"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Rampai Sastra Rejang dengan Aksara Ulu

Contoh Surat Puitis Berbahasa Rejang dengan Aksara Ulu

Kepahiang, 5/10/2025. Contoh Surat Puitis Berbahasa Rejang dengan Aksara Ulu

Dalam rangka Lomba Menulis Surat Puitis Berbahasa Rejang dengan Aksara Ulu yang diselenggarakan oleh Komunitas Sastra Yayasan Az zahra Kepahiang. Pendaftaran terakhir hari Rabu, 8 Oktober 2025. Berikut kami berikan contoh surat puitis yang dimaksud.

Contoh Surat Puitis 3 Paragraf dengan Bahasa Rejang:

Stabik ngen sedayo ku kmirim kundai luang bekabut hakweng ngen kepas angin Tebo Melea. Kundai pajar metew nak pucuk dawen-dawen kawo, uku meding asei hindew ngen Taneah Hejang. Uku tehinget dalen talang do leceah mai saweah ngen pai-pai do menguning. Sahei boloah betembung nak pulea kawo belageu awei sa er-sa er han. Ngen tiep kepas angin ne min deu penginget maso bliho.

Uku hindew sahei pungguk medea kelmen, mapeah atei belek mai umeak tuwi. Penan bliho klitang tenaboah mihing tarei kejei, serto senyum anak sangeui do becayo nak beah lapu obor. Petueah tun tuwi-tuwi nadeah nak berno umeah duwi tiket awei gi tetengoa do majeh hetei idup penoah ma’ano. Au, nak Taneah Hejang, waktew bepanea begoyo utuk ku meding lagew-lagew idup yo. Gine kah kehete yo maseah ku dapet nak biloi-biloi yo ngen memen?

Uku hindew bepanea nak pinggir Biyoa Musei, munjeu kekea tehnem nak biyoa do jehneah. Kenai hum kawo becerito panes ne umeah duwi tiket tuwi. Nak taneah Hejang aban asei pahak lut. Tiep kembus angin ade cerito ninik-puyang do newaris sapei uyo. Kinai-kinai sewaktew-waktew be, lakeah yo mino melat taneah penan lahir, mehgep alam ngen budayo do meloi jiwo.

 

Contoh Surat Puisi 3 Paragraf versi Bahasa Indonesia:

 Stabik magea sedayo kukirim dari lembah berkabut pagi dan desir angin Bukit Hitam. Sejak fajar menyingkap di pucuk daun-daun kopi, kurasakan rindu pada Tanah Rejang. Aku teringat jalan talang yang basah menuju sawah dengan padi-padi menguning. Suara bambu beradu di kebun kopi mengalun seperti syair-syair lama. Dan, setiap desir anginnya membawa banyak kenangan masa lalu.

Aku merindukan suara pungguk memanggil malam, menuntun hati kembali ke rumah tua. Tempat dulu kelintang dipukul mengiringi tari kejei, bersama senyum anok sangei yang bersinar di bawah lampu pelita. Petuah tetua diucapkan di beranda rumah panggung seperti masih terdengar, yang mengajarkan arti hidup penuh makna. Ya, di tanah Rejang, waktu berjalan pelan untuk aku merasakan lagu-lagu kehidupan. Apakah semua masih kudapatkan di hari-hari ini dan besok?

Aku rindu berjalan di tepian Sungai Musi, membiarkan kaki terendam di airnya yang jernih. Juga wangi kopi bercerita hangatnya rumah panggung tua. Di tanah Rejang awan terasa begitu dekat. Setiap hembusan angin ada cerita leluhur yang diwariskan dengan setia. Semoga suatu hari nanti, langkah ini kembali menjejak tanah kelahiran, memeluk alam dan budaya yang membesarkan jiwa.

Slamet Imam: Peran Komunitas dalam Sastra Rejang

Slamet Imam: Peran Komunitas dalam Sastra Rejang

Kepahiang, 26/9/2025 –  Slamet Imam Wakhyudin, seorang narasumber dalam Lokakarya (Workshop) Rampai Sastra Rejang dengan Aksara Ulu, mengetengahkan sebuah materi krusial mengenai “Peluang Komunitas dalam Melestarikan Sastra Daerah”.

Beliau menyoroti bahwa sastra daerah adalah sebuah warisan budaya yang tak ternilai, mengandung jejak sejarah dan kearifan lokal yang terancam oleh perkembangan zaman dan derasnya arus globalisasi. Tanpa adanya upaya pelestarian yang terstruktur, kekayaan sastra ini berisiko terpinggirkan dan akhirnya terlupakan oleh generasi penerus.

Dalam paparannya, Slamet Imam Wakhyudin menekankan bahwa komunitas memegang peranan strategis sebagai motor penggerak utama dalam upaya pelestarian ini. Komunitas sastra, menurutnya, dapat menjadi wadah bagi para pegiat budaya, sastrawan, dan generasi muda untuk berkumpul, belajar, dan berkarya. Melalui kegiatan-kegiatan kreatif seperti workshop penulisan, festival sastra, dan digitalisasi naskah kuno, komunitas mampu menumbuhkan kembali rasa cinta dan kepemilikan terhadap sastra daerah.

Salah satu potensi besar yang dapat digali dan dikembangkan oleh komunitas adalah khazanah sejarah lokal, seperti sejarah Rejang Empat Petulai. Beliau secara spesifik menunjuk pada periode antara tahun 1331 hingga 1364 sebagai masa yang kaya akan nilai-nilai historis dan budaya yang dapat diangkat kembali.

Dengan meneliti dan menarasikan ulang kisah-kisah dari masa tersebut, komunitas tidak hanya melestarikan cerita, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Melalui pendekatan ini, pelestarian sastra daerah tidak lagi menjadi sekadar upaya akademis yang kaku, melainkan sebuah gerakan budaya yang hidup dan berakar di tengah masyarakat. Dengan memberdayakan komunitas dan mengangkat kembali kekayaan sejarah seperti Rejang Empat Petulai, Slamet Imam Wakhyudin optimis bahwa sastra daerah dapat terus bertahan dan bahkan berkembang di tengah tantangan zaman, menjadi sumber inspirasi dan identitas bagi masyarakat Rejang di masa kini dan mendatang.

Lokakarya ini dilaksanakan oleh Komsas Yayasan Az Zahra Kepahiang kerja sama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikdasmen dalam rangka Fasilitasi dan Apresiasi Komunitas Sastra tahun 2025.

Prof. Sarwit: Menggali Kembali Kejayaan Intelektual Rejang, Ancaman Kemunduran 300 Tahun

Prof. Sarwit: Menggali Kembali Kejayaan Intelektual Rejang, Ancaman Kemunduran 300 Tahun

KEPAHIANG, 26/9/2025 – Sebuah lokakarya sastra yang mengupas kekayaan Sastra Rejang dan Aksara Ulu mengungkap fakta mengejutkan tentang tingkat peradaban masyarakat Rejang di masa lampau.

Diselenggarakan oleh Komsas Yayasan Az Zahra Kepahiang bekerja sama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, acara yang berlangsung di Hotel Umro pada hari ini, 26 September 2025, menghadirkan narasumber Prof. Dr. Sarwit Sarwono, M.Hum. yang menyoroti pencapaian literasi dan spiritualitas leluhur Rejang yang luar biasa.

Profesor Sarwit Sarwono memaparkan bukti historis yang kuat bahwa sekitar 300 tahun yang lalu, 1.700 orang Rejang di Lais tidak hanya telah melek huruf, khususnya Aksara Ulu, tetapi juga telah mendalami ilmu tasawuf. Hal ini dibuktikan dengan penemuan empat naskah kuno sejenis yang membahas tentang ajaran Hamzah Fansuri, seorang ulama sufi agung yang pemikirannya menandakan tingginya level intelektualitas dan spiritualitas suatu komunitas pada masa itu.

Temuan ini menjadi indikator bahwa masyarakat Rejang pada era tersebut telah mencapai tingkat keilmuan yang sangat maju.

Dalam konteks kekinian, Profesor Sarwono menyampaikan sebuah peringatan yang tajam dan menggugah. Ia menyatakan bahwa jika generasi muda Rejang saat ini tidak lagi memahami dan menggunakan bahasa ibu mereka, maka secara peradaban mereka akan mengalami kemunduran sejauh 300 tahun.

Kehilangan bahasa berarti kehilangan akses terhadap warisan pengetahuan, filosofi, dan kearifan yang terkandung dalam naskah-naskah kuno dan tradisi lisan yang diwariskan oleh para leluhur mereka yang berilmu tinggi.

Oleh karena itu, lokakarya ini menjadi momentum krusial untuk merevitalisasi kecintaan dan pemahaman terhadap Sastra Rejang dan Aksara Ulu. Upaya pelestarian ini bukan sekadar tentang menjaga tradisi, melainkan sebuah jembatan untuk menghubungkan kembali generasi sekarang dengan kejayaan intelektual dan spiritual masa lalu.

Dengan memahami bahasa dan aksara leluhur, generasi muda Rejang diharapkan dapat mewarisi dan melanjutkan estafet peradaban yang telah dirintis dengan gemilang tiga abad silam.

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang