"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

LK3 AZ ZAHRA MADANI

FATHIR YANG MEMANGGILKU UMI

Sejak menjadi penulis yang berusaha menerbitkan satu bulan satu buku, aku menjadi lebih perhatian pada obyek di sekitarku. Terutama jika ada kesempatan bertugas ke luar daerah. Selalu ada obyek yang menarik untuk kutuliskan. Entah tentang candaan orang, tentang perilaku, tentang suasana yang berkesan di hati.

Seperti perjumpaanku pada sosok Fathir, anak laki-laki usia 2.5 tahun yang begitu mengoda. Saat itu aku bersama lima orang GTK Dikmas Bengkulu menghadiri undangan Pengayaan GTK PAUD dan Dikmas dalam bentuk pengimbasan hasil kursus singkat di Denmark, 10-13 Desember 2018 di Hotel Sahira Bogor.

GTK yang diundang kegiatan adalah Suci (Tutor Paket C), Heni (Instruktur Menjahit), Eki (Pengelola LKP), Pak Zulkipli (Pamong dari BP PAUD dan Dikmas Bengkulu) dan tentu saja Umi Yesi selaku Pengelola PKBM berprestasi tingkat Provinsi Bengkulu tahun 2017.

Kami berlima naik pesawat Lion Air, karena saat cek in tidak berbarengan maka tempat duduk pun tidak berurutan. Aku mendapat nomor 21F. Sedang Suci dan Heni duduk di belakangku. Lama duduk sendirian, sambil memperhatikan pramugari yang sibuk mengatur bagasi penumpang. Kemudian datang seorang Ibu muda dengan seorang anak balita dengan nomor 21E dan 21D. Aku berdiri dan mempersilahkan mereka masuk dan duduk di sisi kananku.

Awalnya mereka tidak begitu menarik perhatianku. Aku meraih majalah yang terselip di saku jok depan. Membaca saat terbang dalam pesawat adalah salah satu kesenanganku. Sebab banyak informasi mengenai destinasi wisata dan kuliner khas daerah yang selalu menarik untuk di baca.  Ada pula tips dalam perjalanan dan motivasi kerja.

Sampai pada celoteh si kecil, “Mama itu pesawat” dia menunjuk pesawat lain di luar dengan riangnya.

“Iya, itu pesawat” jawab ibunya. Kemudian dia meminta air minum dan kembali menunjuk pesawat dengan riangnya. Suaranya nyaring dan renyah. Aku menoleh, memperhatikan tingkah pola si kecil itu. Dia tersenyum padaku, mengulurkan tangannya. Aku takjub, setengah tak percaya. Anak ini mengajakku bersalaman. Dan Ibunya menuntun dengan berkata, “Atin mau kenalan” tersenyum ramah padaku.

Reflek aku menjulurkan tangan kanan meraih tangan mungilnya. “Oh ya…panggil saya Umi…Umi Yesi. Namanya Atin?” aku membalas senyum ibunya dan bertanya identitas anak tersebut.

“Namanya Fathir, kalo kenalan dia berkata namanya Atin. Lebih mudah dalam pelapalannya.”

“Oh…Atin, nama yang bagus. Atin mau kemana?” aku menutup majalah dan mencoba beramah tamah dengan ibu muda dan anak balitanya ini.

“Mau ke Jakarta, nengok adik saya yang akan di operasi”

“Operasi? Sakit apa adiknya?” tanyaku ingin tahu

“Sakit Jantung. Ada penyempitan dan bocor katup jantung.” Jawabnya sambil melayani Atin yang ingin makan cemilan yang di bawanya. Lalu dia bercerita tentang adik bungsunya berumur 23 tahun yang sakit Jantung. Penyakit yang tak di sangka-sangka. Sang adik adalah mahasiswa IAIN Bengkulu tingkat akhir, sedang penelitian dan penulisan skripsi. Namun kondisinya semakin memburuk akhir-akhir ini. Sehingga dokter merujuk untuk segera ke Jakarta dan melakukan operasi. Rencananya operasi akan dilaksanakan tanggal 20 Desember 2018. Saat ini sedang masa persiapan dan menaikkan kadar darah adiknya yang masih dibawah normal.

Sepanjang perjalanan kami bercerita, Atin duduk manis sambil sesekali minta minum air putih dan makan cemilannya. Dia memandangku tersenyum, aku teringat puteraku Aghna Abdul Majid yang tinggal di rumah. Dia juga manis dan lucu seperti anak balita ini. Anak-anak memang selalu mampu mencuri perhatian orang dewasa. Senyumnya, tingkahnya, suaranya…bikin betah dan bahagia.

Satu jam kemudian pesawat mendarat di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Kami telah sampai di Jakarta. Kami tetap duduk menunggu antrian untuk keluar pesawat.

Tak disangka, Atin bergerak mendekat padaku. Dia ingin duduk di pangguanku. Menatapku dengan mata beningnya yang mengoda. Kembali aku terperangah. Alangkah tampan anak ini, bathinku dalam hati. Kesempatan ini tak kusia-siakan untuk foto selfi bersamanya. Dan diapun menatap kamera androidku dengan bergaya. Rupanya dia suka difoto. Beberapa foto aku ambil, dan dia tertarik untuk melihat hasilnya. Ketika diperlihatkan, tampak senyum lebarnya bahagia.

Ketika keluar pesawat dan menuju ruang bagasi, Atin memegang tangan kananku. Berjalan berdampingan dengannya. Entah apa yang membuatnya cepat sekali dekat dan akrab padaku. Sesekali dia memanggilku Umi.

Sampai pada pintu keluar bandara, kami harus berpisah. Aku akan melanjutkan perjalanan ke Bogor. Sementara mereka akan ke rumah sakit. Rasanya berat sekali untuk berpisah. Aku mulai jatuh hati pada pesona anak ini. Atin pun sama tak ingin jauh dariku. Aku harus mencari cara agar bisa pisah dengannya. Maka dengan susah payah aku mencari celah agar bisa pergi tanpa sepengetahuannya. Meski tak tega, tapi harus bagaimana?

Akhirnya, Atin bersama Ibunya naik Grab menuju rumah sakit. Dan aku melihat mereka dari kejauhan. Ada rasa kehilangan yang ku rasakan. Semoga dapat berjumpa lagi anakku. Fathir yang memanggilku Umi!

Teriring doa semoga “Bungsu” (pangilan akrab adik yang sedang sakit) dapat bersabar dan operasinya berjalan lancar sehingga dapat segera pulang, menyelesaikan skripsinya. Dan beraktifitas sebagaimana layaknya. Aamiin

 

 

 

Zainab, Buruh Cuci Yang Menginspirasi

Hari masih pagi sekali, seseorang mengetuk pintu. Ku buka pintu sambil menjawab salam nya.

“ oh..zainab…., silahkan masuk”

Aku mengenali wajah wanita yang berdiri di depanku ini dengan baik. Sudah lama sekali tak bertemu. Dan kini datang dengan seragam dan penampilan yang berbeda.

“apa kabar mba?’ tanya nya sambil mengulurkan tangan dan mencium pipiku kiri kanan.

“Alhamdulillah sehat…tumben datang kemari…apa yang bisa mba bantu?”

“Ini mba…nab sekarang jadi Kader JKN KIS. Malam tadi lihat data di sini ternyata ada nama mba sekeluarga. Jadi di duluankan datangnya, khawatir mba tidak ada di rumah” ujarnya menyodorkan kertas berlabel BPJS Kesehatan dengan perihal tagihan iuran.

“Oh alaahhh…nagih tunggakan ceritanya ni” ujarku senyum dan ingat bahwa sudah beberapa bulan menunggak iuran BPJS kesehatan di karenakan pelayanan kesehatan putra bungsuku tidak sesuai harapan.

Namun…persoalan tunggakan ini tidak begitu menarik perhatianku. Toh…nanti bisa segera di selesaikan. Justru kedatangan sahabat sekaligus alumni paket C az zahra  ini lebih menarik perhatian. Karena penampilannya hari ini sangat kontras dengan zainab yang ku kenal beberapa tahun lalu. Cara bicara, tatapan mata dan kalimat kalimat yang keluar dari bibirnya tertata, menarik dan menyenangkan.

Zainab adalah alumni paket C az Zahra angkatan pertama, tahun 2007. Saat itu dia berstatus single parent karena suaminya meninggal dunia. Dan dia di tinggali 4 orang anak anak yang masih usia dini. Untuk menyambung hidupnya dia menjadi buruh cuci dan setrika pakaian dari rumah ke rumah. Termasuk membantu setrika pakaian anak anakku saat itu.

Perkenalan inilah yang membuat zainab ikut mendaftar sebagai peserta didik program pendidikan kesetaraan (paket C setara SMA) angkatan pertama di PKBM Az Zahra Kepahiang. Saat itu tatap muka dilaksanakan setiap hari jum’at dan ia adalah siswa yang aktif serta mampu menyerab pembelajaran dengan baik. Meskipun bekerja sebagai buruh cuci, ia tidak minder. Dia ingin menyelesaikan sekolahnya yang hanya sampai kelas 2 MAN. Saat putus sekolah itu dia baru berusia 17 tahun dan terpaksa menikah di usia muda lantaran orang tua tak ada biaya lagi untuk melanjutkan sekolahnya. Dia sangat sedih dan merasa tidak beruntung karena berasal dari keluarga miskin dengan banyak adik, sehingga urusan sekolah tidak menjadi prioritas. 

Di Kepahiang, pernikahan usia dini menjadi solusi bagi anak petani miskin yang mendapat rejeki hanya di musim panen. Terutama anak perempuan. Karena mereka masih di anggab beban dalam keluarga dan harus segera di nikahkan. Jika anak perempuannya sudah menikah maka beban keluarga berkurang, karena anak perempuan tersebut akan ikut suaminya. Mirisnya, suami merekapun berprofesi sama dengan orang tua, petani biasa. Maka perempuan perempuan malang ini akan memulai kehidupan rumah tangganya dengan kemiskinan yang sama. Ketika suami meninggal, tanpa harta yang memadai dan kebutuhan anak anak yang semakin banyak. Maka menjadi buruh cuci adalah alternatif untuk bertahan hidup.

“Ada gunanya ijazah kemarin mba. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih dengan az Zahra. Saat melamar menjadi kader JKN-KIS hanya nab yang mengunakan ijazah SMA, lulusan paket C lagi. Peserta yang lainnya adalah sarjana, guru, tenaga honorer bahkan ada mahasiswa S2 yang ikut serta melamar pekerjaan tersebut. Dan dari 49 orang yang melamar hanya 1 orang yang lulus dan langsung penempatan kerja. Dan itu adalah saya.” Cerita zainab dengan semangat dan berbangga.

“Wah…subhanallah…luar biasa nab”, jawab ku haru.

“Emang jadi kader JKN KIS itu tugasnya apaan ?”

“Kader JKN-KIS itu bertugas untuk membantu BPJS Kesehatan dalam mengumpulkan iuran, melakukan sosialisasi dan edukasi, membantu proses pendaftaran, memberikan informasi serta menerima keluhan sesuai dengan mekanisme yang telah ditetapkan serta melakukan sosialisasi dan kunjungan yang dilakukan kepada peserta binaan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada BPJS Kesehatan, masyarakat dan peserta binaan dan calon peserta potensial” jawabnya dengan lancar.

“Trus…kira kira apa kelebihan nab sehingga bisa lulus dan mengalahkan pelamar yang lainya tersebut?’ tanyaku penasaran.

