"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Konten Budaya Lokal Daerah

Kolaborasi Lintas Generasi dalam Praktik Menulis Konten Budaya Kepahiang

Kolaborasi Lintas Generasi dalam Praktik Menulis Konten Budaya Kepahiang

KEPAHIANG – Hari pertama pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Konten Budaya Lokal di Kabupaten Kepahiang langsung dipenuhi dengan antusiasme tinggi. Setelah dibuka secara resmi, para peserta yang terdiri dari penulis dan pegiat literasi langsung disuguhkan materi berbobot yang dikemas secara interaktif oleh narasumber Yugo Rahmadhani, S.Pd., M.Pd. Sesi ini tidak hanya membuka wawasan tentang kekayaan budaya Kepahiang, tetapi juga menghadirkan pengalaman praktik menulis yang sangat menyenangkan.

Menyelami Obyek Pemajuan Kebudayaan bersama Pak Yugo

Tampil sebagai pemateri, Pak Yugo berhasil menghidupkan suasana kelas dengan gaya penyampaiannya yang lugas dan dekat dengan keseharian masyarakat. Beliau memaparkan bahwa Kabupaten Kepahiang sangat kental dengan kesatuan kebudayaan Rejang, di mana nilai-nilai kearifan seperti gotong royong—atau yang dikenal dengan sebutan umbung—selalu menjadi unsur perekat utama dalam kehidupan bermasyarakat.

Fokus utama pemaparan Pak Yugo adalah pengenalan Obyek Pemajuan Kebudayaan (OPK) berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017. Beliau mengajak peserta untuk membedah lebih dalam kekayaan OPK yang dapat ditemukan di Kepahiang. Peserta diajak bernostalgia mengenali kembali warisan leluhurnya, mulai dari Tradisi Lisan seperti legenda Putri Sedaro Putih dan Buteu Tekuyung, Adat Istiadat seperti tradisi Penoi dan Tepung Setawar, hingga Teknologi Tradisional alat tenun Kain Diwo dan Teleng. Beliau juga mencontohkan berbagai OPK lainnya yang tak kalah menarik, seperti Seni (Tari Kejei), Permainan Tradisional (Suruk-surukan dan Cabur), Olahraga Tradisional (Sterlak Rejang), serta kekayaan Bahasa dan Pengetahuan Tradisional masyarakat setempat.

Praktik Menulis Esai yang Menggugah Selera

Keseruan Bimtek mencapai puncaknya ketika Pak Yugo mengubah sesi teori menjadi praktik langsung. Beliau menantang para peserta untuk mencari dan mengidentifikasi sendiri contoh dari 8 OPK di Kepahiang (mengecualikan Ritus dan Manuskrip) yang lekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Suasana kelas seketika berubah riuh dan dinamis. Para peserta saling berdiskusi, bertukar pikiran, dan menggali ingatan mereka tentang budaya lokal yang potensial diangkat menjadi karya tulis.

Untuk memantik ide peserta, Pak Yugo mendemonstrasikan cara menyusun kerangka esai budaya yang terstruktur. Beliau mengambil topik Pengetahuan Tradisional dengan mengangkat kuliner khas, yaitu “Sambal Ujak Lem Boloah”. Pak Yugo memandu peserta membuat kerangka tulisan yang runtut:

  • Paragraf Pembuka: Dimulai dengan mengenalkan kekayaan kuliner tradisional suku Rejang serta penjelasan tentang Sambal Ujak Lem Boloah—yakni sambal ikan/udang yang proses memasaknya dilakukan di dalam bambu.
  • Paragraf Isi: Mengupas tuntas bahan utama berupa ikan sungai kecil/udang dan cabai, pentingnya teknik pemilihan bambu yang tepat, proses memasukkan bahan ke dalam lubang bambu lalu membakarnya, hingga munculnya sensasi rasa fermentasi yang menciptakan cita rasa asam-pedas yang segar.
  • Paragraf Penutup: Ditutup dengan pesan edukasi mengenai pentingnya melestarikan kuliner tradisional tersebut dan ajakan untuk mempromosikan Sambal Ujak Lem Boloah sebagai warisan takbenda yang berharga.

Kehadiran Umi Yesi: Bukti Semangat Literasi Lintas Generasi

Di tengah keseruan praktik interaktif ini, terdapat satu pemandangan yang sangat inspiratif. Umi Yesi, seorang pegiat literasi senior di Kepahiang, tampak ikut berperan sangat aktif dalam kegiatan tersebut. Alih-alih hanya duduk sebagai pengamat, beliau sama sekali tidak sungkan untuk turun langsung, melebur, dan bergabung satu meja bersama barisan penulis muda yang hadir.

Kehadiran Umi Yesi memberikan suntikan energi positif bagi seisi ruangan. Beliau berbaur, ikut berdiskusi menyusun kerangka esai, dan mendengarkan setiap arahan materi dari Pak Yugo dengan penuh antusias. Kolaborasi lintas generasi ini menjadi bukti nyata bahwa upaya merawat ingatan dan mendokumentasikan budaya lokal tidak pernah mengenal batasan usia. Para penulis muda yang awalnya malu-malu justru merasa sangat termotivasi melihat seorang tokoh literasi sekelas Umi Yesi masih memiliki semangat belajar dan berkarya yang menyala-nyala.

Hari pertama Bimtek Kepenulisan Konten Budaya Lokal ini pun ditutup dengan senyum kepuasan dari para peserta. Melalui metode penyampaian Pak Yugo yang membumi dan semangat kebersamaan yang ditularkan oleh Umi Yesi, kegiatan ini sukses membuktikan bahwa melestarikan budaya dan tradisi lokal Kepahiang lewat tulisan adalah sebuah proses kreatif yang teramat menyenangkan.

 

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang