"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Sabusabu VII, Literasi Pemaafan di Bulan Ramadhan

Zahra Publishing. Literasi Pemaafan di Bulan Ramadhan

“Memendam Kebencian ibarat meminum racun namun berharap orang lain yang mati”

Kalimat motivasi ini disampaikan Umi Yesi di kelas menulis sabusabu angkatan VII. Tema kelas menulis yang digagas oleh TBM Cahaya PKBM Az Zahra Kepahiang ini adalah Literasi Pemaafan di Bulan Ramadhan, dilaksanakan pada hari Rabu, 28 April 2021 pukul 10.30 – 13.00 wib.

Kms Fahrudin, S.Pd Ketua TBM Cahaya menyampaikan bahwa tema pemaafan ini sengaja dipilih karena menyambut bulan suci Ramadhan 1442 H dan sekaligus memperingati Hari Buku Sedunia. Diharapkan dengan adanya kelas ini kita dapat menjalankan ibadah puasa dengan maksimal setelah mampu memaafkan diri sendiri dan memaafkan orang lain yang menyebabkan kebencian selama ini. Outputnya adalah menghasilkan karya berupa buku yang menceritakan tentang rasa.

Peserta larut dalam uraian materi yang disampaikan Umi Yesi mulai dari emosi negatif yang dapat menyebabkan penyakit fisik, cara mencegah kebencian hingga menuliskan semua rasa yang ada dalam kalimat dan diucapkan menjadi obat atau terapi hati. Mereka berjumlah 10 orang yaitu Resi, Fitri, Diah, Kinan, Elvi, Maulida, Zahra, Nabila, Selvi, Arian, dan Eni.

Tips cara mencegah kebencian antara lain mengakui adanya perasaan negatif yang ada, memilih untuk tetap membenci lalu mati karena racun emosi atau memilih untuk memaafkan, terima semua emosi yang muncul karena adanya kebencian tersebut, jangan berpura pura dan menahan rasa, tuliskan rasa yang ada lalu ceritakan kepada orang lain yang dapat membantu kita meminimalisir kebencian tersebut.

Kelas menulis bertambah meriah dengan penampilan cerita dari Kak Dyah bersama nenek Sheshe, boneka tangan yang diperankannya. Kak Dyah bercerita tentang rasa marah akibat dibenci seseorang. Dan untuk meredakan marah tersebut dengan cara masa bodoh dengan omongan orang lain dan lebih memilih berdamai pada diri dibandingkan sibuk membenci. Intinya enjoy aja jika ada orang yang tidak suka dengan kita. Teruslah berkarya, jangan pelihara marah karena perasaan itu akan membakar diri sendiri.

Terakhir Umi mengajarkan terapi emosi dengan cara menuliskan rasa yang dominan saat ini. Tak disangka semua peserta memiliki emosi negatif yang menghinggapi mereka seperti sedang gelisah, marah, takut, hampa, benci dll.

Dan satu persatu peserta mengungkapkan rasa tersebut sambil menahan tangis. Namun mereka merasa lega sudah bisa mengungkapkan emosi negatif yang ada selama ini.

PR peserta kelas sabusabu seperti biasa adalah menulis sambil bercerita. Kita tunggu karya mereka ya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eleven + 13 =