"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Ketika Media Nasional Berbicara Tentang PKBM Az Zahra Kepahiang

Kepahiang, 6/5/2020. Ketika Media Nasional Berbicara Tentang PKBM Az Zahra Kepahiang

Pak Aef memperkenalkan diri sebagai wartawan WARTA, media informasi Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Direktorat Jenderal PAUD dan Dikmas Kemdikbud. Beliau menghubungi Umi Yesi Ketua PKBM Az Zahra Kepahiang via whatsApp untuk menjawab tiga pertanyaan beliau yaitu (1) Latar belakang pendirian PKBM, (2) Jumlah Peserta didik yang sudah lulus, dan (3) Program apa saja yang sudah dijalankan oleh PKBM Az Zahra Kepahiang selama 17 tahun berdiri.

Umi Yesi menjawab pertanyaan beliau dengan gembira, dalam hatinya bangga juga ada media nasional yang akan meliput profil lembaganya.

Awal berdirinya az zahra itu sebenarnya karena sulitnya lapangan pekerjaan di Kepahiang-Bengkulu.  Tahun 2002, saya pulang karena baru selesai wisuda kuliah dari UNDIP Semarang, universitas bergengsi di pulau Jawa. Saya putri daerah yang sekolah di pulau Jawa, pulang dengan harapan ingin membangun daerah. Namun niat itu kandas, karena tidak satupun lamaran pekerjaan yang saya kirim mau menerima saya bekerja. Hingga akhirnya, Maret 2003 saya tertantang untuk membantu seorang guru SD yang mengeluh tentang kenakalan anak laki-laki yang hobby membuka celana dalam anak perempuan. Saat itu melihat warna CD anak perempuan menjadi tren dan kesukaan anak laki-laki di sekolah. Saya dititipi 7 anak yang bandel-bandel tersebut. Mereka saya bimbing dan motivasi diri untuk lebih baik hingga akhirnya mereka berubah total dari siswa nakal menjadi siswa berprestasi di sekolahnya melalui lembaga bernama AZ ZAHRA.

Program Kesetaraan dimulai tahun 2006 sehingga Peserta didik yang lulus tentu sudah ribuan jumlahnya, sebab setiap tahun kami meluluskan sekitar 100 siswa atau lebih. Dan program yang dikelola adalah paket komplet, layanan dilakukan mulai dari anak usia dini, remaja putus sekolah, pemberdayaan perempuan hingga lanjut usia. Fokus yang menjadi layanan di Az zahra hingga saat ini adalah:

  1. Pendidikan Anak usia dini, bagi anak yang miskin di pedesaan. Kami memiliki 13 PAUD yang berada di pedesaan yang menjadi desa binaan;
  2. Program kesetaraan (paket a/paket b/paket c) adalah dominan anak usia sekolah 6-21 th (75%). Faktor utama anak tidak sekolah karena miskin dan masalah sosial lainnya seperti DO, menikah usia dini, korban kekerasan seksual, anak bermasalah hukum/despersi bapaz dll;
  3. Pemberdayaan perempuan untuk perempuan miskin korban kekerasan dalam rumah tangga;
  4. Homecare lansia adalah kegiatan kunjungan rutin oleh pendamping ke rumah-rumah lanjut usia yang nonpotensial;
  5. Sabusabu adalah singkatan satu bulan satu buku, mrupakan gerakan literasi bagi masyarakat agar gemar menulis dan membaca buku. Setiap bulan kami menerbitkan minimal 1 buku;
  6. Budaya Batik Diwo, adalah keterampilan guna melestarikan adat dan budaya di Kabupaten Kepahiang melalui batik tulis diwo. Batik khas kepahiang dengan huruf kha ga nga dan hasil bumi daerah.  Batik tulis menjadi pilihan keterampilan selain untuk melestarikan budaya, ada maksud lainnya, yaitu terapi jiwa bagi anak bermasalah yang mengikuti program kesetaraan. Dengan membatik mereka akan lebih konsentrasi, teliti dan berpikir kreatif. Awalnya mereka nakal tak terkendali, sulit di atur dan melawan dengan tutor. Dengan membatik, konsennya teralihkan. Mereka bisa lebih tenang dan menikmati kegiatan tersebut. Kami terus berinovasi dan mencari cara bagaimana menjinakkan mereka

Di akhir sesi Pak Aef Warta kemdikbud bertanya, “Maaf kalau boleh tahu, jabatan ibu apa aja? Saya baca juga ibu sebagai wanita penggerak dan penulis buku ya”

“Aduh….perlu juga ya…?” jawab Umi merasa malu.

“Iya…supaya kaya aja tulisannya nanti” jawab Pak Aef.

“Oh iya,….saya dipercaya menjadi Ketua Dewan Pimpinan Cabang Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (DPC FPPI) Kabupaten Kepahiang. Selain sebagai Ketua PKBM Az Zahra Kepahiang saya juga menjabat sebagai Asesor PNF, Penulis Buku, Pengerak perempuan dan  Terapis di Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga. Menjadi terapis karena yang kami urus adalah anak atau orang bermasalah.  Anak-anak korban kekerasan yang sekolah di az zahra sebelumnya adalah beberapa klien/pasien yang telah sembuh dari depresinya setelah di terapi dan kembali bersekolah di Az Zahra.

Dan, hari ini kami gembira mendapat kiriman soft file bukti cetak media Warta tersebut. Terimakasi Pak Aef atas ulasannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five + five =