“Mungkin karena pengalaman kerja nab setelah tamat paket C dulu mba. Jadi, dulu nab punya cita cita ingin menjadi guru. Lalu setelah tamat nab bersama kawan kawan mendirikan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini. Jadilah nab sebagai guru PAUD. Trus…nab menjadi pendamping lokal Kecamatan Kepahiang pada program pembangunan daerah tertinggal dan khusus (P2DTK). Nab juga menjadi Fasilitator Desa pada program PNPM. Nab, aktif juga di desa sehingga menjadi bendahara LPM dan kader posyandu. Wah…pokoknya banyak kegiatan dan pengabdian masyarakat yang nab coba jalani. Sampai akhirnya seperti ini.” Jawabnya berbinar binar. Nampak jelas kebahagiaan dan kecerian terpancar dari wajah cantiknya yang masih terlihat muda.

“Luar biasa!’

Aku terkagum kagum mendengar ceritanya. Sambil membayangkan siswa ini sebelas tahun yang silam. Yang sering curhat tentang beban beratnya menghidupi keluarga. Yang selalu datang dengan masalah yang bertubi tubi dan banyak menguras air mata. Ibu muda dengan 4 anak yang masih belia, di uji dengan cobaan hidup yang luar biasa. Namun dia tidak mudah menyerah. Dengan dukungan teman teman dan lingkungan, zainab mampu keluar dari himpitan berat hidupnya. Zainab telah bermetamorfosis, hari ini membawa kabar gembira. Kesulitan demi kesulitan telah dia jalani. Kesabarannya menghadapi ujian telah berbuah manis. Zainab kini bukan zainab yang dulu. Sebagai kader JKN KIS terpilih, dia bicara dengan lancar, penuh semangat dan percaya diri.

“Alhamdulillah…nab juga sudah menikah lagi kini..mba. Suami sangat mendukung dengan kegiatan nab di lapangan. Anak anak juga sudah dewasa. Asep dulu tamat paket C di az Zahra juga tahun 2016 dan kini buka usaha bengkel sendiri, sudah mandiri. Aulia kelas XII, Fikri kelas X dan Afif kelas X di SPPN Bengkulu. Semua nya dapat menikmati bangku sekolah dengan baik dan berprestasi. Dari tingkat sekolah dasar, mereka selalu dapat rangking di kelas. Dan nab di angkat menjadi komite sekolah di SMP 05 Kepahiang karena prestasi anak anak tersebut”.

“Anak anak saya ajari mandiri sehingga mempunyai usaha sendiri. Aulia dan Fikri hobbi nulis dan ngetik sehingga sering menerima job buat tugas/artikel sekolah teman temannya. Dan si kecil, Afif bisnis jual beli Hp seken, dia juga jago main gitar, pernah juara 1 tingkat kabupaten bermain solo gitar. Mereka kreatif dan mandiri, sehingga saya tidak khawatir dengan masa depan mereka. Karena mereka sudah dewasa, maka saatnya saya kembali mengabdikan diri kepada masyarakat. Apalagi dalam tugas ini kami selalu di training untuk sukses dan gajinya lumayan serta ada bonus bonus yang di dapatkan jika target kerja tercapai”.

Tak terasa sudah hampir dua jam ngobrol dengan zainab, sahabat sekaligus siswa saya hari ini. Alumni yang dapat menginspirasi.

“Jika ada kesempatan bertemu dengan adik adik paket C saya bersedia memberi motivasi sambil sosialisasi BPJS kesehatan mba”

“Baiklah…nanti kami agendakan ya. Apa pesan buat adik adik yang sedang belajar di az Zahra saat ini?”

“Semangat terus belajar. Jangan melihat usia dan waktu. Jangan Pesimis. Semangat. Yakin Sukses. Jangan mudah menyerah apapun yang terjadi. Berani Mengambil Keputusan. Berani berisiko. Harus melawan. Carilah teman dan bergaul dengan orang yang bisa memotivasi. Jangan bergaul dengan orang yang suka usil dan iri hati. Banggalah dengan diri sendiri”.

Pesan tersebut mengakhiri perbincangan kami hari ini, zainab pamit untuk melanjutkan tugasnya. Dan akupun bersiap siap menunaikan tugasku di az zahra. Selamat bertugas sahabat dan juga siswaku. Teruslah  memberi manfaat dan menginspirasi sesama.

Teladani Siti Hajar, Bukan Perempuan Biasa

Kepahiang, 22/8/2018. Tak biasanya, lebaran Idul adha tahun ini terasa sepi dan sunyi.  Usai shalat ied pagi ini suasana lenggang karena tak satupun jamaah di lingkungan kami yang memotong qurban. Jamaah pulang ke rumah masing masing dengan kepala tertunduk dan segera menutup pintu. Karena tak ada yang bisa diberikan untuk menjamu tamu. Tak jua nampak kerumunan anak muda yang biasanya ramai di obyek wisata. Ied yang sunyi di sekitar kami.

Sepinya suasana hari raya Idul Adha 1439 H ini bukan tanpa alasan. Karena tingkat ekonomi masyarakat yang semakin lemah. Di mana harga harga merangkak naik, sementara hasil panen tak sesuai harapan. Penduduk Kepahiang yang mayoritas petani ini merasakan betul sulitnya mencari sesuap nasi. Dampaknya adalah tak ada kue  di atas meja tamu. Tak ada makanan mewah yang biasa di suguhkan saat lebaran tiba. Pun tak ada baju baru yang mereka kenakan hari ini. Hampa…

Dan…kesunyian ini membuatku teringat akan perjuangan ibunda Siti Hajar, perempuan mulia, isteri kekasih Allah Ibrahim As. Mungkin kita bisa meneruskan perjuangan dan kesabaran beliau dalam menghadapi ujian hidup. Mari kita teladani perjalanan ibunda Siti Hajar, bukan perempuan biasa agar hidup kita tentram dan tetap bergembira di tengah ujian yang menimpa.

Berbaik sangka kepada Allah SWT

Kita wajib berbaik sangka kepada Allah apa pun keadaannya. Allah akan berbuat terhadap hamba-Nya sesuai persangkaannya. Jika hamba itu bersangka baik, maka Allah akan memberikan keputusan yang baik untuknya. Jika hamba itu berburuk sangka, maka berarti ia telah menghendaki keputusan yang buruk dari Allah untuknya. Allah tidak akan menyia-nyiakan harapan hambanya yang berbaik sangka kepada-Nya. Seorang hamba yang bijak adalah mereka yang senantiasa berbaik sangka kepada Allah dalam setiap keadaan. Jika ia diberi kenikmatan, ia merasa bahwa hal ini adalah karunia dari Allah. Ia tidak merasa dimuliakan dengan kenikmatan duniawi tersebut. Jika ia diuji dengan penderitaan atau kekurangan, ia merasa bahwa Allah sedang mengujinya agar ia dapat meraih tempat yang mulia. Ia tidak berburuk sangka dengan menganggap Allah tidak adil atau Allah telah menghinakannya.

Kita belajar kepada Siti Hajar walaupun dia seorang wanita yang baru mempunyai anak bayi, kemudian di tinggalkan suaminya di padang pasir yang gersang, tetapi dia yakin jika ini adalah perintah Allah maka Allah tidak akan menyia-nyiakannya. Allah pasti akan membantunya, kisah ini bukan hanya untuk Siti Hajar saja, kisah ini bukan untuk zaman itu saja, akan tetapi kisah ini akan terus berulang pada setiap zaman bahwa Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya dalam segala hal.

Bersungguh sungguh mencari rezeki yang halal

Setelah Ibrahim AS meninggalkan istri dan anaknya untuk kembali meneruskan perjuangannya berdakwah kepada Allah SWT. Siti Hajar menyusui Ismail sementara dia sendiri mulai merasa kehausan. Panas matahari saat itu menyengat sehingga terasa begitu mengeringkan tenggorokan.

Setelah dua hari, air yang di bawanya habis, air susunya pun kering. Siti Hajar dan Ismail mulai kehausan. Pada waktu yang bersamaan, makanan pun habis, kegelisahan dan kekhawatiran membayangi Siti hajar. Ismail mulai menangis karena kehausan.

