hendak di sampaikan. Nah, ketika kita hendak menulis seharusnya tidak kesulitan dengan kalimat awal yang hendak ditulis. Karena bahan yang ingin kita tulis sudah ada di sekitar kita. Kita hanya memindahkan informasi dari otak ke mulut ketika bercerita dengan dari otak ke tangan dalam bentuk tulisan. Gampang kan?
Tips kedua, saat bercerita pastilah ada lawan bicara. Karena tidak mungkin kita bicara sendirian bukan? Itu artinya dalam menulis ada tokoh yang ditampilkan. Ada percakapan selayaknya orang yang mendengar cerita pasti akan ikut bertanya atau menyanggah isi cerita. Nah, tampilkan tokoh-tokoh dan dialog tersebut di dalam tulisan kita. Mudah bukan?
Tips ketiga, orang gemar bercerita tentang masalah atau kejadian yang luar biasa. Terkadang disertai dengan intonasi dan mimik muka yang menunjang isi cerita. Begitupun dengan tulisan, ada masalah atau persoalan yang menarik untuk kita sampaikan dalam tulisan. Bisa berupa curhatan, ide membangun, data ilmiah atau persoalan lainnya. Agar tulisan menjadi menarik, maka perlu diberi narasi yang jelas. Informasi adalah fakta, bukan hasil mengkhayal. Penulis yang baik akan sering membaca tulisan orang lain pula. Sebagai referensi dan tambahan informasi terkait hal yang sedang dituliskan. Maka penulis adalah orang yang kaya akan bahasa dan ilmu pengetahuan lainnya.
Tips keempat, biasanya setelah selesai bercerita akan ada klarifikasi atau solusi. Nah, tulisan yang baik adalah tulisan yang dapat menggugah orang lain untuk berubah. Memberi inspirasi dan memotivasi orang lain. Tulisan yang menimbulkan kesan mendalam pada pembacanya.
Nah, empat tips ini mampu diterapkan dengan baik oleh peserta kelas menulis. Dalam waktu 3 x 24 jam semua peserta telah berhasil membuat naskahnya masing-masing. Hal ini diluar dugaan, sebab kesepakatan awal peserta diberi waktu satu minggu untuk mengerjakan PR menulisnya. Rupanya waktu seminggu terlalu lama bagi mereka. Mereka sudah kecanduan menulis, bercerita hal-hal menarik disekitarnya. Maka, dengan bangga kami persembahkan karya alumni kelas menulis fiksi Sabusabu berikut ini. Selamat membaca, selamat menikmati. ORDER/Pemesanan Lewat WA: 0852-6788-7453
Daftar buku-buku yang ditawarkan:
| No | Judul | Penulis | Kategori | Jumlah Halaman | Harga (Rp) |
| 1 | Hamari Adhuri Kahani, Kisah Kita Yang Belum Tuntas | Umi Yesi
Ketua PKBM Az Zahra Kph |
Novel |
271 hal |
66.000,- |
| 2 | Tak Cukup Dengan Mimpi | Umi Yesi
Ketua PKBM Az Zahra Kph |
Kumpulan Cerita Pendek |
244 hal |
60.000,- |
| 3 | Perempuan Membangun Kepahiang Maju Mandiri Sejahtera | Umi Yesi
Ketua PKBM Az Zahra Kph |
Biografi |
254 hal |
65.000,- |
| 4 | Jejakku di Pendidikan Nonformal | Tutor Bantu SPNF SKB Lebong | Kumpulan Cerita Pendek |
226 hal |
60.000,- |
| 5 | Rindu Tak Bertepi | Oscar Marwan
Tutor SKB Lebong |
Kumpulan Cerita Pendek |
186 hal |
53.000,- |
| 6 | Purnama di Ufuk Kerinduan | Nurul Insan
Tutor SKB Lebong |
Kumpulan Puisi | 156 hal | 47.000,- |
| 7 | Fenomena Mulai dari Nol | Budi Susanto Diporedjo | Kumpulan Puisi | 119 hal | 47.000,- |
| 8 | Dandelion | Karya bersama alumni kelas menulis angkatan ke-1 | Kumpulan Cerita Pendek |
274 hal |
69.800,- |
| 9 | Melawan Rasa | Karya bersama alumni kelas menulis angkatan ke-2 | Kumpulan Cerita Pendek |
234 hal |
62.000,- |
| 10 | Epilog Dua Hati | Karya bersama alumni kelas menulis angkatan ke-3 | Kumpulan Cerita Pendek |
202 hal |
55.000,- |
| 11 | Edelweis Catatan Seorang Bidan Desa | Leci Zohar
Alumni Kelas Menulis |
Novel |
264 hal |
68.000,- |
| 12 | Mikrofthalmia, Dua Mata Tapi Tak Sama | Siti Asma
Alumni Kelas Menulis |
Novel |
185 hal |
55.000,- |
| 13 | Perjalanan Pembuktian Cinta | Susilaeviyanti
Alumni Kelas Menulis |
Novel |
241 hal |
63.000,- |





