Uncategorized
Aksi Sosial DPC FPPI Kepahiang dalam Masa Wabah Virus Covid 19
DPC Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Kepahiang turut berpartisipasi bersama Gabungan Organisasi Wanita (GOW) memberikan bantuan bagi masyarakat Desa Air Pesi Kecamatan Seberang Musi yang terkena musibah banjir (16 April 2020). Anggota FPPI menyumbang pakaian pantas pakai, air mineral dan makanan. Turut serta Ketua Helmiyesi bersama wakilnya Ibu Mulyanti dan Ibu Jernilan serta Kepala Bidang Organisasi Ibu Efrilena. Mereka bergabung dalam barisan Gabungan Organisasi Wanita yang dipimpin langsung oleh Ibu Wakil Bupati Kepahiang, Netti Herawati, S.Sos. Dari GOW menyumbangkan sembako, pakaian pantas pakai dan masker kesehatan. Ibu Wabup menyampaikan pesan kepada masyarakat yang terkena dampak bencana agar bersabar dan segera bangkit memperbaiki yang rusak serta dapat beraktifitas sebagaimana mestinya.

Informasi banjir di Desa Air Pesi Kecamatan Seberang Musi Kabupaten Kepahiang ini disebabkan intensitas curah hujan yang tinggi sehingga mengakibatkan sungai meluap dan merendam beberapa rumah warga pada tanggal 13/04/2020. Bencana diperkirakan terjadi pada pukul 16.00 wib yang disebabkan hujan yang deras sehingga sungai tidak dapat menampung debit air yang yang tinggi dan mengakibatkan banjir setinggi 30 sampai 50 CM sehingga menimbulkan kerugian berupa materil.

Menurut Data yang diterima dinas penanggulangan bencana alam (BPBD) kabupaten kepahiang bencana banjir yang terjadi didesa Air pesi mengakibatkan 25 unit rumah warga terendam, 3 unit sepeda motor hanyut , 10 unit rumah warga rusak ringan, dan tanaman padi sebanyak 1 ha rusak, kerugian ditafsir mencapai ratusan juta rupiah.

Selain aksi sosial membantu masyarakat yang terkena musibah bencana, DPC FPPI Kepahiang telah lebih dulu melakukan aksi kemanusiaan dalam masa wabah cavid 19 ini antara lain donasi gerakan menjahit masker gratis untuk lanjut usia, membantu anak-anak Thallasemia yang membutuhkan donor darah. Oleh karena itu Umi Yesi Ketua FPPI mengucapkan terimakasihnya melalui WA group dan Facebook sbb:
Assallamu alaikum kawan-kawankuku semua. Semoga semuanya sehat dan bahagia.
Saya mengucapkan terimakasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya atas partisipasi dan keaktifan kawan-kawan DPC FPPI Kepahiang dalam masa wabah virus covid 19 ini. Saya bangga kawan-kawan tetap semangat berbagi. Ada yang menjahit masker, ada yang nyumbang dana untuk beli kain, ada pula yang nyumbang tenaga untuk mengantar bantuan tersebut kepada lansia yang menjadi prioritas layanan.
Terimakasih untuk rasa kemanusian yang tinggi bagi anggota DPC FPPI Kepahiang yang menjadi pendonor darah untuk membantu anak-anak Thallasemia. Dan ikut berkontribusi mendata serta mengkoordinir orang lain untuk menjadi pendonor.
Terimakasih juga untuk yang menyumbang pakaian pantas pakai, minuman dan makanan untuk warga air pesi yang tertimpa musibah banjir. Yakinlah tidak ada perbuatan yang sia-sia. Apalagi jika kita niatkan semata mata untuk mendapat Ridho allah swt.
Kepada semua anggota yang telah menyumbang dana, darah, energi dan doa. Kepada kalian yang bekerja dalam diam tanpa mau menyebutkan identitas aslinya. Cukup tertulis sebagai Hamba Allah. Saya benar-benar berterima kasih. Sekali lagi terimakasih.
Helmiyesi, M.Si. Ketua DPC FPPI Kepahiang



Paket C: Belajar Ngopi di Rumah Kopi Kepahiang
Kepahiang, 18/2/2020. Belajar Ngopi di Rumah Kopi Kepahiang
Hari ini peserta didik Paket C Az Zahra melakukan study tiru ke Rumah Kopi Kepahiang yang beralamat di Jln Kgs Hasan no 17. Rt 01, Rw 01. Kelurahan Pasar Ujung. Kecamatan Kepahiang. Kabupaten Kepahiang. Provinsi Bengkulu. Dipandu para tutor, Irawan, S.Pd. Foni Susanti, A.md dan Merti Dwi Ariesti, S.Pd. peserta didik datang berkunjung dan disambut dengan hangat oleh Shubhan Fernando yang bertugas sebagai Barista di Rumah Kopi kepahiang.

Subhan yang akrab disapa Aan ini ternyata alumni Paket C PKBM Az Zahra tahun 2008. Beliau sangat senang bisa bertemu dan berbagi ilmu dengan adik tingkatnya. Setelah ramah tamah sebentar, Aan pun memulai diskusi tentang kopi pagi ini. Dia menyampaikan tentang sejarah kopi, Mutu kopi, Wirausahawan, Cupping ( uji cita rasa kopi ) dan Jenis kopi. Diapun dengan bangga mengatakan bahwa setelah menjadi Barista dia bisa jalan-jalan ke luar negeri seperti Singapore dan Bangladesh.
Sejarah kopi, mulai dari pertama kali kopi di temukan oleh gembala yang bernama khalid di daerah abasyina, masuk ke Indonesia pada saat tanam paksa penjajahan Belanda. Jenis kopi Arabica: Rasa asam, ditanam pada ketinggian 900 – 1700 dpl, bentuk biji sedikit memanjang. Sedangkan kopi Robusta: Rasa kopi pahit. Bentuk biji bulat dan padat. Ketinggian tanam di 600 sampe 1000 dpl

Cupping (uji cita rasa) yaitu Membedakan rasa macam-macam kopi, dan memberi nilai pada kopi tersebut. Para tutor dan siswapun diminta mencoba dan merasakan beda 4 jenis kopi yaitu:
- Robusta kepahiang. Ini adalah Kopi khas andalan Kabupaten Kepahiang dengan ciri Brown sugar. Clean, sedikit Smokey ( asap )
- Arabica west java, kopi yang berasal dari Garut, :black tea, brown sugar , floral
- Panama geisha berasal dari Ethiopia, bluebery, manga
- Kopi Gayo berasal dari Aceh, rempah tidak terlalu pahit (bitter) dan tidak sepat (astringent)
Raden Najamudin yang akrab disapa Nangcik Owner Kopi Kepahiang menyampaikan bahwa penjualan kopi kepahiang ini sudah sampai ke Jakarta, Yogjakarta, Bandung, Kalimantan, Papua, Palembang dan beberapa provinsi lainnya.

Beliau berpesan kepada peserta didik paket C, “Jika adik-adik ingin menjadi Pengusaha maka harus Berani mengambil keputusan, resiko..Berani sukses dan beranj gagal, Bekerja secara professional dan Konsisten terhadap usaha yang di jalankan. Insyaallah akan sukses”
Terakhir, Umi Yesi Ketua PKBM Az Zahra Kepahiang mengucapkan terimakasih kepada Bapak Najamudin dan Subhan yang telah berbagi ilmu dan menyuguhkan kopi gratis hari ini. Tak lupa Umi membeli kopi untuk oleh-oleh putrinya yang kuliah di Jember Jawa Timur. Nah…yang berminat mencoba kopi atau belajar ngopi bisa datang ke Rumah Kopi Kepahiang atau hubungi owner di nomor +62 813-6763-4999 (Raden Najamudin/nangcik).

300 Pelajar Mendapat Terapi Kasih Sayang
Kepahiang, 15/2/2020. TERAPI KASIH SAYANG PADA PELAJAR
Hari ini, Ketua DPC FPPI Kabupaten Kepahiang melaksanakan kunjungan ke SMPN 03 Kepahiang di Kelurahan Padang Lekat. Umi Yesi bersama Siti Asma dan Eni Lestari datang ke sekolah pukul 07.30 wib sesuai jadwal yang disepakati sebelumnya.
Di sekolah, anak-anak sudah berbaris rapi di halaman sekolah. Jumlah keseluruhan diperkirakan 300 anak. Di pandu dengan anak-anak Risma, acarapun dimulai dengan pembacaan syalawat dan doa. Hingga acara inti, Ketua DPC FPPI Kabupaten Kepahiang itupun diminta mengisi siraman rohani.

Umi Yesi tampil ke depan dengan senyum cerianya. Beliau menyampaikan materi tentang kasih sayang pada pelajar. Kasih sayang adalah sebuah kenikmatan yang dirasakan manusia di dunia. Dengan adanya rasa kasih sayang, tercipta kepedulian, kedamaian dan rasa empati kepada orang lain. Tidak hanya itu, kasih sayang bisa mendorong manusia untuk membantu meringankan penderitaan yang dialami oleh manusia lainnya. Tanpa adanya rasa kasih sayang, mungkin manusia akan menjadi sangat individualistis, egois dan tidak memikirkan kepentingan orang lain.
Kasih sayang seorang pelajar itu kepada siapa saja sih?
Kepada Allah SWT. Semua siswa beragama islam? Sudah baca syahadat? Yuk kita syahadat sama-sama.
Kepada orangtua. Ridho Allah adalah ridho orangtua. Sebelum berangkat sekolah pamit, cium tangan, cium pipi ayah dan ibumu. Minta doa sama ortu agar tidak ngantuk dikelas, tidak malas, tidak bete, biar semangat dan bahagia ke sekolah. Sarapan dulu supaya konsen belajar, minimal minum air putih.
Kepada Guru. Mereka adalah orangtua kedua setelah ayah dan ibu di rumah. Maka ridho bapak/ibu guru adalah ridho orangtua, otomatis Allahpun ridho. Ikuti peraturan di sekolah, seragamnya bagaimana?, lokalnya dimana? (karena banyak yang salah lokal, pamit sekolah tapi tidak sampai ke sekolah), sayangi fasilitas di sekolah, jangan suka corat-coret dan manjat pagar. Tidak ada gunanya, bahkan itu menjadi label “anak nakal”. Lama-lama menjadi doa, nakal benaran, tawuran (senggol dikit ngajak belago), jahil, pembully. Hormon kejahatan menguasai diri, tidak bisa terselamatkan. Dampaknya adalah cemas, khawatir, takut, merasa dosa, merasa bersalah, dimusuhi teman dan pastinya tidak bahagia. Kalaupun bisa tertawa, itu hanya topeng belaka. Hatinya kering….yang menderita tentu diri sendiri, ayah ibu dan gurumu.
Kepada Teman. Bentuk kasih sayang kepada teman seperti apa? Tolong menolong, empati kalo kawan dapat masalah atau musibah. Teman bukan untuk dimanfaatkan kebaikan dan kepintarannya. Tetapi untuk dijadikan contoh. Banyak kasus kekerasan di sekolah terhadap anak pintar dan baik. Dicontek, kertas ulangan dirobek-robek atau diminta ngerjakan tugas kelompok sendirian, karena dia pintar, yang lain lepas tangan. Bentuk sayang yang lain adalah kasih sayang yang overload, berlebihan. Jika sesama jenis laki-laki dengan laki-laki akan terjadi kasus sodomi. Perempuan dengan perempuan kasus lesbian. Ini bukan sayang namanya, ini menghancurkan teman. Kalo sayang, temannya dijaga, dipelihara. Kalo pacaran, jaga perempuanmu. Kalo orang lain tidak boleh menyentuh pacar kita, maka kamu juga tidak boleh menyentuhnyo. Jaga 4 area yang tidak boleh disentuh oleh siapapun yaitu mulut, dada, pantat dan kemaluan.

Selanjutnya Umi Yesi melakukan terapi kasih sayang melalui doa dan gerakan membuka titik meridian pada tubuh. Karena peserta berjumlah 300-an maka metode terapi sederhana yang beliau lakukan yaitu dengan menimbulkan rasa sayang kepada ayah dan ibu. Menimbulkan rasa hormat dan sayang dengan guru serta menerapi diri sendiri agar merasa nyaman dan tenang. Peserta mengikuti intruksi Umi dengan fokus sambil menutup mata hingga benar-benar timbul rasa kasih dan sayang dalam diri dengan beruraian air mata.
Terakhir, Umi berpesan, saatnya kita saling berkasih sayang. Tiap saat, tiap waktu, di manapun berada. Tidak perlu waktu, bulan atau tahun khusus untuk mengungkapkan kasih sayang.