Kemudian sang ibu meninggalkannya sendirian untuk mencari air. Dengan berlari – lari kecil dia sampai di kaki bukit Shafa. Kemudian dia naik ke atas bukit itu. Di taruhnya kedua telapak tangannya di kening untuk melindungi pandangan matanya dari sinar matahari, kemudian dia menengok ke sana kemari, mencari sumur, manusia, kafilah atau berita. Namun tidak ada sesuatu pun yang tertangkap pandangan matanya.

Maka dia bergegas turun dari bukit Shafa dan berlari – lari kecil sampai di bukit Marwa. Dia naik ke atas bukit itu, barangkali dari sana dia melihat seseorang, tetapi tidak ada seorang pun. Siti Hajar turun dari bukit Marwa untuk menengok bayinya. Dia mendapati Ismail terus menangis, tampaknya sang bayi benar-benar kehausan. Melihat anaknya seperti itu, dengan bingung dia kembali ke bukit Shafa dan naik ke atasnya. Kemudian dia ke bukit Marwa dan naik ke atasnya, Siti hajar bolak – balik antara dua bukit, Shafa dan Marwa, sebanyak tujuh kali.

Ada rahasia yang jarang di kupas dari kejadian ini, yaitu kesungguhan Siti Hajar dalam mencari air, di keluarkan segala tenaganya bolak balik dari Shafa dan Marwa, walaupun bolak balik dari Shafa dan Marwa belum mendapatkan air dia terus berusaha. Walaupun akhirnya air itu ada di dekat anaknya sendiri. Ini memberikan pelajaran kepada kita untuk bersungguh-sungguh dalam menjemput rezeki dengan mengeluarkan segala kemampuan yang kita miliki karena kita di perintahkan bukan hanya melihat hasil tapi juga usaha dan tenaga yang kita keluarkan.

Berkorban untuk Allah SWT

Ketika Ismail bertambah besar, hati Ibrahim tertambat kuat kepada putranya tersebut. Tidak mengherankan karena Ismail hadir di kala usia Nabi Ibrahim sudah tua. Itulah sebabnya beliau sangat mencintainya. Namun Allah hendak menguji kecintaan Ibrahim as dengan ujian yang besar disebabkan cintanya itu.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!”

Ismail menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu,… insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. Ash Shaaffat: 102 )
Ibrahim mengambil jalan yang paling baik, yaitu berkata yang jujur dan lemah lembut kepada putranya, ketimbang menyembelihnya secara paksa.
Lihatlah kepasrahan dan pengorbanan Ismail dan ayahnya Ibrahim, mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan cinta Allah. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan kasih sayang Allah. Walaupun yang di korbankan adalah diri mereka sendiri.

Pendidikan Agama dalam keluarga

Nabi Ismail tidak akan menjadi anak yang penyabar jika tidak mendapat pendidikan dari ibunya, Siti Hajar tidak akan menjadi wanita yang penyabar jika tidak di didik oleh suaminya Ibrahim as. Dan nabi Ibrahim as tidak akan dapat sabar jika tidak mendapat didikan dari Allah SWT melalui wahyuNya dan ujian hidup yang menimpanya.

Seorang anak dalam perkembangannya membutuhkan proses yang panjang, maka peran orang tua dalam membentuk perilaku yang berakhlaq mulia sangat dibutuhkan, perhatian sempurna kepada anak semenjak dari masa mengandung, melahirkan hingga sampai dewasa. Kewajiban ini diberikan di pundak orang tua oleh agama dan hukum masyarakat. Karena seseorang yang tidak mau memperhatikan pendidikan anak dianggap orang yang mengkhianati amanah Allah. Sebagian ahli ilmu mengatakan bahwa Allah Swt. Pada hari kiamat nanti akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang perlakuan mereka kepada anaknya.

Nah..teladan nabi Ibrahim, pengorbanan ibunda Siti Hajar dan keikhlasan Ismail dapat menjadi contoh dalam keseharian kita. Sehingga hati tak gersang dan lingkungan menjadi sunyi. Semoga ujian tahun ini dapat kita lalui dengan sabar dan berbuah manis sesuai janji Allah SWT.

“ SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 10 DZULHIJAH 1439 H”

 

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang