"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

KELINCI PUTIH

KELINCI PUTIH

 

”Dinda…, kelinci kita telah melahirkan?”

Satu pesan SMS masuk ke handphoneku. Pesan dari Alif, lelaki yang bertugas sebagai penyuluh pertanian di desaku. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) merupakan petugas dari Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K) kabupaten/kota yang diperbantukan untuk memberikan pengarahan, pembinaan, dan penyuluhan di bidang pertanian dengan basis administrasi kecamatan.

Alif sebenarnya berdomisili di Kota Bengkulu. Lelaki pencinta tanaman dan hewan ini lulus tes menjadi PPL di Kecamatan Kepahiang. Oleh karena itu, dia kost di Kepahiang, tepatnya tinggal di Desa Karang Endah. Tak beberapa jauh dari kediamanku.

Kelinci adalah salah satu binatang kesayangannya, terutama kelinci putih. Sebab kelinci jenis ini banyak diminati sebagai hewan hias. Menurut Alif, warna putih identik dengan kebersihan, lembut, resik dan terawat. Disamping itu kelinci putih memiliki tampilan eksotis dengan mata terang seperti warna merah menyala, hitam pekat atau biru tergantung jenis kelinci sehingga terlihat sangat menarik.

SMS singkat ini tak segera kubalas. Butuh waktu untuk merangkai kata, agar tak salah arti jawabannya.

Apakah ini sms permohonan maaf? Untuk kembali merangkai asa yang hilang beberapa waktu lalu. Atau dia sengaja menguji hatiku. Aku ragu.

Ku tatap layar handphone, mengeja setiap huruf yang tertera disana. Sekelebat bayangan mengingatkanku tentang rencana besar yang sedang kami rangkai beberapa bulan yang lalu. Sebuah rencana yang boleh jadi akan merubah total arah hidup dan masa depanku. Sebuah rencana yang mulia. Akan kupinang kau dengan basmallah, bisiknya kala itu.

Hatiku pun berbisik, Akhi…jangan terlalu lama. Bukankah ini akan mengotori hati kita? Sedangkan kita tahu bahwa tidak ada cinta sebelum pernikahan. Hati yang berharap dan jiwa yang meminta melahirkan getar-getar setiap kali mata berjumpa dan senyum tipismu merona.

”Akan kupinang kau Adinda” ucapmu mantap, membiusku kala itu. Hatiku meresah, melihat lebih lama isi pesan tersebut.

”Afwan akhi, kelinci kita belum melahirkan juga. Mungkin dia ngambek.” balasku sederhana.

Balasan SMS ini mencoba menetralisir sisi hati merah jambuku yang mulai berdawai. Tentu saja kelinci itu tidak akan melahirkan sebab pejantannya mati beberapa hari setelah sepasang kelinci tersebut dihadiahkan kepadaku. Apakah ini pertanda?

”Seharusnya kelinci itu telah beberapa kali melahirkan.” SMS ku kembali berdering.

Yaa……..mungkin benar! Jika mereka tetap sepasang, jawabku dalam hati. Kelinci adalah hewan yang mudah untuk dikembang biakkan. Untuk satu kali kelahiran kelinci indukan betina yang sehat, mampu melahirkan 5 sampai 15 anak kelinci. Dalam setahun bisa saja terjadi 5 kali kelahiran. Bayangkan berapa jumlah anak kelinci tersebut dalam setahun!

Ahh….terserahlah, aku tidak terlalu memusingkan soal kelinci yang belum melahirkan tersebut, meski telah kucarikan teman pengantinya. Atau mungkin aku salah membeli kelinci baru dengan jenis kelamin yang sama. Entahlah………aku tak dapat membedakan mana kelinci jantan dan mana kelinci betina.

”Setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan. Begitu pun dengan kelinci, ada jantan dan ada betina,” jawab Alif pada suatu hari.

Untuk mengenali jenis kelamin kelinci jantan kita hanya perlu melihat bagian kelaminnya. Angkat kelinci seperti kita menggendong bayi lalu sedikit dibalik utuk melihat bagian dibawah ekor kelinci. Jika terdapat 2 benda menggantung maka itu jantan. 2 benda yang menggantung itu disebut testikel. Testikel pada kelinci dewasa atau yang sudah siap kawin biasanya berukuran besar dan terlihat juga bagian penisnya. Testikel ini akan lebih jelas jika cuaca sedang panas, jika cuaca dingin testikel biasanya samar.

Selanjutnya adalah mengenali kelinci betina. Cara membedakan kelinci betina juga tidak jauh beda dengan kelinci jantan. Hanya saja ciri-ciri pada kelinci betina yaitu tidak terdapat 2 benda menggantung.

Aku hanya memandang sekilas, Alif memperagakan cara membedakan kelinci jantan dan betina. Tersenyum memandang caranya mengajariku. Agak lucu!

Soal kelinci ini hanya topik pembuka awal pembicaraannya saja.

”Aku ingin menikahimu, tapi…?” ucapmu tersendat.

”Mengapa ingin menikah denganku?” tanyaku penuh rasa ingin tahu.

”Kamu cantik!” jawabnya. Jawaban yang tak di sangka-sangka sebab setahuku kita mengagung-agungkan alasan menikah karena keimanan bukan rupa. Akan tetapi, mungkin aku terlalu cepat menafsirkan atau terlalu lamban mencerna arti kata-katanya.

Ketika Alif pamit pulang beberapa saat kemudian. Aku masuk kamar dan lama terpaku di depan cermin. Mengamati sudut demi sudut wajah ovalku. Agak tembem, cantik mananya? Subhanallah…kuucap keagungan Allah yang telah menciptakan manusia dengan sempurna.

Jika kelinci saja diciptakan berpasangan, mengapa aku berbeda? Mana pasangan untukku? Lelaki sholeh yang kuidamkan sejak dahulu. Yang akan menemani hari-hari panjang bersamaku dan kedua buah hatiku yang sedang tumbuh. Shifa yang baru berusia lima tahun dan Hanif yang baru berusia tiga tahun. Keduanya membutuhkan figur ayah. Ayah kandung mereka sudah dua tahun hilang tanpa kabar berita.

Ya..aku Dinda Kartika, janda muda yang ditinggal suami dengan amanah dua orang putra dan putri yang masih belia. Kedua anakku butuh sosok pria yang dapat berperan sebagai ayah mereka. Agar aku tak lagi berbohong kepada mereka, tentang ayahnya yang pergi entah kemana.

Lagipula peran ayah sangat penting dalam tumbuh kembang anak, bahkan ketika anak masih berusia sangat dini. Dari orangtua, anak mendapatkan berbagai pelajaran yang tidak ia dapatkan di sekolah. Dalam penelitian yang dilakukan di Inggris juga disebutkan bahwa perilaku yang sederhana seperti menggendong, memeluk, mengajak main anak sejak usia 9 bulan yang dilakukan oleh ayah dapat membuat anak memiliki perilaku yang kreatif dan psikologinya berkembang dengan baik. Sementara itu, anak yang baru merasakan perhatian ayahnya ketika umur 5 tahun, cenderung memiliki masalah perilaku lebih banyak dibandingkan dengan anak yang telah merasakan perhatian tersebut ketika usia 9 bulan.

Tidak hanya baik untuk kesehatan psikologi, peran ayah dalam merawat serta ikut mengasuh anak sedari dini terbukti dapat membentuk kompetensi sosial, inisiatif terhadap lingkungan, serta lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.

Berbeda dengan anak yang tumbuh dengan peran dan perhatian ayah di sekitarnya, anak yang tumbuh tanpa ayah cenderung memiliki masalah perilaku ketika ia berada di sekolah, seperti susah untuk fokus, merasa terkucil, merasa berbeda dengan anak yang lain, dan lebih sering tidak masuk sekolah.

Bahkan beberapa teori menyebutkan bahwa anak laki-laki yang tidak mendapatkan perhatian ayahnya, rata-rata sering mengalami kesedihan, depresi, hiperaktif, dan murung. Sedangkan anak perempuan yang ayahnya tidak ikut dalam pengasuhannya, akan cenderung memiliki sifat terlalu mandiri dan individualis.

Dan ada sebuah penelitian yang meneliti tentang perilaku anak dengan peran ayah, menemukan bahwa rasa kehilangan akan sosok ayah, atau merasa kurang diperhatikan oleh ayah akan membuat anak lebih emosional dan memiliki gangguan perilaku ketika anak tersebut memasuki usia remaja.

Hatiku kian meresah membaca ulasan itu. Memikirkan nasib kedua buah hatiku, tanpa pigur ayah seperti penelitian tersebut. Ya Allah…, lindungillah anak-anakku dari hal buruk, jauhkan mereka dari sikap dan sifat jelek seperti uraian tersebut. Hanya pada-Nya aku memohon pertolongan.

Alif adalah sosok yang kurasa pas buat tumbuh kembang mereka. Laki-laki ini mudah menarik simpati buah hatiku. Dari awal berjumpa, dia sudah akrab pada keduanya. Mengenal mereka, menemani mereka bermain, dan terkadang membawakan mainan sebagai hadiah, jika dia berkunjung.

*******************************

 

Hujan lebat mengiringi lentik jemariku menekan huruf demi huruf keyboard komputer setiaku. Harta berharga yang kupunya setelah kekasih tiada rela untuk bersua. Dimanakah kamu sayangku?

Namun kali ini aku ingin mengadu, bukan tetang kekasih yang pergi. Melainkan tentang seseorang yang beberapa bulan ini kusapa hangat ”Alif”.

”Aku mulai mencintaimu”…….bisikku sayu, suara hati seorang perempuan. Ungkapan seorang perempuan muda yang telah lama di tinggal suami, dia tak bisa memiliki seluruh hatinya.

”Mengapa kita harus bertemu?” tanyamu lugu. Ungkapan ketidakberdayaan seorang lelaki yang melihat rintangan akan merengut jantung hatinya karena tradisi.

Ya…….kami saling jatuh cinta. Cinta yang diyakini karena sejiwa. Cinta yang tumbuh tanpa rekayasa dan alami begitu saja. Cinta yang tidak mengenal logika dan kenyataan. Cinta yang tak mampu di cerna akal sehat untuk mengurangi kadarnya. Dan karena cinta ini pula aku kembali menulis di sini setelah sekian lama tak perduli.

”Jika ada lelaki yang datang dan ingin melamarmu, maka terimalah………tapi apa aku bisa?” bisikmu layu. Kali ini hatiku tersayat perih. Ternyata dia begitu menderita untuk memilih.

Di tengah resah dan ketidaknyaman sebagai perempuan yang terpilih tapi tak dikehendaki kaumnya, aku mengadu. Mengeluh tentang statusku sebagai perempuan sendiri. Meski tak kusesali keputusan yang kuambil sendiri. Hanya saja 2 tahun berlalu tanpa kekasih, aku mulai merubah pandangan terhadap lelaki. Aku belajar mencintai, aku rindu peran sebagai isteri.

Peran itu kudapatkan dengan catatan, dia tidak sendiri. Ada wanita lain yang telah mengisi hari-harinya dan telah berbuah dua orang jundi kecil yang belum mengerti bahasa hati.

Malam ini dilalui dengan ganjalan di hati, akankah cinta ini sampai pada penantian harapan?

Idealnya aku mengalah saja bukan? Karena aku datang terlambat beberapa tahun. Lalu apa cinta ini harus kucabut begitu saja padahal telah kutanam begitu rupa. Dia telah tumbuh sumbur  diintai beberapa serangga busuk yang siap mematikan. Apa aku harus mengalah? Jika ini aku lakukan apa kebahagian akan menghilang?

Mengalah bukan berarti kalah bukan?. Bisik hatiku sebelah kanan. Ya mengalahlah………sekali lagi hatiku memerintah. Sementara sudut kiriku menolak mentah-mentah. Jangan paksa berpisah, kau akan menderita tegasnya.

Mengalahlah……….sisi kananku membuka logika. Dia bukan satu-satunya pria yang ada di dunia. Masih banyak yang lebih hebat, tampan dan bersahaja. Apa yang bisa kau dapat darinya, selain celoteh dan harapan asa. Bangun Dinda, dia bukan apa-apa.

Akh……….sisi kiriku geram. Tidak, dia milikku, lelaki yang akan menikahiku dengan Al fatehah bayarannya. Dia adalah pimpinan, raja yang harus kutaati titahnya. Aku ingin bahagia, aku ingin dia juga.

Bahagia? Seperti apa bahagia yang kau punya dengan merebutnya dari kaumnya?. Duuh….sungguh aku binggung kini.

”Dia belum siap Din, maafkan aku” ujarnya luruh dalam tatap diamku. Ini percakapan kami terakhir, di kala dia datang membantu membuatkan kandang kelinciku.

Kandang kelinci itu cukup luas untuk mereka berdua. Sengaja dibuat demikian, dengan harapan jika induk betina melahirkan, maka tidak memerlukan tambahan kandang. Sepasang kelinci putih dihadiahkan padaku, pertanda dia menyayangiku.

Usai membuat kandang dan menyampaikan keberatan isterinya terhadapku. Dia meminta maaf dan mohon pengertian dariku.

Seperti biasa, aku lebih banyak diam. Aku memahami posisinya. Dia telah beristeri dan memiliki dua putri yang masih belia. Dan tak mungkin isterinya mengizinkan dia menikahiku. Poligami, sesuatu yang sangat menakutkan bagi perempuan. Meski hal tersebut dibolehkan dalam keyakinanku, namun praktiknya tidaklah segampang omongan.

Hal inipun telah kusampaikan di awal kepada Alif. Namun, dia meyakinkanku bahwa pondasi keimanan keluarganya yang kuat. Dan, isterinya pasti akan mau menerima kehadiran kami. Mengizinkan poligami, karena itu sunnah yang pahalanya berlipat ganda bagi isteri yang mampu membagi hatinya untuk perempuan lain. Tapi…

”Anak-anakku pun masih balita, Din. Keduanya perempuan, Hana dan Hani. Usianya baru empat dan lima tahun. Isteriku khawatir, anak perempuan kami bernasib sama nanti, di poligami. Hukum karma itu berlaku, Maafkan aku” ucapnya lirih. Kali ini tak sanggup menatap mataku. Dia kalah dengan ucapannya sendiri. Aku maklum, tersenyum canggung.

”Iya…aku pun belum siap jadi isteri kedua” jawabku berusaha bicara normal. Aku tersenyum, seperti biasa, maklum. Dan diakhiri dengan komitmen untuk melupakan saja agenda besar nan mulia pada mulanya. Kelinci putih, menjadi saksi!

Sebulan kemudian, Alif kembali datang dan berpamitan. Kali ini dia akan memboyong anak dan isterinya pindah ke Jakarta.

”Alhamdulillah…saya lulus pemberkasan CPNS dari kontrak penyuluh kemarin. Dapat kuota di pusat. Jadi saya mau pamitan sama kamu dan anak-anak. Jika ada apa-apa denganmu, jangan sungkan menelponku. Sebisaku akan membantu.” Alif berdiri tepat didepanku, dibawah pohon jambu depan rumah. Ini adalah pertemuan kami yang terakhir. Dan seperti biasa, aku hanya diam tanpa kata.

 

Aku adalah bunga yang tak sempurna

Namun ingin tampil mempesona

Bermodal ilmu, harapan dan cita-cita

Aku baktikan hidup membantu sesama

Bercanda, tertawa seolah beban tak pernah ada

 

Aku adalah bunga yang hampir merekah

Setelah patah diawal pertumbuhannya

Namun asa

Membangkitkan nyali tuk kembali terlahir fitri

Putih dari benci dan sakit hati

 

Aku adalah surya bagi dhu’afa

Memberi cahaya di kegelapan hidup nan suram

Tersenyum, bahagia sesuai peran

Sejujurnya………

Aku kehilangan,

 

bersambung

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sixteen − six =