"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Ngotori Absen: Bagaimana Seharusnya Guru Berbicara?

Zahra publishing. Bagaimana Seharusnya Guru Berbicara?

Jumat, 11/7/2025. Ada kasus menarik yang disampaikan salah satu peserta sosialisasi Program Desa Setara mengenai alasan putus sekolah. Dia tersinggung dengan kalimat guru di sekolah sebelumnya, NGOTORI ABSEN! Fenomena kata guru “mengotori absen” memang bisa jadi pemicu anak putus sekolah. Hal ini termasuk kekerasan verbal yang dilakukan guru di sekolah.

Mari kita bahas dampak perkataaan guru tersebut, terutama bagaimana kalimat yang seolah sepele bisa berujung pada keputusan anak tidak mau datang ke sekolah lagi.  Kalimat seperti “Kamu ini mengotori absen saja!” mungkin bagi guru hanya ekspresi kekecewaan sesaat. Namun, bagi beberapa anak yang sudah bergumul dengan berbagai kesulitan ekonomi, membantu orang tua, kata-kata itu bisa terasa seperti cap atau label negatif yang sangat merendahkan.

Dampak dari kekerasan verbal, meskipun tidak berupa pukulan fisik, bisa sangat dalam dan membekas, antara lain: (1) Menurunnya Kepercayaan Diri: Perkataan itu bisa membuat anak merasa malu di depan teman-teman, memperparah isolasi social, (2) Hilangnya Motivasi Belajar: Jika di sekolah ia hanya mendapat cercaan, motivasinya untuk datang dan belajar akan hilang. (3) Trauma Psikologis: Dalam jangka panjang, bisa menyebabkan kecemasan, depresi, bahkan ketakutan berlebihan terhadap sekolah atau figur otoritas, (4) Putus Sekolah: Ini adalah konsekuensi paling ekstrem, di mana anak memilih menarik diri dari lingkungan yang dirasa toxic dan tidak mendukung.

Bagaimana Seharusnya Guru Berbicara?
Seorang guru memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter dan masa depan siswa. Berikut adalah beberapa cara guru seharusnya berbicara kepada anak yang sering terlambat: (1) Pendekatan Personal dan Privat: Jangan tegur di depan kelas. Ajak anak bicara empat mata, setelah jam pelajaran atau saat istirahat. Ini mengurangi rasa malu dan menciptakan ruang aman bagi anak untuk bercerita, (2) Mulai dengan Empati, Bukan Penghakiman, (3)  Tawarkan Bantuan dan Solusi: Mengingatkan anak akan potensinya dapat menumbuhkan kembali semangatnya, (4) Komunikasi dengan Orang Tua/Wali: Jika perlu, komunikasikan masalah ini dengan orang tua secara bijak, bukan untuk mengeluh, tetapi untuk mencari tahu akar masalah dan bekerja sama mencari solusi.

Intinya, dalam kasus seperti ini, guru perlu menjadi jembatan, bukan tembok. Memahami bahwa di balik “masalah” seorang anak, seringkali ada cerita dan perjuangan yang lebih besar.

Nah, Bapak dan ibu guru di sekolah formal maupun nonformal, mari bijak dalam berkata-kata. Bisa jadi anak enggan ke sekolah karena kalimat kita yang tak di sengaja, sepele namun berat dampaknya.

Bagi anak yang tertarik kembali bersekolah, mari daftar ke PKBM Az zahra Kepahiang, Jln. Pengabdian. Kelurahan Padang Lekat. Kecamatan Kepahiang. Kabupaten Kepahiang. Provinsi Bengkulu. Kunjungi kami di https://maps.app.goo.gl/CghSGTGamDQ8FH9D6?g_st=ac

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eighteen − 10 =

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang