"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Profil Tutor: Feri Irsyari

“Jatah” Dari Isteri Tak Diberi, Anak Tiri Digagahi, Korban Hamil 8 Bulan. Ini adalah judul berita Radar Kepahiang yang dimuat pada hari Kamis, 28 September 2017. Berita berita seperti ini rutin menghiasi media massa di Kabupaten Kepahiang. Hal ini di karenakan hampir setiap bulan ada kasus serupa yang terjadi, dan korbannya adalah kebanyakkan anak putus sekolah.

Untuk memberi layanan dan pendampingan tehadap korban tersebut maka az zahra mendirikan Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3). Lembaga ini memberikan pelayanan konsultasi kesejahteraan yang bersifat sosial psikologis baik kepada individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat sehingga dapat mengenali permasalahan yang ada dan mampu memecahkan masalah mereka sendiri melalui sumber dan potensi yang ada. Dan salah satu konselor yang sekaligus tutor paket C bidang study sosiologi ini bernama Feri Irsyari Putra, S.Pd.I.

Bimbingan konseling yang dilakukan menangani keadaan psikologis korban/klien seperti penguatan dan pemahaman diri serta mengembalikan kepercayaan diri pada korban/klien, sehingga mampu menyampaikan informasi secara benar atas kejadian/masalah yang sedang di hadapi.

Pak feri yang lahir di Palembang, 21 Mei 1970 ini pernah menjadi Kepala Desa Batu Belarik Kecamatan Bermani Ilir pada tahun 2008 s/d 2013. Beliau gabung di az Zahra sejak tahun 2009.

Riwayat pendidikan:

  1. SDN 50 Curup lulus tahun 1983
  2. SMPN 2 Curup lulus tahun 1986
  3. SMAN 2 Curup lulus tahun 1989
  4. S1 Bimbingan Konseling STAIN lulus tahun 2012

Saat ini, selain menjadi tutor di az Zahra, pak Feri adalah Guru BK di SMPN 07 Bermani Ilir. Beliau tertarik mengabdikan diri sebagai tutor kesetaraan karena yakin bahwa anak putus sekolah dapat dirubah kearah yang lebih baik. Oleh karena itulah pak Feri tertantang untuk merubah prilaku anak menjadi lebih baik, terutama anak korban kekerasan seksual dan napza.

Harapan tutor kedepan, semoga tutor bisa setara dengan pendidik lainnya, dan hak hak sebagai pendidik dapat terealisasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

17 + six =