"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Wabup dan Ketua Tim Pengerak PKK membatik bersama siswa Paket C

Kepahiang, 20/11/2019. Wabup dan Ketua Tim Pengerak PKK membatik bersama siswa Paket C

Dalam rangka mendukung Gerakan Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Mandiri (GP3M) di Kabupaten Kepahiang, Az Zahra menampilkan kreasi membatik di stand pamerannya. Keterampilan membatik ini diperagakan oleh peserta didik Paket C yang mendapat Program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) kerjasama antara PKBM Az Zahra Kepahiang dengan Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan atau Ditjen PAUD dan Dikmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 2019.

 

Tak disangka, atraksi ini menarik perhatian Ibu Netti Herawati, S.Sos Wakil Bupati Kepahiang. Beliau berhenti di stand PKBM Az Zahra Kepahiang dan memperhatikan anak-anak yang sedang asyik membatik di sana. Melihat hal tersebut, Umi Yesi mengajak Ibu Wabup untuk mencoba praktik mencanting seperti yang sedang diperagakan oleh pesdik paket C di lembaganya itu. Bu Nettipun ikut duduk dan fokus pada arahan ananda Ropis, siswa disampingnya. Awalnya agak ragu, khawatir merusak gambar. Lama-lama dia keasyikkan dan tersenyum riang bercanda dengan siswa-siswi yang ikut bahagia dan bangga bisa duduk bersama perempuan nomor satu di Kabupaten Kepahiang ini.

 

Tak lama berselang, Bupati Kepahiang Dr.Ir Hidayatullah Syahid, M.M.IPU beserta rombongan masuk dan meninjau stand PKBM Az Zahra Kepahiang. Lagi-lagi atraksi peserta didik paket C ini menarik perhatian mereka. Ibu Efie Hidayat, Ketua Tim Pengerak PKK sekaligus istri Bupati Kepahiang ikut duduk dan mempraktikkan melukis kain yang sudah bermotif. Batik khas Kepahiang tersebut disebut Batik Diwo, adalah batik yang memiliki motif inti aksara Rejang (Ka Ga Nga) yang  dikombinasikan dengan motif lain. Diantaranya motif hasil bumi, perkebunan, pertanian atau program yang sedang diunggulkan pemerintah daerah. Batik tidak pernah berhenti berkembang, bahkan selalu berubah mengikuti perkembangan zaman dan kebudayaan masyarakat yang membuatnya. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki corak batik dengan ciri khas motif dan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.

 

   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twelve − twelve =