"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Geliat TBM di Kepahiang Mencerahkan

Kimli Haroswinarti, S.Pd.M.TPd Ketua Forum TBM Provinsi Bengkulu datang ke Kepahiang. Beliau menemani Pak Ali Chatani, tim dari Kemdikbud yang melakukan kunjungan ke Taman Bacaan yang ada di Kepahiang, antara lain TBM Cahaya dan TBM Widya Kencana.

Keunggulan TBM Cahaya dalam gerakan literasi di Kepahiang adalah Kelas Menulis Sabusabu. Kelas ini melatih para calon penulis, menerbitkan buku dan mencetak buku hasil karya mereka tersebut.

Menjelang siang mereka berkunjung ke TBM Widya Kencana. Kali ini ikut serta Pak Hendri Ketua FTBM Kabupaten Kepahiang. Keunggulan TBM ini adalah adanya Pekan Ceria yaitu kegiatan membaca buku sambil mendongeng.

Pak Ali sangat antusias dengan gerakan pegiat literasi di Kepahiang. Beliaupun menanyakan apa saja kendala yang dihadapi dalam melaksanakan kegiatan literasi.

Menurut Umi Yesi, salah satu penulis mengungkapkan bahwa solusi mengajak masyarakat gemar membaca adalah dengan menulis. Dengan menulis maka otomatis mereka akan membaca. Namun kendalanya adalah ketika masyarakat sudah bisa menulis maka perlu dicetak menjadi buku. Nah…biaya mencetak buku ini yang menjadi kesulitan di kelas menulis yang beliau ampu.

Sedangkan kesulitan TBM Widya Kencana adalah dalam mengarsipkan buku. Panduan katalog dan dokumen buku lainnya. Hal ini perlu adanya pelatihan bagi pengelola TBM.

Senada dengan ungkapan pegiat literasi Kepahiang tersebut, Ibu Kimli berharap agar Pak Ali menyampaikan keluhan dan kesulitan tersebut kepada tim literasi di Kemdikbud.

“Geliat TBM di Kepahiang ini mencerahkan. Kegiatan mereka nyata dan bervariasi dalam mengerakkan literasi. Untuk itu saya mohon mereka ini dibantu dengan pelatihan dan dana-dana yang menunjang kegiatan. Serta adanya honor yang memadai bagi pengelola TBM . Supaya mereka fokus dalam melakukan literasi ini”

Menanggapi hal tersebut Pak Ali berjanji akan menyampaikan hal ini kepada pimpinan beliau. “Insyaallah….saya telah mencatat apa saja kendala dan kesulitan yang dihadapi TBM di sini. Nanti usulan dan harapan pegiat literasi ini akan saya sampaikan. Saya yakin masa depan pengelola TBM bakal cerah. Kami sedang berjuang dan mengusahakan adanya honor bagi pengelola TBM sesuai UMR”

Mendengar kabar baik tersebut, semua yang hadir mengaminkan. Terakhir, mereka berkunjung ke Rumah Kreatif Batik Diwo Kepahiang di obyek wisata Mountain Valley Kabawetan. Di sini mereka menyaksikan literasi budaya para pengrajin batik diwo. Batik Diwo adalah literasi budaya dalam melestarikan huruf kha ga nga, huruf aksara Redjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

12 − five =