"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Cerita Lima Belas Menit

Bengkulu. 2 Juli 2018 pukul 07.30 wib. Layanan kantor bank BCA belum di buka, namun petugas jaga mempersilahkan saya masuk ke ruangan dan menunggu pukul 08.00 wib untuk memulai layanan. Saya masuk dan memilih menunggu di bangku yang sudah di siapkan. Lima belas menit kemudian petugas bank mempersilahkan untuk menunggu di depan petugas yang melayani setoran, sebab khawatir di dahului orang lain yang mulai berdatangan. Dan benar di sana sudah duduk seorang pria paruh baya berpakaian jaket coklat yang sudah memudar warnanya. Dia tersenyum dan sedikit menganggukkan kepalanya. Sayapun membalas senyuman dan membuka dialog. Jujur saja, saya merasa kurang nyaman dan agak khawatir  melihat penampilannya. Seolah saya tidak yakin bahwa dia adalah nasabah dan punya keperluan yang sama yaitu menyetor uang di BCA.

“Mau nabung pak?” tanya saya basa basi.

“Mau kirim uang ke anak bu.” Jawabnya pelan sembari memegang tas pinggang warna hitam yang kondisinyapun sudah lusuh dan sobek di sisi kanan kiri.

“ohh…untuk sekolah? tanyaku lagi

“Iya…untuk biaya kuliah bu, anak saya sekolah di Yogyakarta.” Ada binar kebanggaan di matanya saat berbicara tersebut. Dan perasaan kurang nyaman sayapun mulai berkurang. Serta insting jurnalis sayapun mulai bermain.

“Wah…hebat dong pak, bisa sekolah di Yogya. Ambil Jurusan apa di sana?. Dan setiap bulannya berapa biaya yang harus bapak kirim ? cecarku dengan semangat seorang pengiat pendidikan nonformal yang selalu bahagia jika melihat dukungan orang tua terhadap anak yang akan bersekolah tinggi. Sebab dari penampilan bapak ini, sama sekali tidak mencerminkan bahwa dia berpendidikan tinggi (prasangka ini hanya ada di dalam hati..astaqfirurullah al adzim).

“Dia ambil jurusan teknik bu…saya tidak tau detailnya. Saya hanya rutin mengirim uang sebanyak 14 juta setiap bulannya.” Lagi lagi dia tersenyum memandangku yang sedikit terperangah saat nominal empat belas juta tersebut keluar dari mulutnya.

“Yang benar pak, 14 juta? Kok banyak sekali ya!” aku mulai membayangkan nominal yang sama yang harus di keluarkan ketika anak mau masuk kuliah. Anak tertuaku sedang menunggu pengumuman SBMPTN yang akan di umumkan besok tanggal 3 Juli 2018 dan pilihan kuliahnya adalah UGM di Yogyakarta.

“Bener bu…biaya kostnya aja 1.5 juta perbulan, belum biaya makan, biaya transport dan beli alat alat praktek gambar untuk kuliahnya. Makanya hasil panen saya habis hanya untuk biaya kuliah anak saja bu. Saya biarlah….makan seadanya di sini. Sebentar lagi dia selesai dan balik ke sini untuk kerja. Kurang lebih setahun lagi la..perkiraan dia di wisuda.” Dia tersenyum lagi…bahagia nampaknya. Saya mulai khawatir membayangkan mahalnya biaya kuliah tersebut.

Dan dia mulai bercerita tentang sekelumit hidupnya serta harapan besar kepada putranya yang sedang kuliah di Yogyakarta.

“ Saya ingin menebus masa muda dan membayar hutang kepada almarhumah isteri saya bu. Dulu waktu masih muda saya ini nakal dan malas sekolah. Saya hanya tamat SMP. Padahal ibu saya bekerja di angkatan darat dan bapak saya kepala Dinas di Bengkulu ini. Saya 13 bersaudara dan anak nomor 10. Semua kakak dan adik saya sudah jadi orang hebat. Mereka mempunyai jabatan bahkan ada yang tinggal di luar negeri. Saya sudah kebal dengan nasehat dari orang tua, tetap tidak mau nurut bahkan pernah di hukum penjara selama seminggu dan yang lapor adalah ibu saya sendiri. Saking  nakalnya saya harus terus pindah sekolah agar bisa naik kelas. Dan puncaknya saya minggat, kabur dari rumah merantau ke Jakarta tanpa membawa bekal yang cukup.

Tiga tahun saya menjadi pengemis dan peminta minta di Jakarta. Karena tidak tahan akhirnya pulang ke Bengkulu lagi. Ayah ibu saya tidak marah lagi, mereka tidak perduli. Saya bebas berbuat semaunya. Tidak ada yang berani nasehati dan menegur. Lalu saat saya berumur sekitar 22 tahun, saya mengalami kecelakaan bermotor dan menabrak seorang gadis yang sedang melintas di jalanan. Gadis tersebut patah kaki dan cacat gara gara ulah saya yang ngebut bermotor. Atas inisiatif orang tua, saya di minta menikah dengan gadis tersebut. Saya bersedia menikah namun hidup tetap liar ke sana ke mari. Saya suka menjadi pengangguran dan tinggal di rumah orang tua yang mewah, semua fasilitas ada.”

“Wah..kisah hidup bapak banyak di alami oleh anak anak didik saya di PKBM Az Zahra, mereka putus sekolah karena nakal dan malas itu pak. Lalu kapan akhirnya bapak insyaf ? tanyaku tertarik lebih dalam dengan kisah bapak ini.

“Saya insyaf ketika putra saya lahir bu,  saat itu saya pandang wajah anak saya tersebut dan saya menangis. Saya bilang ke orang tua dan kakak kalo saya butuh pekerjaan. Saya ingin berubah. Semua kakak dan adik saya berkumpul rapat keluarga dan mereka saling iuran uang sehingga terkumpul sebesar 50 juta. Uang tersebut mereka berikan ke saya untuk modal. Karena saya tidak sekolah dan tidak punya keterampilan, maka uang tersebut saya belikan tanah di dua tempat masing masing sekitar 15 hektar. Lalu tanah yang pertama saya tanami sawit dan tanah satunya saya tanami lada.

Saya boyong anak dan isteri saya ke kebun. Dan saya tidak pulang ke rumah orang tua selama 5 tahun untuk membuktikan bahwa saya benar benar ingin berubah. Alhamdulillah usaha saya berhasil bu..saya bisa membeli rumah dan menyekolahkan anak sampai sekarang ini.” Senyumnya kembali merekah di antara binar mata tua nya. Saya pun merasakan kebahagian yang sama ketika mengetahui peserta didik yang dahulunya nakal namun akhirnya dapat membuktikan diri berhasil membuat prestasi setelah mereka insyaf dan kembali ke jati dirinya.

“Oh ya…selamat ya pak. Pasti anak dan isteri bapak sangat bangga dengan pencapaian bapak saat ini.” Ujarku sambil ikut tersenyum..bangga.

“Isteri saya sudah meninggal 8 tahun yang lalu, saat putera saya masih SMP. Dia kena kangker tulang.” Ujarnya lirih dan senyum merekahnyapun hilang. Saya ikut merasakan  gejolak hati yang sedang berusaha dia redam.

“ Maafkan saya pak…saya tidak bermaksud membuat bapak sedih”. Ujar saya buru buru dengan mengatupkan kedua tangan sebagai bentuk permohonan maaf karena sudah mengingatkan kisah sedihnya kehilangan isteri.

“Tidak apa apa bu…saya hanya sedih karena isteri saya belum merasakan hasil usaha kami selama berkebun ini. Dia cacat gara gara saya tabrak dulu. Dan dia ikut kerja membantu saya saat saya susah dahulu. Dia sudah banyak berkorban untuk saya. Namun kami tidak tahu jika dia mengidap penyakit kangker tulang tersebut. Sempat saya bawa berobat ke Jakarta dan di rujuk ke rumah sakit di Singapura. Namun tuhan berkehendak lain. Dia sudah kembali.” Sekilas saya lihat bapak tua ini berusaha menahan air matanya yang hampir tumpah. Buru buru dia hapus sudut matanya dengan tangan keriputnya yang hitam dan kasar, ciri khas tangan seorang petani.

“Selamat pagi bapak ibu…ada yang bisa saya bantu?” Suara petugas Bank yang renyah tersebut membubarkan kebisuan diantara kami yang sesaat tadi. Karena larut dalam alur cerita sedih sang bapak yang di tinggal pergi isterinya.

Sebelum berdiri menuju kasir saya tatap mata bapak tersebut dengan senyum memberi kekuatan. “Pak…jangan sedih, isteri bapak pasti sangat bangga dengan bapak saat ini. Karena bapak sudah membuktikan bahwa bapak berhasil mengasuh dan mendidik putera bapak sampai sarjana. Dan saya juga berterima kasih karena bapak tidak menyerah dan tetap berusaha membiayai pendidikan putera bapak yang cukup besar tersebut. Insyaallah putera bapak dapat segera menyelesaikan sekolahnya ya pak.” Ujarku tersenyum.

“Iya bu..terima kasih. Oh ya apa nama sekolah dan alamat sekolah ibu yang mengurus anak putus sekolah itu ? tanyanya.

“PKBM az Zahra Kepahiang, kami berada di Kelurahan Padang Lekat-Kecamatan Kepahiang, Pak.” Jawabku sambil berdiri menuju petugas bank yang menunggu untuk melayani setoran.

“Baik bu…insyaallah jika ada waktu dan rejeki lebih saya akan mampir dan membantu anak anak yang sekolah di az Zahra.” Senyumnya sudah kembali. Dan dia pun berdiri menuju kasir sebelah untuk mentransfer uang 14 juta ke rekening puteranya di Yogyakarta. Saat itu pukul 08.00 wib. Lima belas menit yang penuh cerita dan menginspirasi kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × 1 =