BERITA PKBM
Misi Jemput Bintang: Stop Bekal Mie Instan kepada Anak PAUD
Misi Jemput Bintang: Stop Bekal Mie Instan kepada Anak PAUD
Sebuah Pesan Menyentuh dari Umi Yesi (Ketua Yayasan Az Zahra Kepahiang)
Di setiap pagi saat Ayah dan Bunda menyiapkan kotak bekal, sebenarnya kita sedang menyiapkan “bahan bakar” bagi calon pemimpin bangsa.
Melalui misi Jemput Bintang Az Zahra 2026, Umi Yesi secara khusus menitipkan pesan cinta kepada seluruh wali murid: Mari kita hentikan kebiasaan memberikan bekal mie instan kepada anak-anak usia dini.
Mengapa Kita Harus Berhenti Sekarang?
Mungkin mie instan terlihat praktis, namun dampaknya bagi kesehatan anak PAUD adalah ancaman nyata di masa depan. Konsumsi rutin mie instan membawa efek jangka panjang yang mengkhawatirkan:
* Menghambat Kecerdasan: Kurangnya nutrisi penting (zat besi, protein, dan vitamin) membuat otak anak sulit fokus dan konsentrasi belajar menurun.
* Ancaman Penyakit Degeneratif: Kandungan natrium (garam) yang sangat tinggi meningkatkan risiko hipertensi dan gangguan fungsi ginjal sejak usia muda.
* Gangguan Pertumbuhan (Stunting): Mie instan adalah “kalori kosong” yang tidak mendukung pertumbuhan tulang dan otot secara optimal.
* Ketergantungan Rasa: Lidah anak akan terbiasa dengan penguat rasa (MSG), sehingga mereka menolak rasa alami sayur dan buah yang sangat dibutuhkan tubuh.
Menanam Benih Peradaban Melalui Makanan Sehat
Yayasan Az Zahra Kepahiang memiliki mimpi besar. Kami ingin setiap anak yang bersekolah di sini tumbuh menjadi pribadi yang Sehat, Cerdas, dan Ceria.
Harapan kami bukan sekadar mendidik mereka hari ini, tetapi menyiapkan mereka untuk menjadi Pemimpin Peradaban di masa yang akan datang. Pemimpin yang tangguh hanya lahir dari tubuh yang sehat dan jiwa yang kuat.
> “Guru-guru kami akan terus menstimulus dan mengajak anak-anak untuk mencintai sayur dan buah di sekolah. Namun, kami butuh Ayah dan Bunda untuk menjadi pahlawan kesehatan bagi mereka di rumah.” — Umi Yesi
>
Mari bersama-sama kita ganti mie instan dengan sayuran, buah-buahan, dan protein bergizi. Mari kita jemput cahaya “Bintang” anak-anak kita dengan pola makan yang benar.
Sehat Mulai Sekarang, Hebat di Masa Depan!
Dari Pendidikan Kesetaraan ke Panggung Internasional: Kisah Supriyanti, Sosok Penggerak di Balik Konferensi Perempuan Adat Dunia
Dari Pendidikan Kesetaraan ke Panggung Internasional: Kisah Supriyanti, Sosok Penggerak di Balik Konferensi Perempuan Adat Dunia
KEPAHIANG – Di balik perhelatan International Indigenous Women’s Conference yang berlangsung di Desa Bandung Jaya, Kecamatan Kabawetan, ada satu sosok perempuan desa yang menjadi pusat perhatian.
Ia adalah Supriyanti, Ketua Kelompok Tani setempat yang dipercaya menjadi motor penggerak sekaligus panitia pelaksana kegiatan berskala global tersebut.
Bagi masyarakat lokal, Supriyanti bukan sekadar panitia. Ia adalah simbol perjuangan hak perempuan di akar rumput. Dedikasinya merentang luas, mulai dari mengadvokasi pendidikan anak usia dini hingga memimpin Kelompok Wanita Tani (KWT) untuk berdaya secara ekonomi dan politik di atas tanah mereka sendiri.
Kebanggaan bagi Pendidikan Kesetaraan
Keberhasilan Supriyanti mengelola acara yang dihadiri delegasi dari Papua hingga Denmark ini memicu rasa haru dan bangga bagi Umi Yesi, Ketua Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Kabupaten Kepahiang. Bagi Umi Yesi, Supriyanti adalah bukti nyata bahwa keterbatasan akses pendidikan formal di masa lalu bukanlah penghalang untuk menjadi pemimpin hebat.
Supriyanti merupakan alumni program pendidikan kesetaraan di Yayasan Az Zahra Kepahiang. Transformasi Supriyanti dari seorang pembelajar di pendidikan kesetaraan hingga kini mampu memfasilitasi dialog internasional tentang hak adat, menjadi pencapaian yang sangat emosional.
“Saya sangat bangga dengan pencapaian beliau. Supriyanti membuktikan bahwa perempuan desa, dengan kemauan belajar yang kuat, mampu berdiri sejajar dengan tokoh-tokoh dunia,” ujar Umi Yesi di sela-sela kegiatan.
Membumikan Konferensi di Rumah Warga
Sebagai panitia, Supriyanti mengambil langkah berani dengan menempatkan para tamu internasional dan nasional di rumah-rumah penduduk. Langkah ini ia ambil untuk memastikan bahwa pesan konferensi tentang “Rebuilding The Commons” atau membangun kembali ruang hidup bersama, dirasakan langsung melalui interaksi nyata antara peserta dan masyarakat desa.
Melalui kepemimpinannya, Desa Bandung Jaya tidak hanya menjadi lokasi acara, tetapi menjadi sekolah kehidupan bagi para tamu yang hadir.
Perempuan Adat Dunia Berkumpul di Kabawetan, Perjuangkan Hak Atas Hutan
Perempuan Adat Dunia Berkumpul di Kabawetan, Perjuangkan Hak Atas Hutan
KEPAHIANG, 1 Februari 2026 – Desa Bandung Jaya, Kecamatan Kabawetan, menjadi saksi sejarah digelarnya International Indigenous Women’s Conference yang kedua.
Mengangkat tema strategis “Rebuilding The Commons, Defending Life Itself”, konferensi ini menjadi ruang konsolidasi bagi perempuan adat dari berbagai belahan dunia untuk melawan keterasingan masyarakat dari ruang hidup mereka, seperti hutan dan laut.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Erwin Basrin, Ketua LSM AKAR Provinsi Bengkulu ini dibuka secara resmi oleh Asisten II Setda Kepahiang yang mewakili Bupati Kepahiang.
Dalam sambutannya, beliau memberikan pernyataan ikonik bahwa peran perempuan bersifat fundamental dalam kehidupan. “Perempuan tidak bisa dilawan karena semua berasal dari perempuan,” tegasnya, sembari berharap agenda ini menjadi pemantik keberlanjutan gerakan perempuan di masa depan.
Solidaritas Tanpa Batas
Konferensi ini dihadiri oleh peserta dari seluruh penjuru Indonesia, mulai dari Aceh, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Tak hanya itu, perwakilan internasional dari Filipina (Bu Jil), Denmark (Sen), Inggris (Noumi), dan Malaysia (Josephine) turut hadir untuk berbagi perspektif global mengenai perlindungan hak adat.
Kepala BKKBN Provinsi Bengkulu, yang juga merupakan Ketua Dewan Pembina AKAR, menegaskan bahwa momentum ini adalah titik balik bagi aktivis perempuan untuk memperjuangkan hak masyarakat adat, khususnya Suku Rejang, agar kembali dekat dan berdaya atas alamnya.
Keramahtamahan Berbasis Komunitas
Keunikan konferensi kali ini terletak pada keterlibatan penuh warga desa. Dibawah komando Ibu Supriyanti (Ketua Kelompok Tani Desa Bandung Jaya), para peserta dari luar daerah hingga luar negeri menginap di rumah-rumah warga.
Kepala Desa Bandung Jaya, Suwandi, menjamin kondisi kondusif dan mengajak warganya untuk berbaur langsung dengan para tamu dunia.
Turut hadir memberikan dukungan penuh, Umi Yesi, Ketua Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Kabupaten Kepahiang, yang mengapresiasi tinggi langkah Komunitas AKAR dalam mendekatkan perempuan dengan pengelolaan lingkungan.
Kehadiran FPPI mempertegas komitmen lokal dalam mengawal isu pemberdayaan perempuan di tingkat akar rumput.
Menuju Jakarta
Diskusi intensif yang berlangsung di tengah sejuknya kebun teh Kabawetan ini direncanakan akan menghasilkan rekomendasi kuat. Puncaknya, pada 1-4 Februari 2026, perwakilan perempuan pilihan akan bertolak ke Jakarta untuk menyampaikan hasil konferensi ini kepada pengambil kebijakan di tingkat nasional.


